Kenari Tua
--
Pulau paling besar di antara sembilan pulau di kepulauan Banda adalah Banda Besar. Penduduk utamanya juga suku Buton.
Pulau Banda Besar hanya satu lemparan batu dari "ibu kota" kepulauan Banda: Banda Naira. Juga hanya satu lemparan batu dari Pulau Gunung Api. Tiga pulau ini seperti membentuk bulan sabit berbintang dua. Sabitnya Banda Besar. Dua bintangnya Banda Naira dan Banda Api.
Dari Banda Naira ke Banda Besar tidak perlu naik speed boat. Banyak "taksi" berupa perahu dengan mesin kecil. Satu orang hanya Rp10.000. Kalau mau carter hanya Rp50.000 –tidak harus menunggu penumpang lain sampai penuh.
Di Banda Besar kelihatannya seperti tidak ada apa-apa –kecuali hutan pala dan kenari. Orang ke pulau ini untuk melihat tiga objek: dua sumur tua bersebelahan, pohon sejuta umat, dan kebun raya kenari.
Sumur-sumur di Banda Besar dan Banda Naira bermulut besar. Garis tengahnya hampir tiga meter. Pun sumur di samping rumah pembuangan proklamator Bung Hatta. Juga sumur-sumur di depan benteng Belanda.

--
Semua sumur tua punya cerita. Di mana-mana sama: siapa yang membasuh muka dengan air itu akan awet muda. Pun sumur tua di sebelah barat Danau Xihu di Hangzhou: Sumur Longjing. Terlalu banyak wisata sumur. Tapi yang di Banda Besar ini tidak hanya untuk wisata. Mereka sumur kehidupan: penduduknya hidup dari sumur itu. Yang kanan diambil airnya –pakai timba– untuk mandi di rumah masing-masing.
Sumur kiri untuk air minum. Rasanya tidak ada bedanya. Tapi penduduk percaya tidak boleh tertukar –kecuali lupa. Waktu saya ke sumur itu sedang ada tiga orang yang ngangsu –mengambil air untuk dibawa pulang. Semuanya laki-laki. Mereka juga percaya hanya laki-laki yang boleh menimba di sumur itu –berarti sumur itu berkelamin perempuan.
Saya pun menduga "pohon sejuta umat" juga hanya nama marketing. Itu pohon mangga biasa. Tidak tampak terlalu besar pula. Tidak ada yang menarik kecuali namanya. Itu pun pasti nama baru –setidaknya sezaman dengan ustaz Zainuddin M.Z. Di era beliaulah istilah "sejuta umat" lahir: ustaz sejuta umat. Saking percayanya dengan "sejuta umat", sang ustaz mendirikan partai politik. Tidak laku.
"Sejuta umat" yang terbukti laris hanya di mobil Avanza. Itulah merek yang mendapat gelar "mobil sejuta umat". Sedang pohon mangga ini didatangi bukan karena pohonnya, tapi karena pohon itu tumbuh di dalam reruntuhan benteng Holanda.
Tapi saya tidak menyesal ke pohon sejuta umat. Saya bisa dapat objek foto yang sangat indah, yang hanya bisa didapat bila memotretnya dari situ.
Saya menyebutnya itu pohon kehidupan. Pemilik rumah yang bepekarangan benteng itu bisa dapat tambahan penghidupan dari kotak yang ditunggu di bawah pohon itu.
Yang saya menyesal adalah: kalau saya tidak ke "kebun raya kenari". Letaknya di tengah pulau. Di ketinggian. Harus menapaki jalan menanjak. Istilah "Kebun Raya Kenari" tidak dipromo. Saya baru tahu justru ketika tertarik ke promosi "ada rumah budaya" di dekatnya.
Sebelum sampai di "rumah budaya" saya justru melihat ada rerimbunan pala yang tidak biasa. Lebih teduh. Lebih rindang. Lebih indah. Menyenangkan. Kami pun ke situ. Kian dekat kian menarik. Apalagi setelah berada di tengah begitu banyak pohon kenari tua. Dengan bentuk akar-akarnya yang pipih-lebar di pangkal-pangkal pohonnya.
Akhirnya kami tertambat di situ. Seperti dikepung pohon-pohon raksasa.
Perut pun mendadak lapar. Alangkah nikmatnya makan di kerindangan kenari tua. Saya pun minta digojekkan nasi bungkus. Di makan di situ –sambil bersandar ke akar pohon kenari tua.
Kawasan ini belum punya nama marketing. Tidak bisa jadi omongan seperti pohon sejuta umat. Maka istilah Kebun Raya Kenari saya ciptakan sendiri. Sampai Anda menemukan nama lain yang lebih bernilai marketing.
Yang jelas, menurut saya, Kebun Raya Kenari adalah objek paling mempesona di Banda Besar. Saya berdoa tidak ada sejenis pesta babi di sini. Sayang tidak sedang musim durian. Di dalam Kebun Raya Kenari Tua itu terselip pohon durian tua. Amat tua. Amat tinggi. Amat besar.
Harusnya dicarikan pula nama yang bisa melegenda untuk sepasang durian tua itu. "Orang sini menyebutnya durian tembaga," kata penduduk setempat. Durian tembaga adalah jenisnya. Bukan legendanya.
Sepasang sumur tua hanya saya lihat sesapuan. Pun pohon sejuta umat. Tapi saya sampai tertidur pulas di keteduhan Kebun Raya Kenari Tua ini.
Satu lagi yang saya temui di Banda Besar: anak-anak. Mereka berlarian di halaman sekolah. Mereka tetap sekolah di hari Sabtu. Sepulang sekolah mereka bergerombol di depan satu toko kecil. Ada yang duduk ada yang berdiri. Saya hampiri mereka: lagi ramai-ramai makan semacam rujak dari satu piring yang sama.
Ternyata bukan rujak. Itu bakasang. Semacam saus untuk kelengkapan makan daging pala mentah. Waktu saya menghampiri mereka yang tersisa tinggal sausnya. