Reputasi Segalanya

Sabtu 21-05-2022,04:00 WIB
Oleh: Dahlan Iskan

PRESIDEN Jokowi tinjau pasar. Cek minyak goreng. Dua hari lalu.

Perasaan publik langsung meraba: larangan ekspor CPO pun pasti dicabut. Segera. Apa pun hasil peninjauan itu.

Benar. Anda pun segera tahu. Tidak sampai 24 jam kemudian larangan ekspor CPO dicabut.

Presiden sendiri yang mencabutnya. Umur larangan itu lebih panjang sedikit dari langkah serupa di batu bara: 25 hari. Tidak ada yang berani mencoba mencabut sebelum itu.

Ups...pernah.

Ia adalah Menko Perekonomian Airlangga Hartanto. Ia tidak mencabut tapi sedikit bersiasat: yang dilarang hanya bahan baku minyak goreng. Tidak termasuk CPO.

Siasatnya itu ternyata menyesatkannya. Justru ia kena skak mat. Langsung dari Presiden Jokowi. Saat itu juga.

Kini drama minyak goreng berakhir.

Pencabutan larangan ekspor itu memang satu keniscayaan. Pun seandainya harga minyak goreng tidak bisa di level Rp 14.000/kg.

Larangan itu, kalau diterus-teruskan, buntutnya memang panjang. Bisa lebih panjang dari rambut Yuli Leli Herdiyanti –yang Anda sudah tahu siapa dia. Bahkan lebih panjang dari rambut Beatrice Anggraini Pramana.

Buah sawit itu –Anda juga sudah tahu– harus dipanen 15 hari sekali. Kalau tidak, sawit akan rontok sia-sia.

Dari pada sia-sia petani menjual paksa. Biar pun harga lebih murah. Itulah yang membuat harga sawit terus menurun. Terakhir tinggal sekitar Rp 1.600/kg. Dari sebelum larangan sapu jagat yang mencapai Rp 2.400/kg.

Pohon sawit mulai berbuah di tahun ke-3, tapi baru berbuah bagus di tahun ke-5. Lebih bagus lagi di tahun ke-8, sampai tahun ke-33. Setelah itu produktivitasnya terus menurun. Harus diremajakan.

Saya pun belajar ke Tini Lolang. Pemilik kebun sawit beberapa hektare di Kaltim. Dari mana Tini, lulusan Amerika, tahu sawit itu sudah matang –sudah waktunya dipanen?

Ada tanda-tanda alamnya. Kalau di bawah pohon sudah ada sekitar 10 biji yang jatuh sendiri (gogrog), itulah saatnya dipanen.

Tidak perlu ada yang naik pohon. Cukup pakai tongkat. Yang di ujung tingkat itu dipasangi 'pisau'. Benda tajam itu menghadap ke atas.

Saya kenal ayah Toni. Pemilik gedung bioskop terbanyak di seluruh Kalimantan. Juga produsen film Kejarlah Daku, Kau Kutangkap'. Bisnis bioskop itu kena tsunami Studio 21. Ludes.

Saya kaget. Pulang dari Amerika yang riuh, Tini tinggal di kebun sawit nan sunyi.

Tini bisa memanen sawit. Pelepah yang melindungi tangkai tandan itu disodok  oleh pisau bertongkat tersebut. Sekali sodok  pangkal pelepah itu putus. Saking tajamnya bukan hanya pelepah yang teriris. Sekalian juga tangkai tandan yang ada di balik pelepah itu.

Jatuhlah tandan sawit itu. Gedebug. Beberapa biji sawit lepas dari tangkai. Berhamburan. Yang tetap di tangkai lebih banyak.

Tandan itu dinaikkan truk. Yang berserakan di tanah, dikumpulkan belakangan.

Begitulah tiap 15 hari dipanen. Sesekali ditemukan satu pohon sawit bisa dipanen dua tandan sekaligus.

Mutu sawit yang dipanen itu tergantung kualitas pemeliharaan. Termasuk pemupukan. Harga pupuk naik. Harga BBM idem. Biaya pemeliharaan meroket. Harga sekitar Rp 1.600/kg itu tidak bagus lagi.

Harga bahan baku minyak goreng tidak lagi murah. Maka harga Rp 14.000/liter  tidak bisa lagi diturunkan. Pun lewat mekanisme pasar. Juga lewat mekanisme sapu jagat.

