Rujak Ambon
--
Jangan baca lanjutan cerita perjalanan saya ke kepulauan Banda pagi ini. Ada kejadian yang lebih penting: ada sidang pleno DPR pukul 09.00 hari ini. Bukan sembarang pleno: Presiden Prabowo dikabarkan akan menyampaikan pidato penting bagi Anda. Bagi ekonomi Indonesia. Saking pentingnya isi pidato itu, sampai saya takut memprediksi apa saja isinya. Anda sudah tahu: Pleno DPR hari ini bersamaan dengan hari Kebangkitan Nasional. Yakni Harkitnas ke-118 --ada angka delapannya!
Maka daripada berisiko membahas prediksi isi pidato itu lebih baik meneruskan cerita perjalanan ke Banda.
Tiket pesawat Ambon-Banda tidak bisa dipesan dari Jakarta atau Surabaya. Maka begitu mendarat di Ambon kami langsung bertanya: di mana bisa beli tiket pesawat ke Banda. "Di sana. Di loket Smart Aviation," ujar petugas bandara Pattimura.
Kami pun ke loket yang dimaksud. Hari itu tidak ada pesawat ke Banda Naira. Adanya keesokan harinya. Tapi penuh. Satu kursi pun tidak tersisa. "Yang minggu depan pun penuh," kata petugas Smart Aviation milik Pongky Majaya itu. Pongky dulunya dikenal pengusaha valuta asing. Tahun 2016 lalu mendirikan perusahaan penerbangan tidak berjadwal. Operasinya di wilayah Maluku dan Papua. Smart sudah memiliki 16 unit Caravan, 3 unit Pilatus, 3 unit Cessna, dan 1 unit helikopter.
Tidak dapat seat pesawat tidak masalah. Masih ada kapal dari Ambon ke Banda. Tinggal pilih. Kapal Pelni sembilan jam. Ada kapal kayu: 12 jam. Saya pilih kapal cepat: lima jam.
Tidak ada kapal ke Banda hari itu. Yang ada keesokan harinya: Cantika88. Mirip kapal cepat Batam-Singapura. Berarti harus bermalam di Ambon.
Dari bandara saya membawa lapar ke kantor Cantika. Beli tiket Cantika lebih penting daripada makan siang. Kami pun ke kantornya Cantika. Di pusat kota Ambon.
Jarak dari bandara ke kota Ambon kini lebih dekat setengahnya. Yakni sejak ada jembatan besar yang melintas di atas laut: tepat di leher teluk Ambon: Jembatan Merah Putih. Tidak perlu lagi memutari huruf ”U” yang menggambarkan bentuk teluk Ambon.
Tiba di kantor Cantika kami bisa pilih kursi. Ada tiga pilihan: Rp 500.000, Rp 750.000, dan Rp 1 juta. Sekalian membeli untuk pulang ke Ambon: empat hari kemudian.
Urusan tiket beres. Ganti urusan perut. Sudah pukul 15.00. Nanggung. Cari makanan kecil saja. Ada makanan Ambon yang belum pernah saya makan di masa lalu: rujak Ambon. Tempat rujaknya jauh sekali: di Tulehu --bagian dari pulau Ambon yang menghadap ke pulau Saparua. Semua penjual rujak disatukan di pantai Natsepa yang berpasir.
Lebih 25 penjual rujak Ambon dideretkan di pantai itu. Tinggal pilih. Kami tidak tahu yang mana rujak yang paling Ambon. Milihnya pakai feeling. Tidak pakai lama. Bikin keputusan membangun tol di laut Bali saja bisa cepat apalagi cuma milih rujak Ambon.
Kekhasan rujak Ambon ternyata rasa asam-sepatnya. Di Jawa rasa itu datang dari pisang kluthuk yang berbiji. Di Ambon rasa itu didatangkan dari Banda: daging buah pala yang diparut. Pembeda lainnya: tidak pakai acan atau trasi. Gulanya aren dari Sulawesi. Kacang tanahnya digoreng minyak dengan porsi murah hati.
