Doni Monardo

Selasa 05-12-2023,04:00 WIB
Oleh: Dahlan Iskan

KETIKA bertemu lagi tahun lalu saya pangling. Ia terlihat lebih muda, segar, dan lebih gagah. Setelah bersalaman barulah saya ingat senyumnya: Letjen TNI Doni Monardo.

Saya lama memandangi wajahnya. Apa yang menyebabkan berubah. Waktu itu beliau hadir dalam acara pembukaan pabrik plastik ramah lingkungan berbahan baku singkong. Di Tangerang.

Beliau memberi ceramah tentang jahatnya plastik bagi lingkungan. Ada juga Ahok di situ.

Rupanya beliau melihat saya sedang heran mengamati wajah dan tubuhnya. "Rambut saya yang berubah, Pak," kata Doni.

Benar. Itulah yang membuat Doni tampak lebih muda dan segar. Rambutnya lebat. Tidak lagi botak. Warnanya hitam. Tidak ada putihnya. Sisirannnya rapi, dengan ukuran rambut yang tidak terlalu pendek.

"Kalau Pak Dahlan mau, nanti saya kirimi obatnya," katanya. Rupanya Pak Doni melihat rambut saya mulai menipis. Juga mulai terlihat botak di bagian dekat ubun-ubun. Sudah pula lebih banyak ubannya.

Seminggu kemudian saya menerima kiriman paket. Dari membaca nama pengirimnya saya sudah bisa menebak isinya: obat penumbuh rambut. Saya buka. Banyak sekali. Di botol-botol kecil ukuran sekitar 100 cc.

Saya pun memotret kiriman itu. Fotonya saya kirim ke beliau, dengan ucapan terima kasih. Saya berjanji untuk memakainya tanpa menyebut mulai kapan.

Janji itu belum saya penuhi. Sampai beliau meninggal dunia hari Minggu sore lalu dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata kemarin siang.

Anda sudah tahu: inspektur upacara (irup) pemakaman itu adalah Kepala Staf TNI-AD yang baru: Jenderal Maruli Simanjuntak.

Maruli adalah junior Doni di Kopassus. Waktu Doni menjabat Danjen Kopassus, Jenderal Maruli masih kolonel.

Waktu itu Doni punya program unggulan: anggota Kopassus-muda harus jadi juara di bidang masing-masing. Ada judo. Karate. Mendaki gunung. Dan banyak lagi.

Maruli adalah juara judo.

Lalu Pangdam Tanjungpura sekarang Mayjen TNI Iwan Setiawan juara mendaki gunung. Tim Mayjen Iwan membuat sejarah bagi Indonesia: berhasil mencapai puncak Everest. Bendera merah putih berkibar di sana. Kopassuslah pengibarnya.

Sebelum pertemuan di pabrik plastik ramah lingkungan itu saya bertemu Pak Doni di pusat pengendalian Covid-19. Beliau adalah panglima tertinggi pengendalian Covid-19. Beliau adalah kepala BNPB –Badan Nasional Penanggulangan Bencana.

Setelah menjalani berbagai tes saya diizinkan masuk ke ruang kerjanya. Itu adalah juga tempat tinggal beliau. Selama menjadi komandan pengendalian Covid-19 beliau tidak pernah pulang. Tidur di sebelah ruang kerja itu: tempat tidur lipat yang biasa dipakai di barak tentara. Waktu beliau habis untuk urusan Covid-19. Siang-malam.

BACA JUGA:Vaksin

Itulah Doni Monardo. Anak Minang yang lahir di Cimahi, dekat Bandung. Ayahnya tentara. Pindah-pindah. Pun Doni. Ia menyelesaikan SMA-nya di Padang. Lalu masuk akademi militer di Magelang. Angkatan 1985.

Pangkat terakhir Doni lebih tinggi dari peraih Adhi Makayasa tahun itu: I Made Agra Sudiantara. Doni bintang tiga. Made bintang dua.

Made juga tidak pernah jadi pangdam. Sedang Doni dua kali jadi pangdam: di Pattimura, Maluku dan di Siliwangi, Jawa Barat.

Made meninggal dunia di umur 50 tahun, sekitar 10 tahun lalu. Doni meninggal di usia 60 tahun 3 Desember tahun ini.