DMO dan DPO adalah mekanisme yang sudah sangat baik. Hanya perlu diawasi yang baik. Ditambah BLT bagi rakyat miskin. BLT minyak goreng.

Terima kasih krisis. Anda telah membuat rakyat tahu istilah-istilah seperti DMO dan DPO. Saya tidak perlu menulis kepanjangannya.

Hebatnya, DMO –keharusan  untuk memenuhi jatah kebutuhan dalam negeri– minyak goreng ini bisa untuk swasta dan perorangan. Di batu bara DMO itu hanya untuk PLN. Maka menteri ESDM mestinya juga harus adil: DMO batu bara bisa untuk siapa saja yang memproduksi listrik bagi kepentingan dalam negeri.

Titip misi. Apa boleh buat.

Bisakah reputasi Presiden  Jokowi segera pulih setelah sapu jagat dimasukkan kembali ke saku?

Petani sawit awalnya memuja Presiden Jokowi. Terutama atas kebijakan mendorong sertifikasi tanah 2 hektare milik petani sawit. Juga atas pemberian kredit kecil itu –meski sudah lima tahun plafon kreditnya tidak naik. Larangan ekspor sapu jagat kemarin telah membuat jasa sertifikasi itu tenggelam ke dasar kolam.

Dan kini kolam itu lagi dibersihkan. Pencabutan larangan ekspor CPO itu membuat keluhan petani sawit akan berakhir. Mestinya. Toh belum sangat telat.

Yang mengejutkan adalah perkembangan di sektor hukumnya: Lin Che Wei ditahan.

Nama ini pernah sangat terkenal di awal reformasi. Ia berada di barisan ''harapan baru dari generasi baru bangsa''.

Reputasi Lin Che Wei bisa disejajarkan dengan Kwik Kian Gie. Menang muda. Ganteng. Agak tambun.

Seperti Kwik, Che Wei sangat kritis. Terutama pada praktik bisnis yang tidak jujur. Ia pengkritik keras grup Lippo. Seperti juga Kwik. Che Wei sampai digugat Lippo lebih Rp 100 miliar.

Waktu itu Che Wei menganalisis gerakan grup konglomerat itu yang akan menguasai kembali Bank Lippo. Che Wei mampu mengumpulkan informasi dari dalam pasar modal.

Bank Lippo diambil alih pemerintah setelah krisis moneter 1998. Waktu itu Bank Lippo dianggap menggunakan dana talangan Bank Indonesia untuk grupnya sendiri. Sebesar Rp 450 miliar.

Akhirnya di tahun 2004 Bank Lippo ditebus oleh sebuah lembaga keuangan Eropa. Grup Lippo lewat PT Lippo E-net masih memegang saham 5,7 persen.

Setahun kemudian grup Khasanah Malaysia membeli Bank Lippo itu sepenuhnya. Waktu itu Khasanah sudah memiliki bank di Indonesia: CIMB-Niaga. Yakni ketika Bank Niaga dibeli CIMB Malaysia milik Khasanah.

Kelak di tahun 2008, Bank Lippo merger ke dalam bank CMB Niaga. Sejak itu nama Bank Lippo lenyap.

Kala itu Malaysia dianggap kalah pintar dengan Singapura. Khususnya di saat  Indonesia lagi obral bank. Singapura dianggap berhasil mendapat daging-dagingnya. Malaysia tinggal dapat tulangnya. Tulang Lippo.

Saya seperti tidak percaya Che Wei jadi tersangka. Tapi berita itu bukan hoax.

Dari pernyataan Kejagung selama ini, mereka yang ditangkap adalah yang dianggap melanggar  UU Perdagangan. Namun kemudian pasal yang disangkakan pasal 2, pasal 3, pasal 18 UU Tipikor.

Saya lihat wajah Che Wei tenang. Saat diborgol. Ia seperti punya keyakinan tidak bersalah.

Saya kenal ia. Dulu. Ketika masih sering menugaskan wartawan untuk mewawancarainya. Ia analis pasar modal yang andal. Analis keuangan yang brilian. Ia penulis yang produktif. Ia pembicara seminar ekonomi yang tangkas. Pandangannya tajam. Kritis. Hanya tidak tengil seperti Kwik Kian Gie.

Saya menghubungi Kwik kemarin. Untuk saling tukar info tentang Che Wei. Tidak tersambung. Dua pekan lalu, ketika saya bicara soal Guntur  Soekarnoputra Kwik masih semangat. Hanya saja ia mengaku sudah tidak bisa tiap hari dansa. Ia mengaku lagi sakit.

