Selain itu, Achmad juga menambahkan bahwa diversifikasi ekonomi juga cenderung hampir tidak bergerak.
Dimana kontribusi sektor manufaktur terhadap PDB stagnan di angka 19 persen sejak 2020, sementara industri pengolahan bernilai tambah tinggi seperti elektronik atau otomotif masih tertinggal dari Vietnam dan Thailand.
"Contohnya, larangan ekspor nikel tanpa disertai progres smelter yang masif hanya menguntungkan segelintir konglomerat, sementara UMKM tambang tradisional kolaps," tutur Achmad.