Terlebih, patahan bambu yang tersembunyi di dalam air kerap merusak jaring dan baling-baling kapal.
BACA JUGA:Mitra Dapur MBG Kalibata Gugat Yayasan MBN Rp975 Juta: Kami Ingin Uang Kembali!
"Justru bambu yang patah itu karena tidak terlihat ketika kapal kami melintas di situ. Secara tidak langsung, kekhawatiran kami bisa terkena baling-baling," paparnya.
"Kemudian juga saat penebaran jaring juga tidak tahu karena ada patok-patok itu bisa merusak alat tangkap kami," sambungnya menutup.
Sementara itu, berdasarkan pantauan Disway.id di perairan Desa Kohod, Kecamatan Pakuhaji, Kabupaten Tangerang, Banten, cerucuk bambu berukuran besar dan berjajar itu tampak berdiri kokoh.
BACA JUGA:Manfaatkan Celah di Tengah Penurunan Industri Tekstil Tanah Air, Sigma Tawarkan One Stop Solution
Bilah bambu yang menancap ke dalam permukaan laut tersebut tampaknya mustahil jika dicabut dengan mengandalkan tenaga manusia.
Di sisi lain, satu unit kapal pengawasan perikanan dan dua kapal boat dari Direktorat Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) KKP, tampak sudah bersiaga di sekitar kavling pagar laut.