Dapat Apa
--
Menarik mana membahas soal Prabowo yang akan melaksanakan Pasal 33 UUD 1945 atau rujak Ambon?
Bagi pembaca Disway seperti Mbak Yani rujak Ambon lebih punya kenangan tersendiri. Maka cukuplah dua kali menulis soal arah baru ekonomi di bawah Presiden Prabowo (Disway 21dan 22 Mei 2026).
Padahal sebenarnya saya masih ingin terus menulis soal yang amat penting bagi Indonesia itu. Setidaknya tentang bagaimana Presiden Prabowo berusaha menghibur sektor swasta Indonesia setelah pidato dar-der-dor yang dianggap kurang menyenangkan pihak swasta.
Di podium DPR itu Presiden Prabowo memuji dua perusahaan besar Indonesia. Maksudnya: ada juga perusahaan yang bisa menjadi sangat besar tanpa menguras sumber daya alam Indonesia. Dua perusahaan itu telah membawa nama harum Indonesia di luar negeri.
Pujian pertama untuk Mayora dengan produk Kopiko-nya. Kopiko dikenal di puluhan negara. Sampai muncul di drama Korea. Lalu Kopiko sempat dianggap produk Korea.
Presiden lantas memuji Mayora. "Saya tahu itu karena presidennya suka minum kopi," ujar Presiden Prabowo di mimbar DPR 20 Mei lalu.
Rupanya Presiden Prabowo perlu mengangkat nama Kopiko agar imbang dengan Kapal Api. Sewaktu berpidato di Jepang Presiden memuji kopi Kapal Api tanpa menyebut Kopiko. Skor Kapal Api dan Kopiko kini 1-1.
Produk lain yang juga dipuji di pidato bersejarah di DPR itu adalah Indomie. Indomie begitu dikenal di dunia, termasuk di Eropa. "Sampai orang Eropa mengira Indomie itu produk Eropa," ujar presiden.
Di awal pidato Presiden Prabowo sangat dar-der-dor pada perusahaan swasta, utamanya perusahaan sawit dan batu bara. Di akhir pidato suasana jadi penuh gerrr oleh penyebutan Kopiko dan Indomie itu.
Bagi pembaca seperti Mbak Yani, tetap bahasan rujak Ambon lebih menarik. Dia sampai menulis dua komentar. Dikirim ke saya. Saya selalu membaca tulisan mbak Yani, sejak tulisannyi masih ''sulit dipahami'', sampai tulisannyi bagus seperti sekarang.
Untuk melihat kemajuan Mbak Yani dalam menulis saya sertakan dua tulisan di bawah ini:
Rujak Ambon
Tulisan di Disway dengan judul Rujak Ambon tentu menarik bagi pembaca wanita. Hampir semua wanita menyukai rujak, maka ulasan mengenai rujak Ambon merupakan bagian yang paling ditunggu-tunggu. Bumbu rujaknya yang tanpa terasi, manis gula aren asal Sulawesi, rasa asam sepat yang berasal dari parutan buah pala, taburan kacang tanah goreng yang melimpah, lengkap sudah.
Sayangnya tidak diakhiri dengan kesimpulan: enak. Padahal sambil kemecer pembaca sudah membayangkan enaknya makan rujak Ambon di tempat asalnya – Ambon. Maklumi saja lah, penulis rujak Ambon itu bukan ahlinya rujak, apalagi tidak disebutkan berapa butir cabai sebagai unsur terpenting dari bumbu rujak: asam-manis-pedas.
Saya pun teringat kepada seorang Oma Ambon bernama Margaretha Latulette. Biasa disapa dengan sebutan Oma Itha. Beliau berasal dari Pulau Buano meskipun sekarang menetap di kota Ambon. Mengenal beliau ketika kami sama-sama mengantar cucu sekolah. Sambil menunggu jam belajar selesai, kami mengobrol tentang banyak hal, utamanya tentang makanan khas, tradisi, dan budaya Maluku.
Dari Oma Itha, saya menjadi tahu, adanya kisah persaudaraan 3 negeri (kampung) 1 gandong di Maluku "Buano Oma Ullath". Negeri Buano di pulau Buano, negeri Oma di Pulau Haruku, dan negeri Ullath di pulau Saparua. Pela dan gandong, prinsip hidup yang terus ditanamkan di tanah Maluku, dan ungkapan sagu salempeng patah dua, yang bermakna persaudaraan yang erat, prinsip untuk saling berbagi, senasib sepenanggungan, juga saya ketahui dari Oma Itha.
Oma yang baik hati ini, ditinggal sang suami di usia 35 tahun. Berpulang dan tidak ditemukan jasadnya. Saat itu bertepatan dengan kerusuhan besar yang sedang terjadi di Maluku. Oma Itha tetap sendiri, membesarkan kedua anaknyi hingga kini telah menjadi Oma bagi keempat cucunyi. Entah mengapa, di perjumpaan pertama, kami bisa langsung akrab. Mungkin karena kami seumuran, juga sesama pensiunan. Bedanya beliau mantan PNS, tiap bulan masih terima transfer-an, he he.
