Solar, Curah

Jumat 08-04-2022,04:00 WIB
Oleh: Dahlan Iskan

SAYA menerima kiriman humor ini tidak hanya dari satu pengirim. Setiap kali mau tersenyum, saya tahan: ini memang humor, tapi tidak untuk ditertawakan. Bacalah sendiri:


--

Di TV, sepanjang hari kemarin –dan hari sebelumnya– memang banyak disiarkan berita orang antre: minyak goreng curah dan antre minyak solar.

Contoh antrean solar yang membuat saya sulit tersenyum adalah yang di Surabaya ini. Dua wartawan Harian Disway –Salman Muhiddin dan Celina Natalis Sitorus– menulis mirip di humor tersebut –tapi terjadi beneran.

Sebanyak 1.000 kontainer terlambat tiba di pelabuhan. Kapal-kapal yang akan dinaiki kontainer itu sudah telanjur berlayar.

Ternyata truk yang mengangkut kontainer itu masih bermalam di berbagai stasiun pompa bensin –SPBU. 

Tidak cukup solar di berbagai SPBU di Jatim. 

Pembelian solar dibatasi hanya Rp 100.000.

Truk pengangkut kontainer merasa lucu, tapi hanya bisa menggerutu. Dengan solar seharga Rp 100.000, bisa-bisa truk justru kehabisan solar di suatu tempat yang jauh dari SPBU.

Sang sopir pilih mencari tempat minggir tidak jauh dari SPBU. Sopir lain pun bersikap sama: menunggu solar datang. 

Malam pun tiba. Sambil antre, sopir dan kernet tidur bergantian –salah satu menunggu muatan agar tidak dicuri orang. Atau dijaili orang usil.

Malam pun meneruskan gelapnya sampai melewati dini hari. 

Ada pemilik barang yang tidak sabar: banyak konsumen yang menunggu barang itu. Beras. 

Maka, pemilik barang mengirim mobil pikap ke lokasi antrean truk. Sebagian beras dibongkar di situ. Pindah dari truk ke pikap. Dengan tambahan biaya.

Waktu bulan lalu saya melihat banyak antrean truk di sepanjang jalan dari Lampung–Baturaja–Enim–Linggau sampai Bengkulu, kelihatannya damai-damai saja. Tidak ada yang seperti digambarkan di humor tersebut. Tapi, begitu antrean terjadi juga di kota besar seperti Surabaya, ternyata akibatnya begitu berantai.

Apalagi, Salman dan Natalia berhasil juga mendapat keterangan dari Pertamina setempat. Antrean solar itu terjadi, ternyata, karena truk tangki pengangkut solar dipakai untuk mengatasi antrean di Pertalite.

Pertamina, katanya, punya kebijakan baru di hari itu: mengerahkan truk-truk tangki untuk mengangkut Pertalite. Itu sebagai antisipasi melonjaknya permintaan Pertalite –setelah harga Pertamax dinaikkan.

Saya lupa berapa harga Pertamax yang baru –lalu dipaksa ingat Rabu kemarin: ketika dari Semarang harus mampir ke Selo, kecamatan di selangkangan Gunung Marapi dan Merbabu di Boyolali. Saya kehabisan bensin. Lalu, ada Pertamini di pinggir jalan –pompa bensin milik perorangan.

Pompa bensinnya diletakkan di depan toko. Unitnya persis di SPBU –tapi hanya satu unit. Sistemnya juga sudah digital. Persis di SPBU Pertamina.

Harga Pertamax di situ: Rp 13.500/liter. Kami beli Rp 200.000 saja –cukup sampai SPBU Pertamina. Kami ingin tahu berapa harga baru di SPBU: Rp 12.500/liter.

Meski unit Pertamini itu sama dengan yang ada di Pertamina, asal-usul Pertamax-nya yang berbeda. Pemilik Pertamini ternyata membeli Pertamax pakai jeriken. Lalu, dituangkan ke unit yang serbadigital itu. Fungsi alat modern tersebut tidak lebih seperti corong minyak yang terbuat dari seng.

