Da Yunhe

Da Yunhe

Di depan rumah penulis buku Journey to the West.--

Saya harus minta maaf tiga kali ke kota kecil ini: Huai An.

Pertama, karena saya tidak menyangka kota kecil ini melahirkan penulis buku kelas dunia: Journey to the West --dengan tokoh utamanya Sun Wukong: yang di Indonesia diucapkan dengan Sun Gokong.

Maaf kedua: kenapa saya tidak tahu latar belakang banyak orang kaya lama di kota ini. Padahal kota kaya selalu melahirkan peradaban yang unggul. Termasuk peradaban di bidang makanan. Karena itu terjawab sudah: mengapa pula banyak makanan enak di sini.

Makanan di Hong Kong juga terkenal enak karena chef terbaik dari seluruh Tiongkok "lari" ke Hong Kong. Kumpul di sana. Cari gaji tinggi. Tepatnya: mereka dirayu atau dibajak.

Hong Kong lewat kemakmurannya mampu membayar mahal chef terbaik. Zaman itu Tiongkok-daratan masih amat miskin: lebih miskin dari Indonesia.

Ketiga: saya tidak menyangka perdana menteri masa lalu yang amat terkenal di Tiongkok, Chu Enlai lahir di sini. Ia anak orang kaya. Mampu mendatangkan guru terbaik ke rumahnya. Anak kecil seperti Chu Enlai pun mendapat pendidikan terbaik.

Penulis buku Journey to the West, Wu Chang En, juga anak orang kaya. Tepatnya: cucu orang kaya. Ayahnya sempat jadi pedagang besar di Huai An. Lalu jatuh miskin. Kakeknya yang kaya memang pernah jadi gubernur di situ.


Aneka versi buku Journey to the West.--


Di depan rumah penulis buku Journey to the West.--

Di masa lalu, Huai An ternyata kota yang kelasnya di atas ibu kota provinsi. Kepala daerahnya disebut gubernur meski tanpa wilayah provinsi. Level kekuasaan gubernur Huai An di atas menteri --setingkat wakil perdana menteri.

Itu semua hanya karena satu hal: Huai An adalah pusat pengaturan dan pengawasan sistem logistik terpenting di seluruh Tiongkok. Zaman itu: lebih 1000 tahun lalu. Waktu itu sistem logistik Tiongkok mengandalkan jalur air. Bukan darat. Bukan udara. Jalur air pun bukan laut, tapi sungai besar.

Padahal di Tiongkok tidak ada sungai yang mengalir dari selatan ke utara. Atau sebaliknya. Semua sungai besar di sana mengalir dari barat ke timur. Yakni dari arah pegunungan Kunlun ke Laut Jepang.

Itu membuat ibu kota Beijing --yang nun jauh di utara-- kekurangan pangan.

Bahan makanan terbanyak ada di daerah paling subur di Tiongkok: di delta sungai Chang Jiang. Di provinsi Jiangsu dengan ibukota Nanjing. Juga di provinsi Zhejiang --dengan ibu kotanya Hangzhou. Dua-duanya jauh di selatan Beijing.

Tidak ada jalan darat ke Beijing dari selatan. Kalau pun ada hanya untuk angkutan sejenis kuda. Tidak banyak yang bisa diangkut.

Maka Tiongkok memutuskan membangun sungai buatan. Dari selatan ke utara: 1.800 km. Dari Hangzhou sampai Beijing. Lewat Jiangshu. Sangat lebar. Sangat dalam. Agar bisa dilalui kapal-kapal besar.

Orang masa lalu ternyata lebih mampu melahirkan tekad besar. Padahal teknologi sangat terbatas.

Pun jauh di selatan ada keputusan besar: membangun Borobudur. Kita tidak pernah lagi membuat keputusan sebesar itu --sampai ada keputusan membangun IKN, yang juga seperti Borobudur, bukan proyek ekonomi.