Kunjungannyi ke Depok, karena diminta oleh putranyi agar bisa merayakan Natal bersama sang Mama. Maka di tahun baru yang lalu, Oma Itha sudah pulang ke Ambon. Tinggal kembali bersama Ibundanyi yang sudah berusia 88 tahun dan adik laki-lakinyi yang memerlukan pendampingan dari Oma Itha akibat sakit serius yang dideritanya.
Setelah kepulangan Oma Itha ke Ambon, saya tidak merasa sepi, masih ada Oma-Oma lainnya yang saya sebut dengan julukan Oma super, Oma hebat, Oma keren. Mendengarkan cerita mereka, membuat waktu menunggu tidak terasa jenuh.
Meskipun sudah terpisah jarak dengan Oma Itha, kami tetap berteman. Via Facebook, beliau selalu membagikan aktivitasnyi sehari-hari, mendampingi sang Mama sekaligus merawat sang adik.
Tidak sampai hati rasanya jika harus melanjutkan komunikasi dengan membahas topik makanan dan kesenangan memasak. Cukuplah dengan menekan tombol atau atau sebaris kalimat dukungan untuk setiap aktivitas yang dibagikannyi di FB-nyi.
Tentang buah pala dan kenari, saya juga punya kenangan. Semasa kecil di desa dulu, saya dan teman-teman biasanya mencari buah kenari yang jatuh. Pohon tinggi besar yang tumbuh di tepi sungai itu membuat buah yang berjatuhan lebih banyak ke sungai. Seru saat berusaha memecah biji kenari. Rasa sakit di jari akibat tertumbuk batu ketika berusaha memecahkan bagian kulit yang keras, pulih seketika saat biji kenari yang gurih renyah itu berhasil dikeluarkan dari "cangkangnya". Wajar saja harga kacang kenari jauh lebih mahal dibandingkan dengan kacang mede jika dipakai sebagai topping kue brownies.
Buah pala juga unik. Beda asal, beda pula cara memanfaatkannya. Ketika dulu saya di Manado, daging buah pala biasa dijadikan manisan. Teksturnya renyah karena cara pembuatannya direndam di air gula selama berhari-hari. Ada juga yang ditambahkan cabai untuk jenis manisan pala rasa pedas. Biji pala dijual terpisah, pun kulit tipis yang melapisi biji pala itu juga dimanfaatkan, dikeringkan dan dijual tersendiri, namanya fuly. Ini banyak dibeli orang sebagai oleh-oleh khas Manado.
Sedangkan buah pala yang biasa ditemukan di Bogor, berbentuk manisan kering, diberi warna hijau dan bertabur gula putih. Es buah pala yang segar, disandingkan dengan semangkuk soto kuning yang khas itu, merupakan paduan kuliner yang hanya bisa ditemukan di Suryakencana di kota Bogor. Yummy.
Nama Des Alwi disebut dalam tulisan Disway hari ini, membuat saya perlu mengenang kembali jasa mendiang. Bukan jasa yang diberikan kepada saya tetapi kepada pimpinan saya ketika saya masih bekerja di Jawa Pos dulu –Bapak Dahlan Iskan. Tidak banyak orang yang tahu, bahkan mungkin tidak percaya, namun kenyataan itulah yang saya alami.
Suatu ketika di tahun 2005, saya mendapat tugas yang cukup "mendebarkan", mengurus visa Inggris atas nama Bapak Dahlan Iskan.
Mendebarkan karena instruksi tersebut saya terima kurang dari 3 hari kerja, waktu minimal yang dibutuhkan untuk pengurusan visa pada umumnya. Maka seseorang dari Travel agen yang sudah berpengalaman mengurus visa, saya minta untuk mendampingi saya. Hari itu, Kamis, saya sudah berada di sebuah Biro di Plaza Abda Jl. Jend. Sudirman, Jakarta untuk menyerahkan form permohonan visa yang sudah ditandatangani oleh Bapak Dahlan Iskan.
Ternyata, nama yang bersangkutan, yang tertulis sebagai pemohon visa yang harus menghadap, tidak bisa diwakilkan. Saya segera menelepon ke atasan saya di Surabaya, Ibu Nany Widjaja. Beliau mengatakan: "Bapak sedang di Jakarta, hubungi saja". Dengan sedikit rasa takut namun saya beranikan diri menghubungi nomor beliau dan mendapat jawaban: "saya sedang di Ancol, cukup tidak waktunya jika saya ke sana sekarang?" "Cukup," jawab saya meyakinkan. Setibanya di tempat, bertepatan dengan pemberitahuan dari petugas yang mengatakan," pelayanan ditutup sementara, waktunya istirahat".
Saya berusaha memohon dengan alasan bahwa saya sudah sejak pagi di sini, tetap tidak bisa. Puji Tuhan, beliau tidak marah, kebetulan ada bagian dari form aplikasi yang belum diisi dan harus dilengkapi. Beliau berkata "kita cari meja", maka meja resto Rice Bowl yang ada di gedung tersebut yang kami manfaatkan. Tentu bukan sekadar untuk menulis tapi beliau juga memesan salah satu pilihan menu yang tersedia di meja, mie ayam dan orange juice. Beliau juga bertanya menu apa yang saya pilih, saya menjawab, "sama".