Tapi bahwa Che Wei sampai ditahan saya khawatir ada yang serius. Chei Wei adalah konsultan. Termasuk konsultan tiga perusahaan sawit yang dianggap melanggar larangan ekspor CPO itu.

Anda sudah tahu: Che Wei juga konsultan banyak pejabat tinggi. Sejak awal reformasi. Terakhir masih menjadi konsultan menteri perdagangan. Itu menurut Kejagung.

Tapi Kejagung juga sudah meneliti: sejak Januari 2022 Che Wei tidak punya jabatan apa pun di Kemendag. Saya merenungkan dunia birokrasi kita: jangan-jangan hanya karena SK-nya masih lupa, belum diperpanjang.

Apa pun di mata Kejagung Che Wei adalah orang luar. Tapi ia masih sering ke Kemendag dan memengaruhi kebijakan di situ.

Entahlah. Memang belum jelas benar posisi Che Wei dalam pusaran perkara ini. Yang jelas Dirjen Daglu, Indrasari Wisnu Wardhana, masih di dalam tahanan. Demikian juga Master Parulian Tumanggor, komisaris PT Wilmar Nabati Indonesia. Juga, Stanley MA,  manager senior Permata Hijau Grup (PHG). Dan,  Picare Tagore Sitanggang, GM PT Musim Mas.

Kasus ini kelihatannya tidak berat. Tapi karena ini menyangkut reputasi Presiden Jokowi –yang sampai membuat ratingnya turun lebih 10 persen– bisa jadi ini sangat serius.

Dan reputasi adalah segala-galanya bagi Presiden Jokowi. Rasanya. Kalau tidak salah. (Dahlan Iskan)

Komentar Pilihan Dahlan Iskan di Tulisan Berjudul Monas Lokal

Er Gham
Level mereka cenderung di tingkat kabupaten. Sehingga jarang terdengar sampai pusat. Tapi orang di daerah tahu bahwa daerah mereka dikuasai keluarga tertentu. Misal kakaknya menjadi bupati, adiknya ketua DPRD kabupaten, sekaligus ketua cabang partai politik A, anaknya kontraktor besar, istrinya pemilik perkebunan X ribuan hektar, sepupunya pemilik tambang di area M dan N. Hotel dan pusat perbelanjaan kadang juga dimiliki mereka. Tidak ada larangan dan melanggar aturan memang. Hanya yang penting ada transparansi pada proses lelang proyek.

Robban Batang
Jangankan nulis buku,nulis resensi buku saja tidak sempat. Bukan puasa kemarin saja artikelnya 'duniawi' semua . Kalau Artikel semacam Suluk Pencuci Hati di bulan Suci tidak terjadi ,bagaimana di bulan-bulan 'biasa'. Eling umur ,Bah.Pikirkan untuk meninggalkan warisan artikel yang 'Abadi'.Masterpiece.

Budi Utomo
Monas (Monumen Nasional). Sukarno. Lingga Yoni. Coba google dengan 3 keywords tsb. Sayang Leong Putu sudah pamitan. Tapi agama Hindu kuno ini memang bersifat sangat alamiah/natural dan tidak ada maksud ke arah porno seperti yang dibayangkan manusia modern. Konon obelisk di Mesir juga lambang dari lingga. By the way, Romawi yang pertama kali memindahkan obelisk dari Mesir, salah satunya di Vatican. Inggris dan Amerika juga memindahkan obelisk setinggi 21 m ke London dan New York. Konon obelisk itu membuat ekonomi di tempatnya berdiri menjadi maju. Konon lho ya. Google dengan keywords List of Egyptian Obelisk. Jakarta dengan Monas apakah terkait dengan ekonomi Indonesia? Entahlah. Faktanya uang berputar paling banyak di Jakarta. Apalagi dengan menjamurnya obelisk modern. Gedung-gedung pencakar langit. Yang menurut orang Kristen itu sama saja dengan Menara Babel yang menyebabkan Tuhan marah lalu konon sejak itu manusia diceraiberaikan dengan berbagai bahasa yang berbeda. Entah mengapa seluruh negara di dunia seolah berlomba mendirikan pencakar langit setinggi mungkin. Padahal paling rentan ditabrak pesawat seperti peristiwa 911 WTC. Ups. Terakhir, jangan coba-coba google dengan keyword Kanamara. Itu benar-benar pemujaan lingga yang sangat vulgar di Jepang.

Budi Utomo
Lha khan sudah jelas Rang-kayo yang menang. Kata Lukman Bin Saleh mengutip Abah, ada tiga yang tak bisa atau tak boleh dilawan : atasan, rang kaya, rang gila. Rang Kayo sawit bermukim di negara Rang Kaya: Singapura. Invicible. Tak terkalahkan. Katanya. Buktinya? Ada rang yang sakit hati karena ditangkal masuk Singapura lalu punya ide gila nenggelamin Singapura dengan dikencingin rame-rame, toh Singapura cuma ngakak dalam hati. Soalnya doi ga tahu kalau di Singapura air got yang tercemar air kencing pun bisa diolah menjadi air minum. Ide gila kalah sama ide orang kaya. Karena orang kaya akal bulusnya lebih banyak, kayak maling yang seringkali lebih pintar ketimbang polisi.

Agus Munif
Asu= aku suka uang. Assu= anda sangat suka uang

Muin TV
"Jabatan ketua DPRD Kaltim sudah di ujung sendok. Tapi sayang, sendoknya bengkok. Gubernur Isran Noor yang membengkokan sendok itu." Katanya. Dulu... Yang suka membengkokan sendok itu Dedy Corbuser. Sekarang gubernur Kaltim pun ikut-ikutan membengkokan sendok. Hadeuuhhh....

No Name
Gadis matang sedap dipandang,,, Ada yg ranum untuk dipegang,, Awas mata kumbang memandang,,, Bersiap untuk datang,,, Tak sabar untuk bertandang,,, Membawa setangkup sirih kapur dan pinang,,, Merangkai jari adik tersayang,,, - Mr. Xi (Pujangga Kesiangan)

Mbah Mars
Lha katanya kopi dan susu itu tidak akur ? Kopi ngajak melek. Susu bawaannya bikin kngin tidur. Piye Mr. Xi ?

No Name
Jadi ingat iklan di tv puluhan tahun lalu, isinya beberapa petinggi partai tertentu ramai ramai bilang "Katakan TIDAK pada......."

Mito Sumito Hardjo
Cerita penguasa Kaltim persis sama dengan Banten. Seperti kanker, akarnya sudah sudah menjalar ke seluruh propinsi. Sempat tiarap sejenak ketika ada yang terkena garuk KPK, setelahnya balik kucing lagi.

Mister Xi
Dalam stand_up comedy,,, ada istilah callback,,, menciptakan kelucuan dgn memanggil kembali premis yg sudah ia sampaikan,,, Di sini,,, Abah juga membuat CALLBACK,,, bahkan sebagai solusi,,, dengan pura2 bertanya,,, padahal sudah tahu jawabannya. Elon Musk dan Kiai Jazuli yang merupakan dua tokoh,,, dalam dua tulisan sebelumnya,,,, yang juga sama2 pecinta kaos oblong,,, dihadirkan kembali,,, tanpa mantra tanpa jampi,,, Elon Musk sebagai solusi,,, kelak ketika Elon ke Indonesia,,,, memenuhi undangan Mr. Jokowi,,, pak Hamdan bisa berdiskusi dengan opung Luhut,,, untuk melobi Elon Musk,,, invest di Penajem Paser Utara,,, asal jgn bikin pabrik Ban aja,,, wkwkwk,,, Kiai Jazuli sebagai solusi,,, Urusan ruwat meruwat,,, ruqyah,,, suwuk,,, pertaubatan,,, pengakuan dosa,,, tentu Rohaniawan dan Tokoh Agama adalah jawabannya. Tabik,,, Rahayu,,, (Mr. Xi)

Johannes Kitono
Bupati Gafur belum menjelaskan untuk apa uang Rp 1 mily yang mendadak dibutuhkannya saat di Jakarta. Sebagai Bupati yang merangkap Ketua Partai Demokrat, perlu selalu didampingi seorang wanita. Diangkatlah Balqis yang wajahnya pasti lumayan dipandang sebagai Bendahara. Now muncul perkara. Uang pinjaman kontraktor ke korpri diserahkan ke Bupati via bendaharanya dan tertangkap KPK di Jakarta. Masalah hukum Bupati Gafur pasti sudah ditangani kuasa hukum Dinasti Mas' ud. Tetapi uang Rp.1 mily pinjaman Korpri gampang gampang susah solusinya. Gampangnya : Balqis pasang iklan sekaligus pasang badan. Siapa saja yang bersedia mengembalikan pinjaman Rp.1 mily ke Korpri boleh menikah dengannya. Susahnya : Balqis mana mau kalau Rp.1 mily pinjaman untuk Bupati Gafur itu ternyata bukan untuk dia.. Now, silahkan Korpri nangis bawang Bombaylah.