Saya tidak pernah mengecam kenaikan BBM –di saat harga minyak mentah memang begitu tinggi. Tapi, antrean yang sampai membuat begitu banyak kontainer ketinggalan kapal betapa keuntungan di hulu sangat merugikan di hilir.

Tapi, mengapa masih ada antrean minyak goreng curah?

Bukankah pemerintah sudah memilih cara BLT –bantuan langsung tunai? Agar orang miskin tetap mampu membeli minyak goreng kemasan yang harganya naik?

Mungkin karena BLT-nya baru akan diberikan hari ini –atau besok.

Apakah lusa tidak akan ada antrean lagi karena mereka sudah mampu membeli minyak goreng premium dengan uang BLT?

Kita lihat saja: sambil menunggu siapa sebenarnya pembeli minyak goreng curah itu. Apakah uang BLT Rp 300.000 untuk tiga bulan itu juga dibelanjakan untuk membeli yang curah. Karena uang BLT tidak beda dengan uang biasa, tentu tidak bisa mengetahuinya.

Rasanya sepanjang harganya masih lebih murah daripada premium, minyak curah masih akan tetap diminati. Sekaligus bisa dipakai mengecek apakah itu pertanda daya beli masyarakat menurun.

Selamanya harga minyak curah memang akan lebih murah. Biaya membuat minyak goreng curah memang lebih murah. Pengusaha menengah mampu membuat pabrik minyak goreng curah. 

Ada satu proses yang tidak perlu dilakukan di produksi minyak curah: deodorisasi. Juga, tidak perlu ada investasi mesin pengemas. Pun, tidak membeli plastik kemasan yang mahal.

Bahan baku minyak premium dan minyak curah sama: sama-sama CPO. Yakni, minyak sawit dari hasil pemerasan buah sawit. 

Warna cairan CPO itu masih oranye kecokelatan.

CPO itulah yang dikirim ke pabrik minyak goreng. Untuk diproses sebanyak tiga tahap. Pertama, dilakukan degumming –dibersihkan dari kotoran-kotoran yang karena begitu kecilnya sulit dibuang dengan saringan. Kedua, di-bleaching, dicuci. Ketiga, dideodorisasi –untuk membuat warna lebih cling dan aroma lebih gurih.

Minyak curah tidak perlu proses yang ketiga itu. Tapi, tetap mengandung beta karoten yang bisa menjadi vitamin B, mengandung provitamin A dan provitamin C. Artinya, badan akan bisa mengolahnya menjadi vitamin A dan C.

Proses pertama dan kedua tetap dilakukan. Hanya saja, kadar kotorannya tidak sebersih premium. Kadar pencuciannya pun lebih rendah. Lalu, tadi itu, tanpa deodorisasi.

Tidak ada industri besar yang membuat pabrik untuk minyak curah. Semua minyak curah produksi pabrik kecil. 

Akhirnya, minyak goreng curah itu akan dianggap sama mutunya dengan minyak premium –kalau ada yang nakal: membeli minyak curah, dikemas secara baik, lalu dijual dengan harga minyak premium. (*)

Komentar Pilihan Dahlan Iskan di Tulisan Berjudul Planetarium Walisongo

mzarifin umarzain
Tujuan meru'yah di zaman nabi s.a.w.adalah untuk memastikan apakah sudah ada hilaal/qomar muda sewaqtu matahari terbenam. Itu dilakukan karena belum ada jadwal ijtimaa'/konjungsi/new moon. Definisu ru'yah sendiri adalah usaha untuk melihat/Mengetahui posisi hilaal/qomar setelah ijtimaa' di waqtu kapan pun. 1 peiode bulan/syahr adalah dari ijtimaa' ke ijtimaa: berikut nya. Setelah ijtimaa' berarti sudah masuk bulan romadhoon, bila itu ijtimaa' awwal romadhoon. Setelah kini ada jadwal ijtimaa', maka ru'yah, melihat hilaal secara langsung tak diperlulkan lagi. Cara ini disebut: Ijtimaa Qobla lFajri. Bila ijtimaa' terjadi di siang hari, saat ijtimaa' harus mulai berpuasa romadhoon. Kalau mau tepat lihat bulan saat ijtimaa', bisa memakai teleskop laser