Maka sore itu saya melanggar konstitusi pribadi yang sudah lama saya pertahankan sekuat tenaga: makan manis. Ini semata-mata demi rujak Ambon. Saya memakannya dengan unsur yang meringankan: ini kan bukan manis gula pasir dari tebu.
Kembali ke kota Ambon kami melewati bagian dasar huruf ”U” teluk Ambon. Di situlah resto apung terbesar di Ambon berada. Pemilik resto itu masih famili dengan pemilik perusahaan kapal Cantika nomor berapa pun.
Menu makan malam hari itu: papeda dengan kuah ikan kuning, ikan bakar dabu-dabu, sayur bunga pepaya, kangkung, dan jus pala. Inilah sayur bunga pepaya yang terus terbayang rasanya. Saya pikir dalam-dalam: mengapa begitu enaknya. Kesimpulan saya: masaknya pakai kenari!
Kelak, empat hari kemudian, saya ulangi pesan menu yang sama. Kali ini sayur bunga pepayanya satu porsi untuk saya sendiri.
Malam itu saya ke satu proyek di Ambon. Sampai malam. Setelah itu barulah menuju hotel. Mampir tidur. Pagi-pagi harus ke Tulehu lagi. Dari dermaga Tulehulah kapal cepat ke Banda berangkat.
Saya menyesal membeli tiket termahal. Kabin untuk kelas terbaik ini ternyata di bagian atas-depan kapal. Duduk di tempat seperti itu berarti akan menerima goyangan ombak lebih kuat. Bisa pusing diayun gelombang. Kelak, baliknya, kursi itu tidak saya tempati. Kami pilih di bagian bawah paling belakang kapal. Di dek terbuka. Lebih tenang. Bisa menulis banyak artikel tanpa pusing kepala. Juga bisa podcast bersama Sasa untuk Dismorning hari itu.
Tiba di Banda pun kami belum tahu akan bermalam di hotel apa. Pengetahuan tentang Banda tidak banyak. Saya juga tidak mau terpengaruh pendapat orang. Maka mobil yang menawarkan diri untuk kami saya minta keliling kota dulu. Kami mau banding-bandingkan hotel mana yang memenuhi selera.
Pilihan kami jatuh ke hotel di depan Benteng Banda.

--
Hotel yang relatif baru tapi dibangun dengan arsitektur kolonial dari zaman VoC. Gerbangnya pun berlambang VoC. Tarifnya yang tidak terlalu VoC. (Dahlan Iskan)
Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 19 Mei 2026: Rujak Ambon
Juve Zhang
@aguss3....demam AI sudah melanda Amerika.... ratusan milyar USD digelontorkan buat AI....kita belum tersentuh AI....santai saja....orang Desa Gak Makan AI....orang Kota pun belum tahu AI.. ....orang Kota Pusing lihat sahamnya Nyangkut....Orang Desa tidak makan dolar tidak main saham tidak make AI....paling bahagia orang desa....orang Amerika yg paling suka AI.... semua pegawai yg bisa diganti AI dipecat....nah AI yg ganti kan pekerjaan itu....dan mereka bayar ke open AI ... akhirnya open AI yg kebanyakan uang....nilai perusahaan open AI tembus 850 milyar USD....semua takut ketinggalan AI.... Masayoshi San paling ketakutan ketinggalan maka dia akan ke Perancis mau bangun jaringan AI eropa sediakan modal 100 milyar USD....bukan kaleng kaleng....pak Purbaya lihat cad devisa negara cuma 140 milyar USD mengelus dada....oh minim sekali cad devisa gak bisa inter pensi....hanya bisa koar koar ....tenang saja pundamental kita bagus....wkwk....lebih bagus dari Eropa kata beliau....euro sudah tembus 20 ribu Rp....masa dibilang kita lebih bagus...wkwkw...Euro menguat terhadap Dolar... apalagi terhadap Rp...entah beliau sedang menghibur Raja KononHAH atau sedang menghisap lintingan daun surga.....wkwkkw
Gregorius Indiarto
Sumur, tua. Pohon kenari, tua. Benteng peninggalan Belanda, tua. Pohon durian tembaga, tua. "pohon sejuta umat", yang hanya pohon mangga biasa, juga pohon tua. Pun penulis CHD pasti. Met siang, salam sehat, damai dan bahagia.