Budi Utomo
Kadang saya ingin ada lelaki yang punya nyali gedhe seperti Susi Pudjiastuti yang terkenal dengan satu kata yang membuat para pemilik kapal ikan dari berbagai negara gemetar ketakutan: TENGGELAMKAN! Sayang Srikandi satu ini kemudian keluar dari barisan jagoan Pendawa. Konon berantem dengan Dwarapala yang Anda Sudah Tahu siapa. Ups. Sulit memang untuk memilih antara Dwarapala dan Srikandi. Tapi toh akhirnya Srikandi yang dibuang. Sayang. Mengapa? Karena belum ada Arjuna di barisan Pandawa saat ini. Padahal yang harus dihadapi 100 Kurawa dengan seribu satu akal bulusnya. Salam. Budi Utomo

Juve Zhang
Tidak perlu IQ 150 plus untuk memahami alur cerita aliran dana , dalam organisasi jelas harus ada tanda tangan Ketua dan Bendahara untuk keluar duit ,dalam cerita ini 1 milyar, karena lokasi di Jakarta, sudah jelas kemana " upeti" 1 milyar akan di "hidangkan". Balqis sebagai Bendahara masih terlalu muda 23 tahun untuk mengenal " kejamnya" aturan Keras Organisasi Parpol, dipikirnya ini oraganisasi PKK ibu ibu wkwkwkwkwwk.

Ahid Hidayat
Abah, kasus penulisan kata 'elit' hampir sama dengan penulisan 'urin': suka lupa fonem 'e'. Penulisan yang sesuai dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah 'elite'.

bagus aryo sutikno
Nyuwun sewu nderek prikso boss Dahlan. Uang 1 milyard itu cukup ndak u sekali upacara Baijiu..? Kwkwkwkwkw

edi hartono
Udah nulis komen panjang2, ketika send dijawab: Network Sedang Sibuk. Di reload tetap Network sedang sibuk. Di back tetap sama. Waduh. Copy paste gak bisa jd komen gak sempat disimpan. Padahal jempol sdh keriting, wkwkk.

Abu Abu
Masalah mumet. Ruwet. Saya tak sanggup mikir solusinya. Banyak pikiran. Sampai sekarang saya masih penasaran, tahi kambing bulat-bulat siapa yang nyetak?

Pryadi Satriana
Wk ..wk .. wk. Jokowi kurang cerdas? Dasarnya apa bilang begitu? Saya rasa 'sudah bonek' , tapi 'kurang wani' (baca: nekatnya 'tanggung'), maklum, anak & menantu sdh terjun politik, jadi harus 'berhitung sana-sini'. Akhirnya berlaku 'AMBAK' (Apakah manfaatnya bagiku?) - ungkapan dalam buku 'Quantum Teaching' - yg mungkin pernah Mas Lukman baca. Salam.

Tom Hardy
Sisi kelam vendor yg berbisnis dengan BUMN adalah pembayaran tagihan yg lama hingga berbulan2 sampai bertahun2 bahkan ada yg dijanjikan dgn term sementara hingga sementahun. Ini yg bikin vendor ngeluh, istilahnya UCET TERI (Uang Macet, Tender Ribet). Traumatis akan hal ini bisa bikin vendor jeri. Apalagi klo tiba2 rilis surat pailit, bisa2 bunuh diri.

Mister Xi
BNI akuisisi Bank Mayora,,,, Wahh menarik ini,,, apakah ini gegara kopiko??? Mungkin Aji si Tukang Candle stick bisa menjelentrehkannya,,

Agus Suryono
ROKET MELEDAK DI KPK, KROKET MELEDAK DI PERUT.. Roket meledak di KPK karena ada unsur korupsi. Jika dibelikan kroket, seratus milyar, meledak di perut.. @kuwaregen hasil korupsi..