DeniK
Kuncinya ada di dua ormas.asal kedua ormas tersebut sepakat tidak akan ada lagi beda awal puasa dan beda hari lebaran.saat ini seperti punya jargon " sing penting beda".

Kak Idam
Aku juga punya planetarium pribadi di rumah. www.stellarium.org

Sri Wasono Widodo
Planetarium : gedung teater untuk mensimulasikan pergerakan benda benda langit. Observatorium: gedung yang dilengkapi perengkapan teleskop besar untuk mengamati pergerakan benda benda langit. Fasilitas yabg dimiliki UIN Walisingo adalah untuk MENGAMATI dan SIMULASI pergerakan benda langit, sehingga nama lengkapnya planetarium dan Observatorium UIN Walisongo

Aji Muhammad Yusuf
Dan ketika melihat pergerakan elit politik sepertinya sudah mulai pada melakukan konsolidasi secara agresif wkwkwkwk

Harun Purnomo
Saat puasa waktu terasa lambat,satu jam serasa enam puluh menit. Dan satu menit terasa seperti enam puluh detik.

Amat Kasela
Waw! Benar-benar fakta yang sangat mencengangkan. Anda yang biasanya sudah tahu mesti tahu ini: ketika tangan dimasukkan ke api yang menyala, kita akan merasa kepanasan. Silakan memcoba!

Liam Then
Dan saya baru sadar, ternyata ada pasar untuk mie instant harga 17rb per bungkus. Bukankah beli nasi bungkus lebih kenyang? Lauknya lebih banyak lagi. Fakta unik 10 kilogram kotoran sapi yang sudah di bakar dengan tanah, bisa seharga 5 kilo kangkung.

Suhan Al-Fasuruanie
Nyoba komen mungkin dapat THR

bagus aryo sutikno
Silahkan anda ke makam pahlawan Surabaya, di seberangnya anda akan mendapat THR. Taman Hiburan Rakyat.

Amat Kasela
Iyah. Mo puasa tanggal 2 Maret atau 3 Maret, ndak terlalu penting. Yang paling penting, puasa. Sebulan penuh. Wkwkwkwk

Harun Purnomo
Saat waktu peralihan dari akhir Sya'ban ke awal Ramadhan dan jika kita sedang berada di: -pesawat antar benua -pesawat ruang angkasa -benar-benar di bulan,bukan studio mirip bulan dimana benderanya berkibar padahal katanya di bulan tidak ada angin -sudah bisa hidup di mars, Apakah masih relevan , ~di bawah atau di atas ufuk/horison? ~wujudul hilal atau imkanur ru'yat? ~dua atau tiga derajat? ~cerah atau mendung?

Rizky Dwinanto
Dengan ilmu falakh dan ilmu hisab sebenarnya sudah bisa dipastikan. Hanya memang ada perbedaan pendapat "berapa derajat dimulainya bulan baru", itupun hanya untuk syawal, ramadhan dan dzulhijah. Gak pernah ada ribut kapan dimulainya bulan muharam dll.

mzarifin umarzain
Jadwal ijtimaa' sudah ada untuk 2000 tahun yad & 2000 tahun yg lalu, akurat, teliti, yg bisa dicek pd saat gerhana matahari. Bila ijtimaa' diragukan, paling beda beberapa detik/menit/jam, tak sampai 24 jam. Saat hilaal diakui sudah 2 derajat, itu pengakuan bahwa hilaal/qomar muda sudah masuk bulan romadhoon, bila ijtimaa' awwal romadhoon?