Nun di utara sana keputusan besar yang dibangun untuk kepentingan ekonomi: sungai buatan sejauh 1.800 km.

Nama proyeknya: Da Yunhe (大运河). Dibahasa Inggriskan menjadi: Great Canal.

Nah, di antara kota yang dilewati proyek itu yang paling strategis adalah Huai An. Maka pusat kendali proyek ini dipusatkan di Huai An. Bukan di Hangzhou. Bukan di Suzhou. Bukan di Wuxi. Bukan di Yangzhou. Bukan di Xuzhou. Tapi di Huai An.

Saya telat tahu itu. Dua bulan lalu, saat saya ke Huai An, saya hanya ke pembangkit listrik baru: memanfaatkan gua bekas tambang garam. Saya tidak menyangka Great Canal lewat di situ. Apalagi ternyata Huai An menjadi pusat pengendaliannya. Termasuk pusat pemungutan pajak barang dagangannya.

Begitu tahu, sudah tidak ada lagi waktu. Maka saya bertekad ke Huai An lagi. Suatu saat kelak.

Dan ”suatu saat kelak” itu ternyata datang begitu cepat: Senin lalu. Kurang dari dua bulan dari kedatangan saya yang pertama.

Kali ini saya sebenarnya hanya harus menemani para direktur saya. Mereka harus bertemu partner mereka di sekitar Huai An. Maka pura-pura saya antar mereka --meski sebenarnya saya sendiri yang ngebet ingin ke Huai An.

Saya sungguh ingin dapat jawaban mengapa peradaban, literasi dan kualitas pendidikan di Huai An begitu tinggi --sejak 1000 tahun lalu. (Dahlan Iskan)

Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 23 April 2026: Jalan Makmur

Irary Sadar

Kalau pun ada Kemakmuran yang ditularkan, paling hanya 0.0sekian persen. Intinya Kemakmuran itu tergantung Pemangku Jabatan di negara itu. Mau tidak rakyatnya makmur? Jangan hanya mementingkan kemakmuran diri sendiri dan kolega. Contohnya, Kalimantan Barat. Lebih mikirin renovasi rumah dinas daripada memperbaiki jalan lintas yang seperti sawah.

Agus Triyanto

Melihay kasus Ibam fan Nadiem di Chromebook. Bagaimana bisa makmur, wong talenta unggulnya malah dizalimi

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

BAGAIMANA ISRAEL 100 TAHUN KE DEPAN? Seratus tahun itu lama. Bahkan bagi negara sekeras Israel. Secara ilmiah, masa depan negara ditentukan tiga hal: 1) Demografi, 2) Teknologi, dan 3) Lingkungan geopolitik. Israel unggul di teknologi. 1) Startup, 2) Militer, 3) Riset. Itu modal kuat Israel. Tapi demografi dan tekanan kawasan selalu jadi variabel liar. Konsep “Israel Raya” lebih banyak wacana ideologis ketimbang skenario realistis. Biaya politik dan militernya terlalu mahal. Dunia sekarang tidak lagi memberi karpet merah pada ekspansi wilayah. Bahkan sekutu dekat pun akan menarik rem. Maka yang lebih mungkin: 1) Penguatan kontrol keamanan, 2) Bukan ekspansi permanen. Pengucilan? Fluktuatif. Dalam sistem global berbasis kepentingan, negara bisa dikritik keras hari ini, tapi tetap diajak kerja sama besok. Israel akan tetap punya “lingkaran dingin” di sebagian dunia, tapi juga mitra strategis di bidang teknologi dan pertahanan. Hubungan dengan Amerika Serikat kemungkinan tetap spesial. Tapi tidak lagi tanpa syarat. 1) Politik domestik AS berubah. 2) Generasi baru AS lebih kritis. Dengan Eropa, hubungan Israel akan campur aduk. 1) Dagang jalan terus. 2) Kritik politik tetap nyaring. ### Kesimpulannya sederhana. Israel 100 tahun lagi masih ada. Kuat, tapi tidak bebas dari tekanan. Seperti baja: keras, tapi tetap bisa berkarat kalau lingkungannya asam. Bagaimana menurut Anda?

Milyarder Setia

???? : sebenarnya keluargaku kaya 7 turunan. ???? : kok kamu miskin? ???? : Aku turunan ke 8. ------- Sebenarnya bagus juga 3 generasi tidak lagi kaya raya. Biar tidak bosan orang dengan berita orangnya itu-itu saja, biar ganti orang lain lagi. Wkwkkwk.

gubernur kota

Berapa banyak study conprehensive yang menyimpulkan suatu negara bisa maju sangat bergantung pada kualitas pemimpinnya bukan karena kualitas rakyatnya? Atau justru kebalikannya? Atau justru kualitas ke-duanya adalah syarat mutlak? Banyak dari kita merasakan keresahaan ini. Tapi kurang keyakinan dalam realita kualitas kita.

Kujang Amburadul

"Tiru Iran, Purbaya buka opsi pajaki kapal-kapal yang melewati Selat Malaka" Media (jadi saya nilai abal-abal) ini konyolnya gak ngotak, candaan menteri aja dia jadiin headline. Saya tak berharap Disway membuat berita semacam ini, walaupun cuma judul.

Ricky Fernando

Selamat pagi Pak Dahlan yang lagi berada di Tiongkok. Saya kebetulan juga meneliti tentang suksesi family business khususnya Chinese family business di Indonesia untuk doktoral saya di Luxembourg beberapa tahun lalu. Dan saya yakin temuan saya lebih menarik dibanding Dr. Hadi tanpa bermaksud mendisreditkan beliau. Saya sempat coba kontak anda melalui asisten anda beberapa tahun kemarin tapi sayangnya belum tembus. Semoga kita punya kesempatan bertemu untuk sharing. Saya yakin temuan saya bisa menyelamatkan banyak keluarga dari kehancuran dan pertengkaran yang tidak perlu. Salam

Liáng - βιολί ζήτα

Abah DI lagi di Dōngguǎn (东莞) ?? Mungkin Abah tertarik untuk menulis tentang Jenderal terkenal semasa Dinasti Míng, yang berasal dari Dōngguǎn (东莞) : Jenderal Yuán Chónghuàn (袁崇煥), kelahiran Dōngguǎn (东莞) 6 Juni 1584, dan dihukum mati 22 September 1630 karena dikhianati oleh beberapa kasim, terutama kasim Wèi Zhōngxián (魏忠賢). Strategi perang Jenderal Yuán Chónghuàn (袁崇煥), tentu saja sangat efektif pada masa tersebut, berhasil menahan serangan 130.000 pasukan Manchu, hanya dengan 9.000 pasukan yang dipimpinnya. Sebelum dihukum mati, Jenderal Yuán Chónghuàn (袁崇煥) menulis puisi-nya yang terakhir : 一生事業總成空,半世功名在夢中。 死後不愁無將勇,忠魂依舊守遼東! Dan..... gara-gara puisi tersebut..... Dinasti Jìn berganti nama menjadi Dinasti Qīng.

Vikagora Prayogi

Apa sih ukuran suatu kemakmuran itu? Apa harus pendapatan semua warga sekian ribu dolar? Apa harus sudah tidak ada warga miskin? Semua harus menjadi kaya? Apakah kemakmuran itu harus identik dengan SDA yang melimpah? Apakah dizaman dulu tidak ada contoh kemakmuran yang pernah terjadi? Sampai kiamat terjadi pun yang miskin pasti ada, kalau tidak ada orang miskin siapa yang akan bekerja dengan orang kaya? Harusnya kemakmuran itu cukup diukur dengan tingkat kebahagiaan warga saja. Yang miskin tetap bekerja dengan baik, yang kaya jangan pelit karena di hartanya ada hak orang miskin yang harus ditunaikan.

Juve Zhang

Jalan Makmur sebuah bangsa itu ditentukan oleh Kualitas Sperma dan sel telur....bukan ideologi....atau besar kecil negara....mari kita lihat...bangsa Han.... bukan HanTu... Singapura negara super kecil.... demokrasi maju kaya raya.....Taiwan Negara demokrasi dikucilkan oleh Tiongkok tetap kaya raya.... Hongkong negara kecil bekas binaan Inggris... demokrasi....tetap kaya raya....dan Tiongkok negara otoriter luasnya gede penduduk berjibun tetap saja Kaya Raya....jadi apapun makan nya minum nya Mao Tai....wkwkw...itulah contoh Bangsa Han Tu....bangsa yg kualitas sperma dan sel telur nya emang bibit unggul....DNA super....ini Bu kan artinya mereka Sombong jadi bangsa DNA hebat....Deng Xiaoping selalu bilang tetaplah rendah hati.... sembunyi kan kekuatan mu di mata lawan...tetaplah mengakui negara berkembang padahal tahun 2030 mau Kya Kya ke Bulan...dua tim sekaligus akan berangkat Kya Kya ke Bulan....Beaya semuanya sangat gede tapi itu hanya recehan bagi Suhu Xi Jin Ping....anda lihat luapan banjir di sungai beberapa bulan lalu...semua rakyat langsung dibuat kan rumah tapak bagus di perbukitan jauh dari sungai....anda lihat saja betapa bagus rumah hadiah negara T bagi rakyat miskin yg kena musibah banjir.....sangat mengagumkan....

Liam Then

Singapura makmur = adaptasi. Korsel makmur= adaptasi. Saudi = adaptasi. Jerman (termasuk Jerman Timur) = adaptasi. CS Jerman yang kalah perang Jepang= Adaptasi. Terakhir Tiongkok = Adaptasi. Indonesia = ?

Achmad Faisol

jepang termasuk makmur... jangan lupa, sebuah negara ada istilah nasionalisme... kalau hanya mengejar kemakmuran, bagaimana kalau indonesia menjadi salah satu negara bagian amerika saja seperti hawaii yang baru bergabung ke amerika belakangan... atau, indonesia jadi bagian tiongkok, seperti hongkong dan taiwan...? itulah bedanya iran dan arab saudi... ini pilihan hidup... ada yang rela miskin tetapi cari rezeki halal... ada yang jadi penjilat yang penting hidup mewah... benar atau salah...?

Johan

Persamaan Tiongkok dan Indonesia, sama2 cinta duit. Perbedaannya, Tiongkok menghasilkan uang dari bisnis apa saja. Sementara Indonesia menghasilkan uang dari cara apa saja (termasuk korupsi).

mario handoko

selamat siang bp thamrin, bp agus, bp jo, bp jokosp, bp udin, bp mul, bp em ha dan teman2 rusuhwan langkah langkah seorang lurah agar negerinya ketularan makmur. sepulang beliyo bepergian. langsung kumpulkan relawan dan ponggawa2 negeri. untuk mendengarkan pidato. isi pidato yang disuarakan di atas podium : betapa kayanya negeri si lurah. betapa suksesnya program2 si lurah. betapa negeri lain ingin belajar dari si lurah. betapa banyak antek asing yg ingin mengacaukan negeri si lurah. betapa mulia memaafkan orang yg telah memberi nilai 11 dari 100 utk si lurah. selesai pidato, lanjut acara tepuk tangan bersama. beberapa hari kemudian. pak lurah bepergian kembali. demikian diulang ulang terus. sampai negeri pak lurah tsb makmur beneran.