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
CENGKEH DAN PENDAPATAN PER KAPITA MASYARAKAT MALUKU DARI KOMODITI "CENGKEH".. Selain pala, Maluku dan Maluku Utara sebenarnya hidup dari cengkeh. Aromanya kecil. Duitnya besar. Tahun 2024 produksi cengkeh Maluku Utara saja sekitar 4.786 ton. Maluku juga ribuan ton. Kalau digabung, nilainya bisa mendekati Rp2 triliun setahun dengan harga rata-rata sekarang. Jumlah penduduk Maluku dan Maluku Utara sekitar 3,3 juta jiwa. Artinya, dari cengkeh saja, ada “potensi” pendapatan per kapita dari komoditi cengkeh saja, sekitar Rp600 ribu per orang per tahun. 1) Itu baru cengkeh. 2) Belum pala. 3) Belum ikan. 4) Belum nikel. 5) Belum hasil hutan ### Bayangkan kalau dulu tidak ada tata niaga cengkeh era BPPC. Petani mungkin bisa jauh lebih kaya. Sebab waktu itu harga tidak sepenuhnya ditentukan pasar. Banyak petani merasa cengkeh mereka dibeli terlalu murah. Mereka menanam rempah. Tapi yang panen untung terbesar justru birokrasi dan para makelar. Padahal cengkeh itu "emas pohon". Sekali tanam bisa diwariskan lintas generasi. Di Maluku, pohon cengkeh tua sering lebih dihormati daripada mobil baru. Ironis memang. Negeri rempah berkali-kali kaya raya. Tapi rakyat rempahnya sering hanya kebagian aroma.
Johannes Kitono
Turis phobia. Tiga puluh tahun lalu beta ke Banda. Dari tulisan Juragan Disway diketahui Ternyata tidak banyak perubahan. Masih miskin infrastrukturnya. Ide turis dibatasi bisa jadi akibat banyak makan buah Pala. Terjadi halusinasi. Kalau terjadi turisphobia 30 atau 50 tahun lagi Banda tetap sama. Dulu Bandaneira adalah pusat bisnis Internasional sebelum dicaplok VOC ditahun 1621. Untuk majukan Banda bisa via Presiden / Mendagri masukkan saja Banda jadi Kecamatan Maluku Utara. Dibawah Gubernur Sherly Tjoanda Laos. Bisa kembangkan Wisata Bahari, wisata sejarah dan Budidaya ikan ekonomi tinggi. Seperti Mutiara dan Tuna Sirip Biru. Investasi Mobile Solar refeer container tidak mahal. Menurut om Des dulu ada 7 keluarga etnis Tionghoa di Banda. Termasuk nenek moyang hopeng Analau pengusaha budidaya Mutiara. Pemandangan paling indah didunia di bawah Laut dan itu ada di Banda. " Sebelum mati kita harus pergi ke Banda ", kata Sutan Syahrir, Perdana Menteri Pertama NKRI yang pernah indekos 6 tahun disana. Semoga Semuanya Hidup Berbahagia.
Jokosp Sp
Di Ungaran Kabupaten Semarang ada kebun pala, dan kampungnya di sebut Kebun Pala. Kebun yang luasnya puluhan hektar di lereng Gunung Ungaran itu. Kebun tersebut milik ayah dari teman SMA saya dulu. Saya sering mengunjungi kebun tersebut ketika diajak main sama Mas Tomo, saya memanggilnya. Mas Tomo ini teman sekelas di jurusan IPA. Ketika diajak ke kebun itulah sering mencicip kulit pala yang rasanya nano nano. Ada pait tipis, kecut, manis dan rasa getar jadi satu. Biji dan lapisan merah itu yang dimanfaatkan untuk bumbu dapur, sementara kulit luarnya bisa dibuat makanan ringan. #Ungaran yang meninggalkan cerita manis pahit masa lalu.
