Menurut Greenpeace, pembangunan yang meminggirkan suara rakyat dan merusak alam bukanlah kemajuan, melainkan kemunduran.
Pemerintah diminta untuk menempatkan kelestarian lingkungan dan hak masyarakat adat sebagai prioritas, bukan sekadar mengejar pertumbuhan ekonomi jangka pendek.
Aksi ini adalah pengingat bahwa Raja Ampat bukan sekadar kartu pos eksotis atau lokasi diving kelas dunia.
Ini adalah rumah bagi ribuan jiwa dan habitat yang tak tergantikan.
Ketika mereka yang hidup di sana berbicara, dunia seharusnya mendengar—bukan menyeret mereka keluar dari ruangan.
“Jika negara sungguh ingin transisi energi berkeadilan, maka keadilan itu harus dimulai dari tanah Papua,” tegas Ronisel.
“Kami tidak menolak pembangunan. Tapi pembangunan yang menghancurkan kami, itu yang kami lawan.”