Hari Kemenangan?
Ilustrasi kemungkinan yang terjadi dengan perang Timur Tengah saat idulfitri.-Dibuat dengan AI-
Tidak hanya saya yang tidak bisa kumpul keluarga di hari raya Idulfitri besok. Pun para masinis kereta, pilot, perawat, tentara, para satpam, polisi....
Kami masih bisa bersyukur: masih bisa hidup tenang. Bayangkan yang di Iran. Yang tiap hari digempur bom oleh Israel dan Amerika Serikat. Atau yang di Lebanon selatan: dihujani peluru Israel tiada henti. Tidak ada nuzulul Quran. Tidak ada lailatul qodar. Siang malam dihujani bom jarak jauh.
Bahkan, bisa jadi, di hari raya Idulfitri besok, di sana, serangan diperdahsyat lagi.
Pasukan khusus marinir Amerika Serikat sudah dalam perjalanan ke Iran. Dari pangkalan militer Amerika di Okinawa. Laporan media independen di Amerika menyatakan mereka sudah melewati Singapura --maksudnya: melewati Selat Malaka.
Itu sudah dua hari. Berarti besok sudah bisa tiba di Iran. Mereka adalah pasukan khusus yang amat terlatih. Mereka bisa bergerak tanpa komando. Bisa melakukan aksi sendirian maupun dalam grup kecil.
Pasukan itu amat terlatih. Termasuk berlatih di gurun pasir di California. Mereka bisa bertahan tanpa logistik.
Jumlah mereka 2.500 orang. Diangkut dengan kapal amphibi Tripoli. Saya bayangkan mereka akan ditugaskan seperti Rambo dalam film-film Amerika. Yang satu orang bisa mengalahkan 100 lawan bersenjata. Yang kalau tersudut bisa meloncati pagar berduri atau lautan api.
Mendaratnya pasukan khusus memerlukan kondisi khusus. Mereka harus dilindungi dari udara. Maka pengerahan pasukan akan dilakukan di darat dan di udara. Wilayah-wilayah yang akan dimasuki pasukan khusus itu tentu akan lebih dulu dibersihkan lewat udara.
Semua analis militer dunia yang saya ikuti berpendapat: kalau itu dilakukan Amerika akan fatal. Amerika masuk jebakan. Masuk medan pembantaian. Ini bukan di Hollywood. Ini di medan yang kejam. Mirip Afghanistan. Bukan mirip Vietnam apalagi Venezuela.
Tapi Presiden Donald Trump memang sudah sangat kecewa. Sudah dua minggu berperang Amerika belum bisa menggulingkan pemerintah Iran. Padahal perkiraan semula tujuan Amerika sudah akan tercapai dalam 48 jam.
Bahkan kini seluruh dunia mengecamnya: terutama setelah pasok energi dunia terhambat sangat berat.
Kekecewaan Trump lainnya: Trump sudah gembar-gembor persenjataan Iran sudah berhasil dimusnahkan. Hanya tersisa 10 persennya, bahkan tidak sampai. Tapi nyatanya Iran masih terus meluncurkan rudal dan drone dengan sasaran Israel dan pangkalan AS di negara-negara Teluk.
Kejengkelan Trump bertambah-tambah: negara sekutunya menolak ikut membantu. Jepang, Korea Selatan, Inggris tidak mau kirim pasukan. Trump sampai terlihat frustrasi dengan menyatakan ”tidak ada harapan lagi NATO punya masa depan”.
Betapa malunya: Trump akhirnya sampai minta tolong Tiongkok. Agar Tiongkok mau turun tangan. Lebih malu lagi: yang diminta tidak bersedia. Sampai Trump menyatakan akan membatalkan kunjungannya ke Beijing tanggal 31 Maret depan.
Jelaslah sehebat-hebat serangan udara tidak menghasilkan yang ingin dicapai. Memang serangan udara itu menewaskan tokoh utama Iran --dan banyak tokoh penting lainnya-- tapi tujuan Amerika mengganti pemerintahan Iran gagal.
Trump bukan orang yang mudah menyerah. Ia justru ingin membuktikan bahwa Amerika tidak mungkin bisa dikalahkan biar pun seorang diri. Itulah yang akan terjadi satu dua hari ini: Amerika akan menunjukkan kehebatannya di mata lawan pun sekutunya.
Di manakah 2.500 pasukan khusus itu akan mendarat? Di pantai? Diterjunkan dengan parasit? Langsung di jantung ibu kota Teheran? Atau diterjunkan di Iraq, dekat perbatasan dengan Iran?
Jangan-jangan mereka diterjunkan langsung di jantung ibu kota Teheran --dengan asumsi Teheran sudah ditinggalkan para pimpinan negara untuk menghindari serangan bom? Lalu dengan kemampuannya sebagai pasukan khusus menguasai satu sudut ibu kota --sebagai pijakan? Kemudian memperluasnya lewat operasi Rambo?