Liáng - βιολί ζήτα
iseng-iseng saja Justru, yang mendapat julukan "Kota Pala" di Indonesia adalah Kabupaten Fakfak, di Papua..... Dan..... yang mendapat julukan "Kota Kenari" itu adalah Kabupaten Alor di NTT..... Sepertinya, Abah kita mesti ke Fakfak dan Alor juga, tulisannya akan menjadi sangat lengkap dan pasti kerén.....
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
SAAT SAYA MASIH MENJADI OPERATOR MORSE DI MALUKU.. Kami memiliki 3 (tiga) pemancar. Dan kami pakai untuk menghubungkan Ambon dengan 15 (lima belas) stasiun radio di Maluku dari "Utara" sampai "Selatan". Yaitu: AA)) PEMANCAR 1. Melayani hubungan Ambon ke 1) Ternate. 2) Tidore. 3) Tobelo. 4) Morotai. 5) Saparua. BB)) PEMANCAR 2. Melayani hubungan Ambon ke: 1) Namlea. 2) Piru. 3) Amahai. 4) Wahai. 5) Geser. CC)) PEMANCAR 3. Melayani hubungan Ambon ke: 1) Tual. 2) Dobo. 3) Saumlaki. 4) Sanana. 5) Neira. Masing-masing lokasi terhubung 3 kali. Pagi, siang dan sore à 30 menit. Kecuali Tual dan Ternate à 1 jam. ### Ini jaman sebelum Telkom memiliki satelit Palapa ya. Jadul banget. Sebelum tahun 1976. Saat Anda mungkin belum lahir. Atau masih balita. Dan saya sudah remaja..
Linggar Baero
Ahaaa.. Banda Naira!!! Sebuah tempat yang aku simpan di dalam memory otakku, kelak aku akan ke dana, fikirku. Itu sepenghal kenanban saat awal tahun 80an, setelah membaca buku Bunga Rampai Kenangan Bung Hatta. Buku itu menebalkan kekagumanku kpd tokoh Nasional ini; tentang kesederhanaan, kejujuran, dan integritas. Di samping itu, buku itu banyak menyebut Banda Naira dan keelokan alam baharinya. Wow amboy banget dlm benak saya. Setiap ngobrol/berbual dgn kawan2, kalau ditanya daerah mana yang ingin kamu kunjungi? Sontak aku menjawab Banda dan Danau Toba!! Dari buku itu, saya mengenal tokoh Des Alwi dan keluarganya yang dermawan dan sangat memghargai Bung Hatta, sebagai kawan diskusi dan olah fikir buat kemajuan bangsa. Namun setalah melihat peta....ternyata letaknya jauuuh di samudera sana.Tks pak DIs sdh mewakili saya ke sana, aku cukup nitip.mata saja. Tabik. Oya, buku itu aku pinjam dari perpusnya LIA (Lembaga Indonesia Amerika) jl. Dr Soetomo, Surabaya.
pak tani
Nama yang lebih menjual dari 'Kebun Raya Kenari' saya belum tahu. Tapi kalau 'Make Indonesia Great Again' sekarang sudah terkenal namanya. Betul..., disingkat : 'Migrain' Pokoknya kalau Purbaya masih tersenyum, yakinlah ekonomi akan baik2 saja :)
Indra Hungih
Bicara sumur jgn lupa sumur perigi di pulau penyengat tj pinang dimana letaknya dibawah rumah adat pulau penyengat, letaknya sangat dekat dgn laut tp airnya tawar... sungguh keajaiban yang langka...
