Bank Prancis Diretas, Hacker Gasak Rp14,18 Triliun!

Jumat 06-11-2026,19:15 WIB
Reporter : Derry Sutardi
Editor : Derry Sutardi

"Kami melihat banyak serangan canggih yang menargetkan lapisan aplikasi serta serangan rekayasa sosial yang menyasar institusi perbankan," kata Baloch.

Menurutnya, pelaku kejahatan siber kini semakin mampu memanfaatkan celah keamanan dalam sistem digital. Serangan tidak hanya dilakukan dengan membobol jaringan, tetapi juga bisa melibatkan teknik manipulasi untuk memperoleh akses ke sistem yang seharusnya terlindungi.

Pandangan serupa disampaikan Managing Director Nardello & Co di Paris, Puneet Kakkar. Ia menyebut keberhasilan peretasan terhadap institusi keuangan besar merupakan peristiwa yang jarang terjadi dan harus dipandang sebagai persoalan serius.

"Setiap kali terjadi serangan terhadap sistem keuangan, itu merupakan masalah besar," ujar Kakkar.

Kakkar menjelaskan, bank-bank di Prancis pada umumnya telah menerapkan sistem keamanan siber yang kuat karena harus memenuhi berbagai ketentuan regulasi. Namun, perkembangan metode serangan membuat lembaga keuangan tetap menghadapi risiko.

Para pelaku kejahatan siber dinilai semakin oportunistis dan kreatif dalam mencari celah untuk menjalankan aksinya. Artinya, sistem keamanan yang kuat sekalipun tetap membutuhkan evaluasi dan pengawasan secara berkelanjutan.

BACA JUGA:Tak Lagi 50 Persen! Pemerintah Ubah Aturan DHE SDA, Kini Penukaran Valas Tembus 100 Persen

Kasus pencurian dana Credit Mutuel Arkea kini juga masuk dalam penanganan aparat penegak hukum Prancis.

Kantor Kejaksaan Paris mengonfirmasi bahwa unit kejahatan siber telah menerima laporan pengaduan dari pihak bank pada Rabu (4/11/2026). Setelah laporan diterima, otoritas langsung membuka penyelidikan yang dipimpin oleh kepolisian khusus kejahatan siber Prancis.

Credit Mutuel Arkea juga telah melaporkan insiden tersebut kepada sejumlah lembaga berwenang, termasuk Bank Sentral Eropa atau European Central Bank (ECB), otoritas pengawas perbankan Prancis, serta kejaksaan.

Meski proses investigasi sudah berjalan, pihak bank belum bersedia mengungkap identitas penyedia layanan pihak ketiga yang platform-nya diduga digunakan dalam serangan tersebut.

Sementara itu, regulator perbankan Prancis, Autorité de Contrôle Prudentiel et de Résolution (ACPR), memilih tidak memberikan komentar terkait kasus ini.

Penyelidikan diharapkan dapat mengungkap bagaimana pelaku memperoleh akses menggunakan akun Credit Mutuel Arkea, bagaimana transaksi penipuan dilakukan, serta ke mana aliran dana sebesar 700 juta euro tersebut bergerak setelah berhasil dicuri.

BACA JUGA:Drama Korea Nine to Six Tayang 25 November 2026, Ini Sinopsis dan Daftar Pemainnya

Kasus Credit Mutuel Arkea kembali menjadi pengingat bahwa sektor keuangan merupakan salah satu target utama kejahatan siber. Seiring meningkatnya penggunaan layanan digital, potensi serangan terhadap sistem perbankan juga semakin berkembang.

Regulator keuangan di berbagai negara bahkan terus memperkuat peringatan mengenai risiko serangan siber. Perhatian khusus juga diberikan terhadap perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang berpotensi dimanfaatkan untuk menyusun serangan lebih canggih.

Kategori :