Trump tentu membayangkan operasi seperti itu. Di matanya itu sangat heroik. Sangat Amerika. Sangat Hollywood. Lalu rakyat di sana bangga kepadanya.
Tentu bisa saja pasukan khusus marinir itu tidak untuk melakukan pendaratan. Siapa tahu hanya untuk meningkatkan gertakan.
Hari ini atau besok puasa hari terakhir di bulan Ramadan tahun ini. Besok atau lusa adalah hari raya Idulfitri yang juga disebut sebagai hari kemenangan --menurut para juru khotbah di mimbar Idulfitri.
Umat Islam-lah yang mengakhiri berpuasa sebulan penuh. Amerika yang ingin meraih kemenangan di Idulfitri ini.(Dahlan Iskan)
Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 18 Maret 2026: Garam Listrik
djokoLodang
-o-- + Cucu, degarkan ini! Orang bijak pernah berkata ada dua macam orang. Ada yang mengerjakan sesuatu tanpa mengharapksn pujian atau imbalan, dan ada yang hanya mencari pujian atas pekerjaannya. - Kamu termasuk yang mana, Kakek? + Aku? Aku termasuk yang tidak suka mengelompokkan orang-orang yang berbeda. -o--
gubernur kota
Saya merasa bagian dari sedikit orang yang percaya bahwa rangkaian kejadian setidaknya sejak pandemi covid 19 sampai yang sedang terjadi di timur tengah adalah upaya membendung ekonomi dan geopolitic T sebagai tujuan ahir.
Liáng - βιολί ζήτα
bukan iseng-iseng. SEANDAINYA..... saya sebagai Abah DI..... yang berkesempatan meninjau langsung berbagai lokasi di belahan dunia ini, maka tulisan saya terutama yang terkait dengan science dan technology akan saya beri alasnya terlebih dahulu yaitu informasi terkait dari berbagai Perguruan Tinggi melalui portal-portal mereka. Zaman sekarang ini..... apa susahnya untuk mendapatkan informasi tersebut ?? Apalagi Abah fasih berbahasa Inggris dan Chinese..... tentu saja literatur yang dapat dibaca/dipelajari bersumber secara trilingual. Mengapa tidak dimanfaatkan sebaik-baiknya ?? Ternyata..... jikalau hanya mengandalkan ketebalan dompet untuk bisa meninjau langsung berbagai lokasi di belahan dunia ini dengan berbagai kemajuan teknologinya tanpa disertai penguasaan pengetahuannya, maka hasilnya berupa tulisan yang tidak optimal !! Juga, cukup sering terjadi antara tulisan yang satu dengan tulisan sebelumnya tidak berkesinambungan, bahkan terkadang seperti bertolak-belakang. Pembaca kaum muda terutama dari dunia kampus..... tentu saja punya penilaian tersendiri..... dan kami bukanlah type komentator yang AADIS (Asal Abah Dahlan Iskan Senang) !! Oleh karena itu..... sepertinya CHDI (disway) akan sulit bersaing secara kualitas dengan media yang sejenis bagi kalangan muda kampus !! Akhir kata, sebelum liburan panjang..... saya ucapkan : Selamat Hari Raya Idul Fitri Mohon Maaf Lahir dan Batin. Sampai jumpa lagi di lain waktu.....
MULIYANTO KRISTA
Jare "Utangmu Semangatmu".
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
RUDAL IRAN, BEIDOU, DAN LOMPATAN AKURASI.. Ada kejutan di langit Timur Tengah. Rudal Iran kini terasa “lebih pintar”. Sebagian berhasil menembus pertahanan. Analisis pun mengarah ke satu nama: BeiDou Navigation Satellite System. Sistem satelit milik China ini disebut-sebut jadi kunci lonjakan akurasi. BeiDou adalah pesaing Global Positioning System milik Amerika. Diluncurkan penuh 2020 oleh Xi Jinping. China membangunnya sejak krisis Taiwan 1996, saat sadar akses GPS bisa “dimatikan” lawan. Bedanya, BeiDou punya lebih banyak satelit. Dan layanan militernya jauh lebih presisi. Jika GPS sipil meleset 5–10 meter, BeiDou versi militer disebut bisa di bawah 1 meter. Bahkan bisa koreksi arah saat target bergerak. Ini yang bikin rudal terasa “hidup”. Tidak sekadar ditembak, tapi bisa diarahkan ulang. Dugaan penggunaan BeiDou oleh Iran bukan hal baru. Sejak 2015 sudah ada kerja sama. Lalu dipercepat setelah kemitraan strategis 2021. Transisi penuh diyakini rampung 2025. Artinya, Iran perlahan “cerai” dari GPS. Yang menarik, sinyal militer BeiDou lebih sulit diacak. Ini penting. Karena perang modern bukan cuma soal ledakan, tapi juga sinyal. Di sini, perang berubah wajah. Dari otot menjadi algoritma. Dari mesiu menjadi data. ## Ref: Detik..
brahman soppeng
Tahun 2017 sy ke shanghai melihat langsung perakita alat angkat container namanya reachstacker, ternyata komponenya diimpor dari negara produsen asalnya untuk kompoen yang inti, selanjutnya komponen penunjang dari berbagai negara yang memiliki kualitas tinggi, sehingga menghasilkan produk yang kualitas yang sama dengan produsen asal dengan label made in China pastinya
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
@pak Juve.. DUA GARAM, DUA NASIB: MADURA PILIH YANG MANA Dua versi. Sama-sama garam. Tapi jalan ceritanya beda jauh. Versi satu bermain di air. Air laut ketemu air tawar. Ion bergerak. Listrik lahir pelan. Cantik secara teori. Bersih. Sunyi. Tapi rewel. Membran mahal. Mudah kotor. Butuh disiplin tinggi. Cocok untuk negara yang sabar merawat detail. Versi dua di Huai An lebih “kasar tapi efektif”. Bukan dari ion. Tapi dari tekanan. Rongga garam jadi tabung raksasa. Siang diisi udara. Malam dilepas jadi listrik. Teknologi lama. Fisika sederhana. Tapi skalanya brutal. 600 MW bukan angka kecil. Ini bukan laboratorium. Ini industri. Kalau dibawa ke Madura? Menarik. Madura punya garam. Punya panas matahari. Tapi belum tentu punya rongga tambang dalam seperti di Tiongkok. Jadi versi dua butuh “modal geologi”. Kalau tidak ada lubang alami, biayanya bisa jebol duluan sebelum listriknya nyala. Versi satu? Lebih mungkin di pesisir Madura. Air laut ada. Tinggal cari sumber air tawar. Tapi lagi-lagi: membran. Ini soal disiplin industri, bukan sekadar bahan baku. ### Jadi pilihan kita sederhana. Mau yang canggih tapi sensitif. Atau yang sederhana tapi butuh keberuntungan alam. Atau, seperti biasa… kita pilih rapat dulu. Listriknya nanti. Entah kapan..
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
@pak Juve dan pak Irari Ysh.. TERTAWA DAN TERSENYUM, SELISIHNYA HARGA.. Menarik membaca komentar Pak Juve dan Pak Irary. Ada dua ekspresi sederhana: tertawa dan tersenyum. Sekilas sama-sama ringan. Sama-sama tanpa kata. Tapi di dunia energi, maknanya bisa berlawanan. 1). Di Tiongkok, tertawa itu bisa berarti: “terima kasih, tapi tidak.” Tawaran lewat, mereka tetap jalan dengan hitungan sendiri. Beli langsung, cari harga terbaik, bahkan kalau perlu dari arah yang tidak disukai banyak orang. Rasional. Dingin. Tidak pakai baper. 2). Di kita, seringnya tersenyum. Ramah. Hangat. Diplomatis. Tapi di balik senyum itu, kontrak bisa jalan. Harga bisa lebih mahal. Yang penting hubungan baik dulu. Soal efisiensi… nanti dibahas di rapat berikutnya. Lucunya, dua-duanya tampak sopan. Tidak ada yang marah. Tidak ada yang banting pintu. Hanya beda ekspresi kecil di wajah. Padahal dampaknya besar di neraca negara. Jadi mungkin ini bukan soal siapa yang lebih pintar. Tapi soal kapan harus tertawa, dan kapan cukup tersenyum. Karena dalam bisnis energi, ekspresi wajah itu sering lebih mahal daripada harga minyaknya sendiri.
Jokosp Sp
Masih sangat menarik penjelasan di listrik yang dihasilkan dari motor listrik yang sumbernya dari putaran turbin. Sementara putaran turbin sendiri dihasilkan dari udara yang ditekan/ dimampatkan dalam lobang/terowongan dalam tanah (tambang garam). Dengan kedalaman tambang yang mencapai 1.500 meter, maka perlu diisi udara yang dimampatkan itu berapa juta metrik kubik dari kedalaman dan panjangnya terowongan?. Perlu kompresor yang sebesar apa dan dalam jumlah berapa agar pengisiannya bisa kontinyu dan memenuhi jumlah volume yang dibutuhkan?. Jadi membayangkannya jangan seperti tabung kompresore milik tukang tambal ban di pinggir jalan pantura Jawa. Sepertinya dalam terowongan tambang tersebut dibangun sekat-sekat besar untuk membagi dan menjamin tekanan udara tetap stabil dan memenuhi kebutuhan. Luar biasyah inovasi tekhnologinya. Keren. Ini perbedaannya, kita tahu Open Pit (tambang terbuka). Dilakukan di permukaan bumi dengan membuka lapisan penutup tanah (overburden). Biaya yang lebih rendah, produksi lebih mudah ditingkatkan, jangkauan alat berat lebih fleksibel. Kekurangan punya dampak lingkungan (biodiversitas, bentang alam) lebih besar, rentan terhadap gangguan hujan/banjir dan resiko longsor. Cocok untuk endapan mineral dangkal dan tersebar luas. Underground Mining (tambang bawah tanah): dilakukan dengan membuat terowongan, sumuran(shaft) sampai ke sumber bijih. Keunggulannya punya dampak/kerusakan lingkungan minim, dapat menambang dengan kualitas tinggi di lokasi dalam.
Gregorius Indiarto
"Bagaimana cara memasukkan udara ke rongga tambang yang begitu besar? Tentu bukan dengan cara gotong-royong 1,4 miliar penduduk Tiongkok ramai-ramai meniupkan udara ke dalamnya" Anda bercanda, saya pun tersenyum dibuatnya. Dan berteriak keras dalam hati "heleh,..kentut kentut hahahahaha" Met pagi, salam sehat, damai dan bahagia.
Nimas Mumtazah
Ramadan, " i'tikaf " bareng Abah dan perusuh memberi stimulan pada diri. Di awali dari Dr. Novi Basuki. Di ikuti Mr. Kodir . Jejak keduanya di lanjutkan santri² yang lain. SMANJ dan MAN 1 PROB, 2 lembaga yang ada di lingkungan pesantren masih terus mengirimkan santri² nya ke Tiongkok. Guru bangga ortupun bahagia. Sekali waktu mereka berkabar di sela padatnya pendidikan, sekedar memberi tahu, pilihan mereka tak salah tempat. Doa² terindah untuk anak2ku. Dimanapun kakimu berpijak Di bawah langit manapun engkau berdiri. Biarlah doa ibu menjadi payungmu. Melindungimu dari terik dan hujan. Tuhan menjagamu, saat ibu tak di sampingmu.
Ahmed Nurjubaedi
Sebuah buku (buku ini cetakan 2009) yang membahas keterampilan Abad-21 bercerita tentang kunjungan rombongan tim pendidikan China ke US. Ketua rombongan bertanya, bagaimana cara menumbuhkan kreativitas pada siswa US. Ia melihat, kreativitas adalah kunci kemajuan the US. Tuan rumah terdiam sejenak. Antara rendah hati, juga sedikit sombong, ia menjawab: itu sudah menjadi DNA kami. Sejak lahir, kami sudah menghirup udara kreativitas itu. The US hebat dalam hal inovasi. China mempelajarinya, lalu menambahkan DNA China sendiri: kewirausahaan. Ibaratnya, Barat dan Jepang pintar berbisnis hanya sampai berbisnis dengan manusia. China berbisnis dengan setan dan para dewa pun sudah mahir. Maka tidak heran, China melampaui negara2 tersebut. Jika disederhanakan, sebenarnya cukup jelas terlihat konsepnya: STEAM yang dipadukan dengan entrepreneurship. China butuh 40 tahun melakukan hal ini untuk menjadi seperti sekarang. Maukah kita melakukannya?
Milyarder Setia
Baca cerita Abah, di Cina rasanya seperti arena tempat teori diwujudkan. Tambang garam jadi pembangkit, jalan tol bagus mulus, electric vehicle, dll. Dan negeri kita, rasanya terus berkutat di korupsi, subsidi pupuk macet, dll. Apakah itu masalah mental? Mental pemimpinnya atau mental rakyatnya atau demikianlah mental sebuah bangsa? Jokowi pernah menggaungkan revolusi mental, tapi alih-alih bisa merevolusi mentalnya tetapi malah Jokowi tenggelam dalam mental yang hendak direvolusinya. Lebih dalam. Dan ambil keuntungan besar dari mental yang hendak direvolusinya. Padahal dari kata Indonesia, ada one. Satu. Maunya sih dalam persatuan menjadi nomor satu.
Er Gham 2
Dalam paragraf terakhir, dikatakan: nikmat mana lagi yang engkau dustakan. Sebenarnya, kalimat itu juga berlaku di sini. Mereka juga mengatakan hal yang sama. Namun yang mengatakannya hanya para koruptor, yang sedang gathering raksasa di suatu tempat. Korupsi anggaran. Korupsi kekayaan alam. Dan di akhir acara saat gathering, mereka semua serentak berkata bersama, "Nikmat mana lagi yang engkau dustakan".
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber:
Komentar: 91
Silahkan login untuk berkomentar