BUMN beserta anak, cucu dan cicitnya jangan selalu meminta suntikan dana dari APBN.
Hal itu disampaikan pengamat Ekonom INDEF, Esther Sri Astuti. Menurutnya, Danantara harus menangani permasalahan tersebut dalam mengelola aset BUMN. Caranya membentuk strategi dalam bidang bisnis. Model bisnis yang jelas. Yang paling penting mengenali karakter setiap cabang BUMN.
"Jadi, tidak mudah ya untuk mengelolanya. Apalagi di sebagian BUMN ada yang sehat. Ada yang sakit. Jadi ritmenya berbeda. Itu tantangannya. Nah, Danantara diminta untuk mengelola aset BUMN," jelas Sri Astuti saat dihubungi Disway pada Rabu, 30 Juli 2025.
Yang harus dilakukan Danantara untuk mengurangi potensi penurunan aset adalah mengenali satu per satu masalah di setiap BUMN.
"Danantara harus melakukan pemetaan dulu. Identifikasi masalah di setiap BUMN. Karakternya bagaimana. Problemnya apa saja. Punya aset apa. Kalau sudah diidentifikasi kan tahu apa yang harus dilakukan. Itu yang namanya policy based on research. Harus ada pemetaan dulu," paparnya.
Pendekatan berbasis data dan riset ini sangat penting untuk penanganan yang tepat sasaran.
Dengan begitu, Sri menggambarkan tindakan yang mesti diambil Danantara. Yakni harus selalu melakukan pemetaan.
"Base mapping-nya Temasek ya. Temasek di Singapura itu sebagai holding dari BUMN. Nah, Danantara posisinya kurang lebih seperti Temasek dan Khazanah," jelas Sri menunjuk pada benchmark kelas dunia.
Sri Astusi juga menyarankan kemunkinan dilakukan merger untuk BUMN yang model bisnisnya serupa.
“Biar lebih efektif gitu kan. Karena ada yang aktivitas atau aktivitas ekonominya sama. Karakternya juga sama. Apakah ini bisa disatukan. Jika memungkinkan merger untuk efisiensi,” tukasnya.
Danantara Indonesia harus dapat membuktikan kepada masyarakat bisa melakukan peningkatan aset BUMN seperti yang amanatkan Presiden Prabowo.
Ia berharap Danantara Indonesia bisa profitable hingga dapat meningkatkan aset BUMN.
"Saya berharap Danantara ini seperti halnya dengan sovereign wealth fund yang lain. Entah itu dalam bentuk infrastruktur atau terkait dengan, misalnya, mendorong untuk lebih tercipta valorisasi. Sehingga multiplier effect-nya itu ada di masyarakat Indonesia," harap Sri, menyoroti dampak positif bagi masyarakat.
Harapan Baru Bagi Kemajuan Bangsa
Terpisah, pakar ekonomi digital CELIOS, Nailul Huda, menilai berdirinya Danantara, investasi yang dihasilkan akan jauh lebih banyak dan berkualitas.
"Tujuan pembentukan Danantara adalah membuat BUMN menjadi lebih mandiri dan terbebas dari kepentingan birokrasi," tegas Nailul saat dihubungi Disway.
Dia menggarisbawahi akar masalah inefisiensi BUMN selama ini. Menurutnya, porsi investasi BUMN selama ini sangat rendah. Belum optimal.