Liáng - βιολί ζήτα

iseng-iseng saja. Makmur dalam bahasa Chinese adalah 繁荣 (Fánróng). Konsep 繁荣 (Fánróng) diketahui/ditemukan dalam 抱朴子 (Bào pǔ zǐ) karya 葛洪 (Gé hóng) semasa Dinasti Jìn, menggunakan fenomena alam (vegetasi subur) untuk secara metaforis menggambarkan perkembangan usaha sosial. Makmur (Kemakmuran) itu, adalah suatu proses Tumbuh (Pertumbuhan)..... oleh karena itu, menurut pendapat saya pribadi "Tumbuh Makmur" atau "Proses Makmur" sepertinya lebih pas..... ketimbang "Jalan Makmur". Lha..... setelah menemukan "Jalan Makmur"..... lantas prosesnya bagaimana ?? Satu hal yang pasti..... Jalan Makmur itu di sekitaran Jalan Pasteur, Bandung..... Abah. Nanti, kalau Abah sudah menemukan Jalan Makmur yang di Bandung itu..... sepertinya Abah boleh berteriak "YES" - sekarang kita Makmur..... wkwkwkwkwk.....

Eyang Sabar56

Abah, Kenapa di JALAN MAKMUR ini tidak disentil dikit saja Indonesia? Atau nanti perusuh saja yang menggorengnya hingga gosong. Abah memang hebat, dilihat dari sisi manapun. Cuma disisi lainnya masih kalah sama Kung Agus S. Jangan lapor polisi yah Bah, Saya orang susah.

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

BAGAIMANA INDONESIA, 100 TAHUN KE DEPAN? Seratus tahun ke depan, Indonesia berdiri di tiga kaki: 1) demografi, 2) produktivitas, dan 3) institusi. Bonus demografi selesai sebelum 2045. Setelah itu menua. Kalau pendidikan dan kesehatan tidak pas, kita hanya akan jadi penonton di negeri sendiri. Proyeksi World Bank dan OECD menyebut Indonesia bisa masuk 5–7 besar ekonomi dunia sebelum 2060. Syaratnya jelas: 1) Naik kelas industri, 2) Bukan sekadar jual bahan mentah. 3) Hilirisasi harus bernyawa, bukan sekadar jargon rapat. Lalu faktor kunci yang sering dianggap rutinitas: Pemilu 5 tahunan. Ini sebenarnya mesin penentu arah. Pemilu yang sehat itu sederhana tapi sulit: 1) Kompetisi program, bukan sekadar popularitas; 2) Pembiayaan transparan; 3) Birokrasi netral; dan 4) Kesinambungan kebijakan lintas rezim, yang kalau dulu toolnya adalah GBHN. 5) Investor suka kepastian, bukan drama lima tahunan yang reset dari nol. Apalagi yang dilakukan adalah yang terlanjur dipidatokan. Bukan hasil proses riset dan perencanaan. Risiko kita ada di institusi yang goyah dan kebijakan zig-zag karena tanpa riset dan perencanaan matang itu. Itu resep klasik “middle income trap”. Di geopolitik, kita tetap di tengah antara Tiongkok dan Amerika Serikat. 1) Seratus tahun lagi, kita bisa jadi raksasa. 2) Atau tetap "calon" raksasa. Bedanya cuma satu: Konsistensi. Dan, sedikit—ya, sedikit saja—akal sehat saat pemilu.

