Ngerinya Era Post-Truth Kala Influencer Lebih Dipercaya dibanding Pakar

Jumat 08-11-2024,04:30 WIB
Reporter : Annisa Amalia Zahro
Editor : Reza Permana

BACA JUGA:Ridwan Kamil Janji Beri Dana Renovasi Rumah Rp75 Juta untuk Warga Jakarta

BACA JUGA:Sinopsis Film Anak Kolong yang Tayang di Bioskop, Dibintangi Junior Roberts dan Aisyah Aqilah

Akibatnya, masyarakat seringkali menilai informasi berdasarkan jumlah likes, views, atau popularitas dibandingkan dengan informasi berbasis riset atau fakta.

Menurutnya, fenomena ini dapat mengaburkan batas antara fakta dan opini serta mengancam kredibilitas ilmu pengetahuan di tengah masyarakat.

“Media sosial itu kan berupaya untuk menguantisasi perhatian. Menguantisasi validasi. Sehingga, ketika kita melihat ada satu opini atau pandangan di media sosial, kemudian konten itu ternyata tidak memiliki like yang banyak. Kita secara otomatis memandang rendah hal tersebut,” terang Angga.

BACA JUGA:Sadis! Istri Ditusuk Gunting Suami di Pasar Minggu, Pelaku Ditangkap Saat Mengantre di Pukesmas

BACA JUGA:Debat Kedua Pilkada Banten, Para Pendukung Paslon Adu Yel-yel Sampai Naik ke Kursi

Kondisi ini pun diperparah dengan ketergantungan masyarakat pada sosok-sosok populer, seperti influencer, dalam menafsirkan informasi yang diterima.

Kemudian, masyarakat yang belum memiliki literasi digital yang cukup cenderung memercayai sumber informasi yang dianggapnya familier, tanpa mempertimbangkan validitas atau kapasitas sumber tersebut.

Sejalan dengan itu, muncullah fenomena echo chamber yang membuat masyarakat hanya mengonsumsi informasi yang diinginkannya.

Sedangkan informasi yang berlawanan dengan prinsip atau keinginannya akan ditolak.

BACA JUGA:Siap Wujudkan Program 3 Juta Rumah, Semen Merah Putih Kenalkan Inovasi Beton Modular Pracetak

BACA JUGA:144 Pegolf Internasional Jaga Performa dan Kebugaran di Turnamen Indonesian Masters 2024

Kurangnya literasi dan kemampuan berpikir inilah yang menjadi biang kerok masyarakat Indonesia mudah termakan misinformasi dan berita bombastis yang datang dari figur terkenal.

Ini merupakan hal yang mengkhawatirkan, menurutnya, karena bisa mengarah pada pembodohan massal.

“Jika kita tidak segera memperbaiki literasi masyarakat, kita akan menghadapi generasi yang sulit membedakan antara opini populer dan fakta yang valid. Pada akhirnya, ini bisa mengarah pada pembodohan massal. Di mana hanya popularitas yang dipandang sebagai ukuran kebenaran,” pungkasnya.

Kategori :