Tidak mungkin saya memilih menu yang berbeda apalagi menu yang lebih mahal dari pesanan seorang yang mengajak makan, tidak sopan rasanya. Lebih tidak sopan, ternyata saya tidak mampu menghabiskan porsi mie ayam dan orange juice saya. Beliau bertanya, "mengapa tidak dihabiskan?" Tentu saja saya merasa canggung, gugup, tidak pernah terpikirkan harus makan satu meja dengan seorang pimpinan. Tapi bukan itu jawaban saya, melainkan, "masih kenyang". Saat hendak menulis di form aplikasi yang belum lengkap tadi, terlihat beliau menelepon putrinya –Mbak Isna lalu menelepon juga menantunya –Mbak Ivo untuk menanyakan suatu istilah "pengundang" dalam bahasa Inggris. Ketika tiba waktunya membayar, saya sengaja menjauh dari meja kasir sambil bersiaga jika mungkin dibutuhkan, sebab biasanya beliau tidak membawa uang. Ternyata membawa, he he.
Setelah waktu pelayanan dibuka kembali, kami mendapat urutan pertama yang dipanggil, beliau maju ke depan, beberapa saat kemudian beliau menoleh ke arah saya sambil bertanya, "bawa uang?" Tentu dari kantor sudah saya siapkan biaya yang diperlukan untuk pengurusan visa. Tiga hari kerja ke depan adalah hari Senin. Sedangkan hari Minggu, seharusnya beliau berangkat ke Inggris agar bisa mengikuti acara di hari Senin yang rencananya dihadiri juga oleh menteri keuangan kala itu.
Saya terus memantau alur proses pengajuan visa tersebut melalui aplikasi online yang tersedia. Plong rasanya ketika hari berikutnya, Jumat, pada layar tertera bahwa paspor sudah berada di Kedutaan Inggris. Siang harinya saya dikabari bahwa Bapak Dahlan Iskan membatalkan rencana keberangkatannya ke Inggris karena harus segera ke Singapura. Kondisi kesehatan beliau yang mengharuskannya ke Singapura sesegera mungkin.
Upaya pun dilakukan untuk mengeluarkan paspor yang sedang diproses di Kedutaan Inggris. Pertama, saya menghubungi Ibu Nany Widjaja, berusaha mendapatkan bantuan. Beliau memberikan nomor HP mendiang Bapak Djoko Susilo –mantan duta besar Swiss, yang pernah menjadi wartawan, juga koresponden Jawa Pos di Amerika dan di Inggris.
Saya pun mengikuti saran Ibu Nany, menghubungi Bapak Djoko Susilo yang kemudian mendiang menyarankan agar saya menghubungi Bapak Des Alwi disertai nomor HP yang bisa saya dihubungi. Tidak menunggu lama, saya segera menelepon mendiang Bapak Des Alwi. Mungkin karena beliau sudah lebih dulu dihubungi oleh Bapak Djoko Susilo, maka ketika saya menelepon, sebelum saya selesai bicara, beliau langsung berkata: "bilang saja Pak dirjen sudah setuju". Suaranya berat penuh kharisma. "Clue" sudah didapat, tinggal berpacu dengan waktu.
Hari itu Jumat, jam operasional terbatas. Rekan kerja saya, Pak Ghofir, dengan RX King-nya seakan lupa bahwa ada yang memboceng di belakangnya. Palang perlintasan kereta api yang hampir menutup pun diterjangnya, whooosh.. Di belakang kami KRL jurusan Tanah Abang- Maja melesat dengan cepatnya. Puji Tuhan.
Sesampai di tujuan, sesuai prosedur, saya serahkan selembar kertas yang tertera tanggal pengambilan di hari Senin, sambil mengucapkan, "Pak Dirjen sudah setuju". Kami diminta menunggu, tidak lama kemudian petugas menyerahkan paspor, lengkap dengan visa Inggris yang ternyata sudah disetujui. Ajaib. Seketika, dalam hati saya berucap, terima kasih kepada Bapak Des Alwi, sang pemberi "kalimat sakti" tersebut.
***
Dar Der Dor
Saya sendiri menunggu munculnya tulisan ahli yang mampu mengulas apakah Pasal 33 UUD 1945 masih bisa diterapkan di ekosistem yang serba kapitalis dan liberal seperti sekarang ini.
Saya percaya pasal 33 UUD 1945 itu bisa sukses dilaksanakan manakala ekosistemnya masih sama dengan saat pasal itu dirumuskan: yakni ekosistem di mana semua orang rela berkorban untuk negara. Tanpa pamrih. Padahal ekosistem yang ada sekarang serba seperti ini: "saya dapat apa". (Dahlan Iskan)
Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 23 Mei 2026: Cinta Alwi
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber:
Komentar: 30
Silahkan login untuk berkomentar