Bahtiar HS
Abah sempat tidur di bawah rindang kenari. Mengingatkan sy pd cerita ini. Konon, ada seorang pemuda malas--sebut saja namanya Baba Azrul-- yg sedang tidur dan berteduh di bawah pohon kenari purba yg besar dan rindang. Sambil telentang dan menatap ke dahan pohon, ia memperhatikan betapa kecilnya ukuran biji buah kenari. Pikirannya mulai melantur dan ia menggerutu: "Tuhan semesta alam tampaknya keliru menciptakan dunia ini. Pohon kenari ini begitu kokoh, besar, dan dahannya kuat, tapi mengapa buahnya kecil sekali? Sebaliknya, semangka batangnya kecil dan merambat di tanah, tapi buahnya luar biasa besar. Seandainya buah kenari ini sebesar semangka, tentu satu buah saja sudah membuatku kenyang dan aku bisa kaya raya jika menjualnya!" Belum sempat ia menyelesaikan khayalannya, angin kencang berembus. Sebuah biji kenari yang keras tiba-tiba jatuh dari dahan yang tinggi mendarat tepat di jidat pemuda itu. "Aduh!" teriaknya sambil mengusap dahinya yg langsung benjol dan kesakitan. Sambil meringis, ia langsung terduduk, mengangkat kedua tangannya, dan meralat doanya: "Ya Tuhan, hamba mohon maaf! Engkau Maha Benar dan tidak pernah keliru dalam menciptakan sesuatu. Biji kenari sekecil ini saja sudah membuat jidatku benjol begini. Hamba tidak bisa membayangkan kalau buah kenari ini sebesar semangka, pastilah kepala hamba sudah hilang entah ke mana." Moral cerita: kalo lg tidur di bawah kenari ya tidur aja. Gak usah ngrasani siapa2. Apalagi ngrasani Gusti Alloh. Saliiimm :))
Kujang Amburadul
Bakasang. Yang saya tahu dibuatnya dari jeroan ikan cakalang. Tapi kalau untuk ini saya masih lebih suka terasi sih. Di Manado/Sulawesi Utara, sambal dengan bakasang biasa sebagai pelengkap makan tinutuan atau bubur Manado. Saya kalau makan tinutuan ini cukup dengan dabu-dabu saja, atau bikin sambal terasi sendiri, tokh kuahnya juga sudah dicampur cakalang fufu (kalau di Ambon banyak di Galala. Kalau ini Pak Agus S3 pasti tahu). Yang paling saya suka memang sashimi tuna atau cakalang. Ikan2 di wilayah timur memang sangat enak dan rata2 didapat masih segar. Beli ikan cukup di pelelangan, belinya dari anak2 yg memungut ikan2 tercecer atau beli dari nelayan yang menjual jatah "ikang makang"nya. Saya sempat merantau (dibenum) di kota Bitung hampir 20 tahun, dari awal 80an sampai masuk awal tahun 2000.
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
@pak Bahtar.. SUMUR PEREMPUAN DAN PENGAMATAN PAK BAHTIAR.. Pak Dahlan sebenarnya pasti tahu. Tapi beliau wartawan senior. Terlatih menyimpan detail sensitif dengan elegan. Beliau cukup menulis: “sumur itu berkelamin perempuan”. Titik. Pembaca disuruh mikir sendiri. Nah, Pak Bahtiar beda. Beliau membedahnya dengan ketelitian antropolog. Bahkan lekak-lekuk sumur pun dianalisis. 1) Ada naik-turunnya. 2) Ada lengkungnya. 3) Ada bentuk yang “tidak kotak tidak bulat”. Itu bukan lagi komentar. Itu sudah riset lapangan. Dan terus terang, sulit membantah pengamatan beliau. Apalagi beliau bapak dari 11 anak. Pengalaman empirisnya jelas jauh di atas rata-rata. Beliau pasti sudah sangat hafal ciri-ciri perempuan. Bahkan mungkin sampai versi sumurnya. Saya malah curiga, kalau Pak Bahtiar jadi arsitek, desain rumahnya pasti penuh lengkungan. Tidak ada sudut tajam. Semua serba “feminin”. Yang menarik, dari sumur tua Banda, diskusi bisa melebar ke filsafat bentuk. Memang begitulah Disway. Dari pala bisa ke geopolitik. Dari sumur bisa ke anatomi estetika. Untung yang dibahas sumur. Coba yang dibahas teko. Bisa lebih panjang lagi analisis Pak Bahtiar.