Udin Salemo
Di Sulawesi Selatan ada klan keluarga Yasin Limpo. Anak-anak Pak Yasin Limpo hebat semua. Bahkan sampai ke cucunya jadi orang hebat. Di Kalimantan Timur ada klan keluarga Mas'ud. Juga hebat. Sampai ada anggota keluarga yang tertangkap kpk, itu mungkin hanya "tergelincir" tak paham irama musik permainan, hehehe.... Kedua klan keluarga itu Bugis? Kalau iya, hebat orang Bugis. Keluarga mereka struggle & fight untuk meraih kecermelangan. Tanpa embel-embel nama besar bapak atau kakeknya. Salut. @Akagami Shanks: pegas ijo royo-rojo, begitu juga buka dan goto. Mantab.

Juve Zhang
Ada yg" mengejek" jagoan ku ROYCE Gracie kurus kerempeng Dengan kebijakan larang ekspor migor terus buka lagi , mencoba mencle katanya, berdasarkan informasi" intelijen" saya bisa sampaikan jagoan ku konsisten bela rakyat kecil, tapi semua negara Eropa kelimpungan sama langkah ROYCE Gracie ini, akhirnya minta tolong paman Bison untuk " memberikan " nasehat kemanusiaan" bagi rakyat Eropa sebagai imbalan balik kehadirannya di G20 Bali. Win win solusi kata OmJin Ping.

Dodik Wiratmojo
Usul sama kpk, istilah koruptor diganti maling, sy yakin korupsi akan menurun, si maling juga nggak akan cengengesan di dpn media

bitrik sulaiman
Kalau maling nanti dikeroyok rame-rame di jalanan.

Johannes Kitono
Asal uang Korpri adalah uang pegawai negeri dan yang berhak meminjam adalah mereka yang berstatus pegawai negeri. Apakah kontraktor yang meminjam itu juga pegawai negeri disana. Kasihan Balqis yang bendahara Partai harus ikut memakai jaket jangga KPK. Terpaksa atau dipaksa solider dengan Ketuanya.

Lukman bin Saleh
Boleh sj anda membuat hukuman berat untuk pelaku kriminal. Tp asal anda ketahui. Bukan itu resep yg paling efektif untuk menekan kejahatan. Yg paling efektif adalah meningkatkan kesejahteraan. Seberat2 hukuman, tembak d tempat sekalipun. Rakyat yg lapar akan nekat berbuat jahat. Tp seringan2 hukuman, jika rakyat sejahtera. Kejahatan akan hilang dg sendirinya. Lihatlah negara2 eropa yg makmur itu. Penjara mereka sampai d sewakan krn bnyak yg kosong. Begitulah. Mengatasi sebab musabab satu persoalan jauh lebih penting dr ancaman atau hukuman. Begitu juga dlm kasus korupsi ini. Baiklah kita teriak2 agar hukuman koruptor d perberat. Tp seberat2 hukuman, itu tdk akan memberi efek yg memuaskan jika akar masalah blm d selesaikan. Selama sistem politik yg rumit dan mahal ini kita pelihara, selama itu pula koruptor tetp merajalela. Mereka butuh balik modal. Mereka butuh laba. Mereka d "peras." Dan gaji tdk seberapa untuk membiayai semua itu...

Mirza Mirwan
Mongomong soal korupsi saya teringat kelakar Adik (putri kecil saya) beberapa tahun yang lalu, saat masih belajar Ilmu Hukum di Undip. Katanya, memberantas korupsi itu sebenarnya gampang. Cabut UU Tipikor, ganti dengan UU yang radikal. Korupsi di bawah 500juta dihukum sekian tahun plus dipotong jempol kiri dan jidatnya diberi stigma "koruptor" -- stigma dalam arti awal, besi panas ditempelkan ke kulit. Korupsi di atas 500juta sampai satu milyar ditambah potong jempol kanan dan stigma koruptor juga. Korupsi di atas satu milyar ditambah stigma dan potong jempol kanan-kiri. Dengan cara itu pasti indeks persepsi korupsi (CPI) Indonesia tak terpaut jauh dari Norwegia, Finlandia, Denmark dan Selandia Baru. Setidaknya dari Singapura. Hanya saja, UU Tipikor yang radikal seperti itu mustahil dibuat. Kalaupun, misalnya, pemerintah punya keberanian untuk membuatnya, jelas tuan dan puan yang terhormat di Senayan tidak mungkin meloloskannya.

 

 

Kategori :