Cedera lutut kembali menghantuinya dan membuatnya absen di tiga laga terakhir musim ini, meninggalkan Santos dalam situasi genting di zona degradasi.
Santos adalah klub bersejarah, tempat Pele menciptakan era keemasan dan tempat Neymar muda membawa klub menjuarai Copa Libertadores 2011.
BACA JUGA:Nova Arianto Mulai Action Tangani Timnas U-20: Panggil Rafa dan Reno, Anak 2 Legenda Timnas
BACA JUGA:Indra Sjafri Pastikan Target Emas Tetap Jadi Harapan Timnas U-22 di SEA Games 2025
Namun di tengah ketimpangan finansial dan kompetitif sepak bola Brasil, nama besar itu kini seperti beban berat.
Setelah terdegradasi pada 2023, kebangkitan Santos sangat diharapkan.
Kedatangan Neymar memberi asa, tetapi kondisi sang megabintang tak memungkinkan banyak hal terjadi.
Sejak cedera bersama timnas Brasil pada Oktober 2023, Neymar terus berjuang menemukan kembali versi terbaiknya.
Tak didaftarkan Al Hilal karena kondisi fisik, ia pulang ke Santos, namun pemulihan panjang membuatnya tak pernah benar-benar kembali.
BACA JUGA:LGI Ultimatum Timnas U-22 Jelang SEA Games 2025: Tak Ada Perak dan Perunggu, Emas Harga Mati!
Hasilnya dari 35 pertandingan terakhir, ia hanya bermain 17 kali, kemampuan dribel dan percepatan yang menjadi ciri khasnya hampir hilang,
para pelatih kesulitan menemukan posisi terbaiknya.
Pelatih Juan Pablo Vojvoda bahkan harus menjadikannya “free 9” bebas bergerak, minim tugas bertahan.
Sesekali terlihat efektif, namun tiga gol semusim jelas jauh dari standar Neymar.
Tekanan, Ketegangan, dan Emosi yang Meledak