Rank Bukik
Baru paham sekarang, kenapa kalender Hijriyah tidak populer digunakan disini.. karena jumlah hari tiap bulannya tidak bisa dipastikan sebelumnya, tergantung posisi awannya mendung tebal sekali atau tipis- tipisnya diakhir bulan...apakah satu bulan dihitung 29 hari atau 30 hari, tergantung posisi awannya untuk melihat bulan yg muncul waktu matahari terbenam.. mungkin ini rezekinya Mbak Rara...

Rizky Dwinanto
"Teknologi hanya membantu, titik beratnya adalah fiqih". Salah satu langkah untuk membersihkan najis berat adalah mencuci najis dengan air + tanah. Kampus ITB sudah bisa membuat clay (lempung) dengan teknologi nano dijadikan bahan baku sabun. Sabunnya diklaim untuk membersihkan najis berat. 

yoming ACHFuadi
Ada secercah harapan untuk keberagaman pendapat soal awal mulainya bulan puasa dengan hadirnya planetarium ini. Namun yang terbaru adalah model kaos kaki (atau mungkin sepatu ya?) yang dipakai Abah di acara tersebut yang sudah menggambarkan keberagaman tersebut, yang kanan warna putih sedang yang kiri warna hitam strip putih tipis, salut ya Abah.

7G SUYOTO ARY FIANTO
Tiap ingin komentar harus login mulu Harusnya dilock akun biar bisa langsung komentar Dan gk nyasar ke artikel kemaren stelah login sukses 

Mirza Mirwan
Mosok harus gitu sih, Bung. Coba bikin bookmark "Disway.id" di operamini. Sekali log in untuk seterusnya. Kayak di aplikasi dulu. Bedanya, komentar dibatasi karakternya.

Er Gham
1. Apakah menentukan hilal hanya terbatas bulan ramadhan? Bulan lain kok sama semua.
2. Dulu cukup 2 derajat, kenapa skrg standar dinaikkan jadi 3 derajat?

Mardiono D
Kok Abah gak bahas, kenapa kaos kaki bisa beda kanan dan kiri?

Harun Purnomo
Kaos kaki dengan filosofi lingkaran Yin Yang. Tahun 1980-an keliling Amerika.Tahun 2000-an keliling China. Kaos kaki yang cocok untuk 'agen ganda'. Nyuwun pangapunten ,Abah DI,...

Arif Rahman
Program studi astronomi dikaitkan dengan moderasi beragama. Kalau rasionalilasi astrologi dipelajari juga kah ?

Harun Purnomo
Mbah Mars kesasar kemana ya?? Sampai sekarang belum kelihatan. Data statistik Disway apakah belum release atau saya yang kelewat? Apakah Oom Leong ikut-ikutan puasa?Koq belum kelihatan juga. Aryo Mbediun at least revealed,namanya Bagus,ada Sutikno nya pula. Saya mencoba membuat email baru agar yang tampil nickname akun Disway tapi tetap yang muncul di kolom komen tetap email lama. Ya wes lah ,saatnya tampil. Aji Muhammad Yusuf juga tidak bisa lagi sembunyi dengan nama MS.

Agus Suryono
Mungkin pada belum bisa masuk.. Saya juga baru bisa masuk hari ini setelah utak atik akun Google.

oyong mantep
Abah DI, saya menyampaikan terimakasih banyak karena luar biasa perjuangan admin Disway memenuhi harapan pembaca setianya dengan membersihkan khusus catatan harian abah DI dari iklan dengan cara memindahkan kebawah (mungkin karena sudah terlanjur komitmen), anyway sudah lebih menyenangkan untuk membacanya karena sudah tidak perlu pindah halaman... ahhhh senangnya hati ini untuk selalu membaca catatan harian abah DI dan semoga komentarnya kembali ke level ratusan

 

 

Kategori :