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

BISAKAH DI ZAMAN SEKARANG MENCAPAI KEMAKMURAN MELALUI PERANG DAN PENJAJAHAN? Jawaban ilmiahnya makin jelas: tidak efisien. Dulu, kolonialisme memberi rente. Sekarang, biaya perang melonjak, hasilnya turun. Data World Bank dan studi IMF menunjukkan konflik modern justru: menekan PDB, investasi, dan produktivitas. Infrastruktur hancur, talenta pergi, utang menumpuk. Menang perang, kalah masa depan. Ekonomi abad ke-21 berbasis jaringan. Nilai tercipta dari rantai pasok global, teknologi, dan kepercayaan. Penjajahan merusak tiga-tiganya. Sanksi, boikot, dan reputasi menjadi “senjata sunyi”. Negara agresor sering terkunci dari pasar dan inovasi. Seperti membuka toko, tapi mengusir semua pelanggan. Ada pengecualian jangka pendek. Industri militer bisa tumbuh. Tapi itu seperti minum kopi tiga gelas: melek sesaat, jantung berdebar lama. Pertumbuhan tidak berkelanjutan. Studi konflik oleh United Nations menunjukkan negara pascaperang butuh puluhan tahun untuk pulih—kalau beruntung. Kemakmuran kini lahir dari 1) pendidikan, 2) Institusi kuat, dan 3) Stabilitas. Bukan dari merampas wilayah. Dunia berubah. Yang masih percaya penjajahan sebagai jalan kaya, mungkin sedang membaca peta abad lalu. Sementara kereta ekonomi sudah melaju ke arah sebaliknya.

Irary Sadar

Jadi ingat Bambang Pacul ngomong saat pada saat Rpat Komisi III DPR. Yang intinya 'Korea-korea ini" -begitu menurut Bambang Pacul, Siap kalau di perintah Juragan. RUU harus dibicarakan dengan para ketua Partai. Kalau disini -maksudnya di DPR-, tidak bisa. Hahaha, Anggota DPR saja lebih milih ke ketua Partai dari pada memilih kepentingan rakyat. Bagaimana dengan ketua partainya. Bagaimana dengan Ketua/Kepala pemerintahannya. Sejatinya kita tidak akan bisa tertular dengan kemakmuran itu sendiri, jika pemangku kepentingan di Konoha tidak ingin rakyatnya makmur. Hehehe...

Wilwa

Jalan menuju kemakmuran sebenarnya sederhana secara konseptual/teoritis namun rumit dalam penerapan/prakteknya. Secara teori untuk makmur tentu saja tak ada konflik apalagi perang. Alias stabilitas politik bahasa kerennya. Masalahnya homo sapiens entah mengapa hobinya seolah hanya konflik/perang. Mulai dari konflik rebutan lahan parkir antar preman di kota besar sampai rebutan sumber daya alam atau rebutan menguasai selat Hormuz untuk contoh terkini. Untuk masalah perang ini saja sudah bikin pening, jadi butuh keajaiban agar homo sapiens berhenti berperang dan bisa makmur bersama-sama. No one left behind. Seperti slogan Xi Jin Ping bahwa semua warga negara Tiongkok makmur semua tanpa seorang pun jatuh dalam kemiskinan ekstrem. Dan ini adalah syarat kedua menuju kemakmuran yaitu pembangunan infrastruktur. Dengan kemajuan science dan teknologi masa kini mestinya bisa mewujudkan apa yang mungkin hanya jadi khayalan homo sapiens 200-300 tahun yang lalu. Transportasi dan komunikasi berkembang begitu pesat sehingga dunia ini seperti kampung kecil saja layaknya. Hampir tak ada lagi orang yang tak punya smartphone. Yang tak hanya jadi alat komunikasi atau untuk mendapat informasi tapi juga untuk transaksi ekonomi. Smartphone adalah salah satu infrastruktur yang paling mengubah hidup homo sapiens. Berikutnya jelas adalah robotisasi, self driving hingga AI. Hmmm. Jadi untuk dunia ini makmur syaratnya simple: bangun infrastruktur (seperti Tiongkok) dan jangan hobi perang (seperti USA).