Di semua jabatannya itu Doni seperti habis-habisan. Namanya pun menjadi lebih besar dari jabatannya –untuk meminjam istilah Pangdam V/Brawijaya Mayjen TNI Farid Makruf yang sebentar lagi pindah ke Jakarta menjabat Kaskostrad.

Waktu jadi pangdam Siliwangi, Doni menjalankan proyek besar sekali di bidang lingkungan hidup: membersihkan alur sungai Citarum. Menyeluruh. Di sepanjang wilayah Jawa Barat. Tidak hanya sungainya yang dibersihkan. Pinggirnya juga dihijaukan. Agar erosi yang masuk Citarum terkendali.

Doni adalah pecinta pohon. Levelnya: gila tanaman. Doni-lah yang menanam begitu banyak trembesi di lingkungan bandara Lombok. Setiap ke bandara Lombok saya seperti bertemu Pak Doni. Pun di bandara Hasanuddin Makassar. Penuh pohon trembesi. Doni-lah yang menanamnya.

Di mana saja Doni menanam pohon. Teman-temannya dikirimi bibit pohon buah unggulan.

Belakangan Doni merambah program menggalakkan pembiakan pohon langka. Egy Massadiah punya daftar pohon langka yang dikembangkan Dony.

Egy adalah wartawan, penulis buku dan teman dekat banyak perwira tinggi.

Waktu saya ke pusat pengendalian Covid-19, Egy juga terlihat bersama Pak Doni.

Egy juga tidak pernah pulang. Bahkan ketika helikopter Pak Doni terombang-ambing angin ribut di pulau Miangas, Egy ada di dalam helikopter itu. Pak Doni selamat dari kecelakaan heli yang akan bisa menewaskannya.

Pak Doni selamat. Pun dalam badai Covid-19, Pak Doni juga selamat. Tapi Pak Doni sebenarnya kurang sehat. Sejak lama. Sejak hampir 10 tahun lalu. Kalau saja beliau sehat rasanya akan bisa jadi KSAD. Atau panglima TNI.

Pak Doni punya masalah kesehatan yang umum dialami banyak laki-laki berumur: prostat.

Saya termasuk yang menyarankan agar beliau dioperasi di Singapura tanpa takut dinilai kurang nasionalis. Itu karena teman saya, orang Singapura, baru saja berhasil mengatasi kanker prostat dengan cara operasi.

Penderita kanker prostat baiknya jangan menunda operasi. Pun bila dilakukan di dalam negeri. Kian telat kian sulit diatasi.

Kondisi beliau pun kian kurang baik. Pembuluh darah di otaknya pecah. Tidak sadarkan diri. Setelah 2,5 bulan di rumah sakit beliau meninggalkan kita selamanya.

Jasanya begitu besar bagi bangsa. Penduduk Indonesia hampir sama dengan Amerika. Ekonomi Indonesia jauh sekali di bawah Amerika. Tapi korban Covid-19 Indonesia begitu sedikit dibanding Amerika.

Pak Doni termasuk yang mendukung pemerintah untuk tidak melakukan lockdown secara nasional di saat Covid-19. Kebijakan itu akhirnya terbukti berhasil.

Doni Monardo ikut menyelamatkan kita semua. Pun di saat beliau sendiri sebenarnya sudah tahu: kanker sedang mengancam keselamatannya.

Doni Monardo akhirnya mendapatkan Adhi Makayasa dalam mengakhiri karir militernya.(Dahlan Iskan)

Cerita Perjalanan Panjang Kompetisi Basket Pelajar DBL Bersama Pemred Kompas.com, Wisnu Nugroho (Beginu)

Atho'illah

Resah Di bawah rembulan gemilang, Hatiku resah merintih pilu. Cinta yang bersemi di relung jiwa, Seakan menggoda menguji ragu. Bunga cinta mekar di kebun hati, Namun resah menari-nari di sekitar, Apakah ini benar ataukah mimpi semu, Cinta yang resah mengukir luka dalam sunyi. Cinta, seperti bunga yang mekar, Namun kadang layu dalam penantian. Resah ini seperti ombak yang terus menerus, Menghempas di pantai hati yang ragu. Hati terombang-ambing seperti perahu di lautan, Resah mencipta puisi di lembaran malam yang sunyi. Cinta seakan terbang namun sayapnya terputus, Sekuntum bunga layu meratap dalam resah yang mendalam.

 

Amat K.