Bahtiar HS
Waktu saya ke sumur itu sedang ada tiga orang yang ngangsu –mengambil air untuk dibawa pulang. Semuanya laki-laki. Mereka juga percaya hanya laki-laki yang boleh menimba di sumur itu –berarti sumur itu berkelamin perempuan. ### Sumur perempuan. Kata Abah. Kalau sy perhatiin di foto itu aja kita sdh bs membedakan kedua sumur itu. Krn memang secara fisik sumur yg perempuan (dg 3 lelaki kg ngangsu di situ) dg yg laki di sebelahnya berbeds. Sumur yg laki bentuknya cuman bunder thok gak pakai bentuk dan ornamen yg aneh2. Jadi nggak menarik blas. Sementara sumur perempuan ada lekak-lekuknya (sy hitung ada 3), liku2nya, menaik menurunnya. Bentuknya juga, bunder tidak, lonjong tidak, kotak juga nggak. Jadi tanpa dijelasin keliatannya kita bs membedakan mana sumur yg laki dan mana yg perempuan. Asal jeli saja :))
Runner
….. Baba Azrul kalau tidur dibawah pohon kelapa. Sambil khayal “andai pohon ini pendek, sudah kujangkau buahnya”… bruuuk jatuh deh buahnya
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
PAK DAHLAN DAN SENI TERSASAR.. Kelebihan pak Dahlan sebagai pelancong dan penulis bukan pada tujuan akhirnya. Tapi pada kemampuannya tersasar dengan elegan. Mau ke rumah budaya, malah menemukan “Kebun Raya Kenari”. Mau lihat objek wisata terkenal, malah tertidur di bawah pohon. Dan justru di situlah kenikmatan perjalanan. Turis modern biasanya terlalu disiplin pada itinerary. Jam 08.15 foto. Jam 08.30 kopi. Jam 08.45 upload Instagram. Akibatnya pulang membawa ribuan foto, tapi tidak membawa cerita. Pak Dahlan berbeda. Ia membiarkan dirinya “ditangkap” suasana. Lalu lahirlah detail-detail kecil yang hidup: laki-laki menimba sumur, nasi bungkus di akar kenari, anak-anak mencocol pala ke bakasang. Itulah bedanya jalan-jalan dan bepergian. Yang satu mengejar checklist. Yang satu lagi menemukan kehidupan. Saya juga suka saat beliau menciptakan sendiri istilah “Kebun Raya Kenari”. Wartawan senior memang punya penyakit khas: kalau tidak menemukan judul menarik, ya bikin sendiri. Dan mungkin benar. Banyak tempat indah gagal terkenal bukan karena kurang cantik. Tapi karena kalah marketing dari tempat yang punya tulisan neon dan spot selfie berbentuk hati.
Asep Sumpena
Berbicara mengenai KH Zainuddin MZ, da'i kondang di Indonesia yang dijuluki "Da'i Sejuta Umat". Ketika mendirikan partai yakni Partai Bintang Reformasi, partainya tidak laku tulis Pak DI. Kalau menurut saya masih laku dan sesuai dengan julukannya, Dai'i Sejuta Umat. Partainya di Pemilu 2004 & 2009 memperoleh suara lebih dari 1-2 jutaan suara. Artinya klop dengan sejuta umat bahkan lebih. Mungkin ke depannya kalau seorang tokoh mau mendulang suara di Pemilu mesti di-branding menjadi Tokoh Seratus Juta Umat. Supaya perolehan suaranya signifikan.
Kujang Amburadul
Buah kenari, buah asam, saya menikmati mulung buah-buahan ini waktu masih bocil tahun 60-70an, berbarengan dengan para kalong kelelawar pulang dari perjalanan malam bergelantungan di pohon. Kalau pagi buah-buah ini berserakan di seputar KRB. Waktu itu jalanan masih sepi, penduduk masih sedikit, udara masih segar. Di rumah masa kecil saya, punya juga pohon pala walau hanya dua. Lainnya ada cengkeh, sukun, rambutan, nangka, mangga, jambu air, lobi-lobi dan bahkan ada pohon randu. Tidak banyak tapi semua mewakili. Plus kebun sayur, kandang kambing dan ayam. Ini kampung di tengah kota, tanahnya kakek. Ada sawah, cukup luas, tapi di luar kota. Alhamdulillah, pada saatnya sedang berbuah, kami berpesta buah, bukan "pesta babi" hahaha... Ada pula tetangga yang memproduksi manisan pala. Yang saya suka adalah air sisa rebusan yang setelah diencerkan, diberi gula dan tambah es. Hmmm segarnya. Terima kasih. Setidaknya melalui tulisan abah ikut mengenang bahwa bocil dulu itu bahagia.