Johan

Orang Amerika boleh saja berdiskusi bagaimana cara AS mempertahankan kejayaannya. Tapi sayangnya yg mengendalikan AS bukan orang yg sibuk diskusi itu. Begitu juga Indonesia. Kita bisa berpendapat apa saja supaya Indonesia maju dan makmur bebas korupsi. Tapi orang yg sibuk berpendapat itu, orang yg tidak atau belum mendapatkan jabatan untuk mengatur negeri ini. Keruntuhan AS adalah sebuah keniscayaan. Tidak ada negara hobi konflik dan perang yg akan bertahan kejayaannya. Kedua hal itu kegiatan yg menguras sumber daya. Jangan heran negara seperti Tiongkok yg sangat perhitungan soal untung rugi, begitu menghindari konflik dan perang. Sehingga kadang menimbulkan persepsi mereka bangsa pengecut. Padahal sejatinya mereka bukan bangsa yg benar2 cinta damai. Ribuan tahun sejarah bangsa mereka diwarnai dengan konflik dan perang yg tidak berkesudahan. Sampai sekarang pun. Urusan Tiongkok mainland dan Taiwan juga belum selesai.

sigit

Menurut Filsuf Ibnu Khaldun bahwa sebuah peradabanatau dinasti atau negara besar biasanya bertahan 120 tahun yang terbagi dalam 3 generasi, yatiu 40 tahun pertama hidup penuh dengan semangat tinggi, sederhana, solidaritas kuat, kemudian 40 tahun kedua hidup muilai makmur, stabil dan merasakan kenikmatan, namun mulai kehilangan semangat dan fase 40 tahun ketiga muali terbuai dengan kemewahan, kehilangan jati diri, lemah dan perlahan peradaban mulai runtuh. Dan mulai ganti dengan generasi yang baru. Dan sudah sunnatullah sesuai surat Ali Imran 140 ..." dan masa itu Kami pergilirkan di antara manusia...". Contohnya Dinasti Ming yang runtuh setelah 276 tahun diagntikan oleh Dinasti Qing. Runtuhnya Dinasti Umayyah (90 tahun). Runtuhnya Romawi Barat (300 thn). Keruntuhan diakibatkan oleh kelemahan pemerintahan, militer, ekonomi, dan gaya hidup. Indonesia di fase mana?.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Komentar: 135