Waw, kalau sudah rezeki takkan ke mana. Rezeki jomlo. Setidaknya, pertamax dia dapatkan, meski jodoh belum. Tak perlu kau resah, At. Kata Michel de Montaigne kurang lebih seperti ini, "Pernikahan itu seperti sangkar burung. Burung yang ada di luar penasaran masuk ke dalam sangkar. Yang di dalam putus asa mau keluar." Tidak perlu resah selama kau masih punya cinta. Kau mencinta, maka kau ada.

 

Amat K.

Jadi. Lebih sakit mana, cinta tak terbalas atau putus cinta?

 

Atho'illah

Tenang, Pak Jo, saya kuat. Saya sudah terbiasa dengan panas dan dingin: panas karena terbakar api cemburu dan dingin karena rindu yang membeku.

 

Jo Neca

Om Sasmita ini pasti perusuh Baik disway.Yang kemarin om Dahlan ketemu di proyek besar di Batam.Yang om Dahlan belum ketemu atau sengaja tidak mau ketemu.Adalah para pelaku dalam cerita bersambung Batam.Terutama yang akan menikah.Apa sudah punya anak berapa.

 

Wilwa

Terjemahan bebas. 1) Bakti (kepada orangtua) 2) Saling menghormati (kepada sesama/saudara) 3) Setia (kepada negara) 4) Dapat dipercaya (dapat dipegang kata-katanya) 5) Tahu Etika /Tatakrama 6) Menjunjung Kebenaran / Moralitas (Yang Sudah Ada Dalam Diri Manusia) 7) Kejujuran (Dalam Bertransaksi) 8) Tahu Malu (Selalu Introspeksi Diri)

 

Sasmita

Po Soen Kok, pria kelahiran Sambas (kini Singkawang setelah pemekaran), satu di antara perantau asal Kalimantan Barat yang meraih sukses di level nasional, bahkan internasional. Dari apa yang saya baca di satu majalah bisnis, Po Soen Kok menerapkan "family values" dengan delapan nilai yang ditanamkan kepada keluarganya. Pertama, Xiao, berbakti. Kepada orangtua dan kepada orang yang lebih tua. Kedua, Ti, menghormati antarsaudara. Dan keluarga. Ketiga, Zhong, setia. Dari semua segi. Pada keluarga, suami atau istri, anak. Keempat, Xin, kepercayaan. Kelima, Li, sopan santun. Keenam, Yi, semua upacara rohani dan upacara kemanusiaan. Ketujuh, Lian, jadi orang harus bersih. Kedelapan, Chi, tahu malu. Saya melihat dari delapan nilai di atas, titik beratnya adalah keluarga. Empat nilai pertama menjadi bangunan tinggi yang menjaga harmoni dalam keluarga.

 

Jokosp Sp

Yang ke tujuh, jadi orang harus bersih dan yang ke delapan, tahu malu. Ini luar biasa valuenya. Jika semua penegak hukum, semua aparat negara menerapkannya pasti sedikit dan kecil ada korupsi. Dan jika terbukti bersalah oleh keputusan hukum, maka akan lebih baik gantung diri daripada menanggung malu buat dirinya dan keluarganya. Yang jelas Indonesia pasti lebih maju dan makmur dari Singapura, bahkan lebih bersih dari sisi korupsinya. Apa bisa?, lha contoh nyata sudah diputuskan sidang MKMK saja masih menuntut balik? Di mana rasa malunya?

 

Wilwa

@sasmita. 8 kebajikan / ba de 八德 yang Anda uraikan itu adalah ajaran Sun Yat Sen, founding father Tiongkok modern. 1) Xiao 孝 2) Ti 悌 3) Zhong 忠 4) Xin 信 5) Li 禮 6) Yi 義 7) Lian 廉 8) Chi 恥

 

Wilwa

Sun Yat Sen mengembangkannya dari ajaran filsuf Guan Zi 管子 yang hidup pada periode Chun Qiu 春秋 . Periode yang sama yang melahirkan dua filsuf ternama Kong Zi 孔子 (baca: Khong Tze, bapa Confucianisme alias agama Konghucu) dan Lao Zi 老子 (baca: Lao Tze, bapa Taoisme). Guan Zi (baca: Kuan Tze) hanya mengajarkan empat nilai sosial yaitu yang nomor 5 sampai nomor 8.

 

Mirza Mirwan

Bung Yusuf Ridho yang sering mengoreksi penulisan para komentator CHD sepertinya orang yang sama dengan Yusuf M. Ridho yang "copy editor" Harian Disway. Tetapi, seingat saya, dari dulu Bung Yusuf Ridho belum pernah mengoreksi penulisan Pak DI dalam CHD yang, sebenarnya, salah. Dari dulu Pak DI selalu menulis singkatan Profesor Doktor dengan "Prof Dr", padahal penulisan yang benar adalah "Prof. Dr.". Dalam konteks CHD hari ini penulisan singkatan Baharuddin Jusuf Habibie menjadi "B.J. Habibie" sudah benar. Sayangnya "Prof Dr"-nya salah. Harusnya masing-masing singkatan diikuti tanda titik (.). Lucunya, bahkan CHD "Pollux Flower" yang dimuat di Harian Disway e-paper juga tanpa koreksi. Tetap saja tertulis "Prof Dr B.J. Habibie". Tentang "meisterstadt" yang bahasa Jerman, benarkah Anda -- para pembaca CHD -- memang sudah tahu artinya, seperti tulis Pak DI? Boleh jadi. Tetapi, barangkali, "sudah tahu" dari perkiraan saja. "Meisterstadt" itu sebenarnya terdiri dari dua kata: "meister" (master: Ing) dan "stadt" (city: Ing). Nah, menurut Bung Yusuf Ridho "meisterstadt" itu artinya menguasai kota, kota utama, penanda kota, atau ikon kota?

 

Yusuf Ridho

Menurut segi bahasa, meisterstadt berarti "kota utama". Namun, karena ini adalah jenama alias merek alias nama diri, yang tahu persis maksudnya adalah yang memberi nama itu sendiri. Terima kasih.

 

ACEP YULIUS HAMDANI

Ada cara baru, refresh 1 X, logout baru login, masuk dah ke kolom komen. Kadang menyebalkan melakukan sesuatu yang kita tidak suka tetapi harus dikerjakan, kalau tidak dikerjakan menjadi "sesuatu" bagi diri kita. Saya secara pribadi sangat senang mendengarnya, bahwa keluarga Pak BJ. Habibie alm, bisa berkiprah dengan baik dan benar dikancah dunia bisnis di Indo, semoga bisa mengembangkannya lagi pada bidang lain, atau bila perlu bikin pabrik pesawat di Indo, karena saya yakin gen "pesawat" ada pada diri mereka, bahkan mungkin bisa memiliki gen Presiden; tapi menurut saya pribadi jangan jadi Presiden di Indo, karena terlalu banyak orang baik dihujat dan dihina, netizen Indo itu, seperti malaikat pencabut nyawa, siapapun yang tidak sesuai dengan "norma" mereka, pasti dihajar, sampai nungging... Maaf kalau itu benar (mustahil salah)..... Sedih rasanya para negarawan bila sudah selesai tidak dihargai sesuai dengan pengorbannya, makanya wajar para keturunnya harus berjibaku untuk tetap menjaga harkat dan martabat orang tuanya dengan menjadi orang yang layak dihormati dan disegani. Saya yakin tiap keturunan para Presiden Indoensia tidaklah hidup dalam kemiskinan, minimal jangan sampai menjadi penerima bansos lah, kan gak elok bila ada penerima Bansos nama....bin/binti mantan presiden Indo, dan jangan ada lagi keluarga para Presiden Indo yang dipanggil KPK dan jadi tersangka korupsi...

 

Juve Zhang

Kalau lihat POLL perusahaan properti yg dibahas disway. lihat harga sahamnya nyungsep ke got . Bukan Meisterdatz nya karena itu PT tersendiri. Tapi murni bisnis properti milik pak Po. Ini jelas jelas nyungsep banget. Apakah hari ini mau "diterbangkan" oleh pak Bos ? Wkwkwk. Pak Bos ini punya keahlian supranatural .anda ingat dulu pak Bos main main ke markas Bayan . Gak lama BYAN terbang ke langit .wkwkwkk. anda yg percaya dengan kekuatan supranatural pak Bos silakan coba coba beli saham POLL .cuma resiko ditanggung sendiri. Ingat dunia saham bisa kaya mendadak seperti saham POLL yg pernah terbang ke harga 11000 dan sekaran cuma 145 wkwkwkkw. Anda bisa kaya anda pun bisa miskin dalam hitungan bulanan. Ayo bermain bersama pak Bos ahlinya ahli supranatural saham. Wkkwkw Siapa tahu ini "angpao" akhir tahun dari pak Bos .mana tahu? Wkwkwkwk

 

Em Ha

Meisterstadt Pollux. Perpaduan bisnis mengagumkan. Ilham Habibie - Po Soen Kok. Bugis Jawa - Hakka. Parepare - Singkawang. Kagum dengan keluarga Ilham Habibie. Garis keturunan yang mengedepankan ilmu pengetahuan. Sang kakek, Alwi Abdul Jalil Habibie ahli pertanian, bertugas di Parepare yang menikah dengan R.A. Tuti Marini Puspowardojo. Tuti keluarga bangsawan Jawa yang punya ibu dokter spesialis mata. Alwi lahir 1908 adalah anak keturunan Lamakasa kesatria Bugis yang merantau ke Gorontalo setelah adanya perjanjian Bongaya 1667. Abdul Jalil, kakeknya BJ Habibie adalah pemangku adat, anggota majelis agama, orang kaya pemilik sawah kebun kelapa juga ranch sapi dan kuda. Habibie adalah anaknya Lamakasa kesatria Bugis itu. Kekaguman pada Po biarlah Abah yang cerita. Sesekali mau lihat Abah komentar di catatannya.

 

Handoko Luwanto

Jurnal Perusuh Disway Edisi: Kelong Bay (Min,03-12-2023)

#.Nama (Komen;Kata)AWARD [diReplyOrangLain:meReplyOrangLain]

#1.Agus Suryonegoro III - 阿古斯 · 苏约诺 (8;387) ★★ ⭐️ [3:0]

#2.Agus Tejo (1;11)

#3.alasroban (4;119)

#4.Amat K. (1;15) [0:1]

#5.AnalisAsalAsalan (4;196) [0:3]

#6.Atho^illah (3;17) ★ [0:3]

#7.Azza Lutfi (1;11) [0:1]

#8.bitrik sulaiman (2;14)

#9.didik sudjarwo (1;8)

#10.doni wj (1;10)

#11.Echa Yeni (10;196) [0:7]

#12.Em Ha (2;160) ★ [1:1] \

#13.Er Gham (7;158) [1:1]

#14.Fiona Handoko (5;126) ★ [0:4]

#15.Fitria A (1;22) ★ [5:0]

#16.Gregorius Indiarto (1;18)

#17.Handoko Luwanto (5;638) ★ [2:0]

#18.JIM vsp (1;9) [1:0]

#19.Jo Neca (8;132) ★ [1:6]

#20.Jokosp Sp (9;331) ★ [3:5]

#21.Juve Zhang (3;327) [3:1]

#22.Kang Sabarikhlas (5;207) ★ [10:0]

#23.Liam Then (7;148) [1:3]

#24.Liáng - βιολί ζήτα (3;189) ★★ ⭐️ [3:0]

#25.M.Zainal Arifin (5;88) ★ [3:0]

#26.Mahmud Al Mustasyar (1;8) [0:1]

#27.Maman Lagi (1;5)

#28.Mukidi Teguh (2;57)

#29.MULIYANTO KRISTA (5;8) ⏰ [4:1]

#30.mzarifin umarzain (15;214) ✒️ ★★ ⭐️⚾️ [0:13]

#31.Nimas (3;63) [0:2]

#32.Otong Sutisna (1;63)

#33.Pryadi Satriana (7;193) ⚽️ [11:2]

#34.rid kc (1;34)

#35.Riyono ,SKP (1;1)

#36.Sasmita (2;194) ★★ ⭐️ [2:0]

#37.Slamet Sejati (1;189) [2:0]

#38.thamrindahlan (2;251) [4:0]

#39.Udin Salemo (5;670) [0:4]

#40.Ulik Kopi (2;208) ★ [1:1]

#41.Uwes Fatoni (1;41) ✏️ [1:0]

#42.Yellow Bean (3;111) [0:2]

Total: 151 Komentar dengan 18 ★ dari 14 Orang ✏️ :

Rockie per 30Sep2023 (1 Orang)

 

Udin Salemo

<span style="font-size: 11pt; font-family: Verdana, sans-serif; color: #333333; let
Kategori :