En Faishal
Melihat sekilas di foto tulisan Kenari Tua Pak DI,saus Bakasang seperti saus atau kuah rujak petis Madura. Di Sumenep, saus seperti itu diolah dari bahan utama petis yang terbuat dari olahan ikan mentah, biasanya juga ikan cakalang atau cakalan di Madura. Petis dicampur garam, micin, cuka, air, dan cabai, lalu diulek. Cuma yang dicamil bukan pala. Kadang mentimun, kedongdong, atau mangga setengah matang. Cara makannya juga sama, didulit. Biasanya juga dimakan bareng-bareng, paling sering emak-emak. Rujakan sambil ngerumpi. Qiqqiqi. Entah orang mana pertama kali menciptakan rujak dulit hingga jadi kebiasaan di masyarakat kepulauan itu. Tapi kebiasaan melaut orang-orang dahulu sepertinya menciptakan keterhubungan tradisi dan budaya, meski kemudian racikan dan legendanya sedikit berbeda sesuai daerah masing-masing. Seperti tradisi Ojung di Madura dan Peresean Sasak di Lombok, NTB. Wallahu A'lam.
Kalender Bagus
Dulu di samping rumah kami ada pohon mangga, buahnya cukup lebat. Kami tidak melarang orang atau anak-anak mengambilnya. Masalahnya caranya itu: mereka melempari mangga itu dengan bilah kayu biar mangganya jatuh. Bilah kayunya sesekali hinggap di atas rumah kami dan membuatnya bocor. Akhirnya sama Abang saya, pohon mangganya ditebang.
Muchammad Lutfi Asyari
Suku Buton terkenal karena kejujurannya.Di Bandara Sepinggan Balikpapan sebagian besar pekerja kasarnya dari Suku Buton.Nyaris tidak ada barang yang kehilangan karena yang bekerja sebagai portier,tukang sapu,cleaning service berasal dari Suku Buton.Jadi berkhayal seandainya ada tokoh Buton yang ditunjuk jadi Kejaksaan maka selesai Indonesia ini.Karena kejujuran mereka yang luar biasa.
Kalender Bagus
Paman saya dulu penggemar berat Sang Kiai. Suatu kali dia agak mengeluh. Sang Kiai mau ceramah disambi kampanye di lapangan kampung. Paman saya karena malu dianggap hadir di kampanye, akhirnya tetap datang ke lapangan, parkir dipinggirnya, lalu buka kaca sedikit biar Sang Kiai bisa terlihat, tapi tetap menjaga agar paman tidak dikenali oleh orang-orang yang juga hadir.
Taufik Hidayat
Wah cerita abah DI sekarang mengajak kita ke pulau Banda Besar dengan sumur sumur nya. Bahkan sejenak ngelantur ke Danau Barat di Hangzhou . Saya koq jadi ingat akan Malaka yang juga punya sumur legendaris . Namanya Perigi Bukit Cina .. konon ada hubungan dengan putri Hang Li Poh dari dinasti Ming yag kemudian menikah dengan Sultan Mansyur Shah. Wah marga Hang mengingatkan saya akan hikayat Hang Tuah dengan Hang Hang yang lain seperti Hang Jebat, Hang Leukir, Hang Kesturi dan juga bandara Hang Nadim di Batam. Jadi ingat juga sebagai penziarah makam pernah mampir ke makam Hang Kesturi di Malaka.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber:
Komentar: 170
Silahkan login untuk berkomentar