  • Gregorius Indiarto
    Gregorius Indiarto
  • Liáng - βιολί ζήτα
    Liáng - βιολί ζήτα
  • Runner
    Runner
  • Everyday Mandarin (Study in Taiwan & China)
    Everyday Mandarin (Study in Taiwan & China)
  • djokoLodang
    djokoLodang
  • Everyday Mandarin (Study in Taiwan & China)
    Everyday Mandarin (Study in Taiwan & China)
    • Everyday Mandarin (Study in Taiwan & China)
      Everyday Mandarin (Study in Taiwan & China)
    • Wilwa
      Wilwa
    • Wilwa
      Wilwa
    • Wilwa
      Wilwa
  • Udin Salemo
    Udin Salemo
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
  • Wilwa
    Wilwa
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • gubernur kota
    gubernur kota
  • HONDA CBR150R
    HONDA CBR150R
  • Eyang Sabar56
    Eyang Sabar56
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
  • Eyang Sabar56
    Eyang Sabar56
    • Leong Putu
      Leong Putu
  • Leong Putu
    Leong Putu
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
    • Jokosp Sp
      Jokosp Sp
    • pak tani
      pak tani
  • Achmad Faisol
    Achmad Faisol
    • Wilwa
      Wilwa
    • Vikagora Prayogi
      Vikagora Prayogi
    • Wilwa
      Wilwa
    • Wilwa
      Wilwa
  • Thamrin Dahlan YPTD
    Thamrin Dahlan YPTD
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
    • Wilwa
      Wilwa
    • Wilwa
      Wilwa
  • Wilwa
    Wilwa
    • Jo Neka
      Jo Neka
    • Achmad Faisol
      Achmad Faisol
    • Wilwa
      Wilwa
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • Jo Neka
      Jo Neka
    • Wilwa
      Wilwa
  • Liáng - βιολί ζήτα
    Liáng - βιολί ζήτα
    • Liáng - βιολί ζήτα
      Liáng - βιολί ζήτα
    • ikhwan guru sejarah
      ikhwan guru sejarah
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • Irary Sadar
      Irary Sadar
  • mario handoko
    mario handoko
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • Jokosp Sp
      Jokosp Sp
  • Achmad Faisol
    Achmad Faisol
    • Achmad Faisol
      Achmad Faisol
    • Achmad Faisol
      Achmad Faisol
    • Achmad Faisol
      Achmad Faisol
    • Wilwa
      Wilwa
    • Vikagora Prayogi
      Vikagora Prayogi
    • Wilwa
      Wilwa
    • Wilwa
      Wilwa
  • Irary Sadar
    Irary Sadar
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • pak tani
    pak tani
    • Wilwa
      Wilwa
  • Eyang Sabar56
    Eyang Sabar56
  • Muh Nursalim
    Muh Nursalim
  • Jokosp Sp
    Jokosp Sp
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
    • Wilwa
      Wilwa
    • Jo Neka
      Jo Neka
    • Jokosp Sp
      Jokosp Sp
  • Fra Wijaya
    Fra Wijaya
  • Sadewa 19
    Sadewa 19
  • Taufik Hidayat
    Taufik Hidayat
  • Achmad Faisol
    Achmad Faisol
  • DeniK
    DeniK
  • Vikagora Prayogi
    Vikagora Prayogi
    • ikhwan guru sejarah
      ikhwan guru sejarah
  • Taufik Hidayat
    Taufik Hidayat
  • Achmad Faisol
    Achmad Faisol
    • DeniK
      DeniK
    • Wilwa
      Wilwa
    • Achmad Faisol
      Achmad Faisol
    • Wilwa
      Wilwa
    • Wilwa
      Wilwa
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
    • Wilwa
      Wilwa
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • BAMBANG HERLAMBANG
    BAMBANG HERLAMBANG
    • Wilwa
      Wilwa
  • alasroban
    alasroban
  • Tiga Pelita Berlian
    Tiga Pelita Berlian
    • Juve Zhang
      Juve Zhang
  • xiaomi fiveplus
    xiaomi fiveplus
  • Admin SDGs Sanankulon
    Admin SDGs Sanankulon
    • Juve Zhang
      Juve Zhang
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
  • Admin SDGs Sanankulon
    Admin SDGs Sanankulon
  • Thamrin Dahlan YPTD
    Thamrin Dahlan YPTD
  • Hamdi
    Hamdi
    • Irary Sadar
      Irary Sadar
    • Wilwa
      Wilwa
  • Sugi
    Sugi
  • Jo Neka
    Jo Neka
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
    • Leong Putu
      Leong Putu
    • Nimas Mumtazah
      Nimas Mumtazah
    • Maman Lagi
      Maman Lagi
    • Juve Zhang
      Juve Zhang
  • djokoLodang
    djokoLodang
    • siti asiyah
      siti asiyah
    • Hamdi
      Hamdi
    • bitrik sulaiman
      bitrik sulaiman
  • djokoLodang
    djokoLodang
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • Wilwa
      Wilwa
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • my Ando
    my Ando
  • Lègég Sunda
    Lègég Sunda
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • djokoLodang
    djokoLodang
  • bitrik sulaiman
    bitrik sulaiman
  • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
    MZ ARIFIN UMAR ZAIN
    • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
      MZ ARIFIN UMAR ZAIN
  • MULIYANTO KRISTA
    MULIYANTO KRISTA
    • nur cahyono
      nur cahyono
  • nur cahyono
    nur cahyono
    • Lagarenze 1301
      Lagarenze 1301
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
    • Maman Lagi
      Maman Lagi
  • ra tepak pol
    ra tepak pol
    • nur cahyono
      nur cahyono
    • ra tepak pol
      ra tepak pol
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA