Adapun kunjungan 3 pimpinan tersbeut merupaka kali pertamanya ke Ukraina untuk mendesak Rusia agar menyetujui gencatan senjata.
Kedatangan 3 pimpinan negara Eropa tersebut juga disebutkan mewakili Uni Eropa yang meminta agar Rusia untuk menyetujui gencatan senjata penuh dan tanpa syarat selama 30 hari.
BACA JUGA:Lamine Yamal Sindir Jude Bellingham Usai Laga El Clasico, Barcelona Gembosi Real Madrid
BACA JUGA:Lisa Mariana Jalani Perawatan Kuruskan Badan, Elly Sugigi: Tapi Jangan Ganggu Suami Orang Lagi
Ultimatum tersebut diberikan setelah pembicaraan di Kyiv yang dihadiri oleh Presiden Volodymyr Zelensky dan para pemimpin Inggris, Prancis, Jerman, dan Polandia serta menyebutkan jika Amerika Serikat dan negara-negara lain mendukung usulan tersebut.
Sedangkan pihak Rusia mengatakan jika pihaknya akan memikirkan usulan tersebut, tetapi menekankan ada banyak pertanyaan dan Rusia menolak segala bentuk tekanan.
Adapun Presiden Rusia Vladimir Putin masih belum menyampaikan segera berkomentarnya atas permintaan tersebut.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya juga telah mengancam akan keluar dari perundingan karena kurangnya kemajuan dalam mengakhiri perang.
Trump berjanji selama kampanye pemilihan AS untuk menghentikan konflik dalam waktu satu hari setelah menjabat.
BACA JUGA:World Coin Berhasil Kumpulkan 500 Ribu Retina Code Penduduk Indonesia, Sudah Beroperasi Sejak 2021
Kyiv dan sekutunya khawatir bahwa Trump beralih ke posisi Moskow, karena ia telah berselisih dengan Zelensky.
Namun Trump baru-baru ini menyatakan ketidaksabarannya yang semakin meningkat terhadap Putin.
"Posisi yang kita miliki saat ini adalah persatuan mutlak di seluruh jajaran negara di seluruh dunia, termasuk Amerika Serikat, bahwa harus ada gencatan senjata tanpa syarat selama 30 hari," kata Starmer.