Dalam postingan di channel pribadinya pada 13 Oktober lalu, Durov menolak menghapus channel yang terafiliasi Hamas karena dianggap sebagai sumber innformasi yang penting.
Durov mengatakan Hamas sebelumnya menggunakan Telegram untuk memperingatkan warga sipil di Ashkelon untuk mengungsi sebelum mereka menembakkan rudal. Tapi laporan Human Rights Watch juga menemukan Hamas menggunakan Telegram untuk menyebarkan video serangannya.
"Apakah dengan mematikan channel mereka membantu menyelamatkan nyawa orang banyak atau justru membahayakan lebih banyak nyawa? Meskipun mudah bagi kita untuk menghancurkan sumber informasi ini, hal ini berisiko memperburuk situasi yang sudah parah," kata Durov dalam postingannya di Telegram.