Ingat Peristiwa GBLA, Thomas Doll: Saya Naik Rantis Tinggalkan Bandung

Selasa 04-10-2022,00:24 WIB
Reporter : Syaiful Amri
Editor : Syaiful Amri

“Kami ada di kamar ganti selama lima atau enam jam, dan kami tidak tahu apa yang terjadi. Hanya terdengar teriakan dan suara letupan. Kami ketakutan, karena merasa nyawa kami terancam. Kami hanya bisa berpikir: 'Mereka akan masuk ke sini (kamar ganti), dan membunuh semua orang yang ada di dalamnya,” imbuhnya.

“Tiba-tiba beberapa orang membawa korban yang sudah sekarat karena menghirup asap gas air mata. Mereka meninggal di dalam ruang ganti. Ketika saya melihat itu, saya putus asa. Saya berkata: 'Ya Tuhan, saya akan kehilangan nyawa saya dalam sekejap dari permainan sepakbola,” ceritanya.

“Kami meninggalkan stadion pada pukul 04:00, serta melihat bencana di dalam dan luar lapangan. Saya tidak pernah melihat hal seperti ini, orang-orang terbunuh seperti binatang,” imbuhnya.

BACA JUGA:Kanjuruhan Mencekam, Pita Hitam Derby Jatim

Maringa mengaku trauma dari tragedi ini akan sulit dilupakan. Maringa kini hanya bisa menunggu mengenai keputusan yang mungkin diambil FIFA terkait kejadian itu. Arema pun sudah dilarang menggelar pertandingan di Kanjuruhan oleh PSSI dan pemerintah.

 

 

Kategori :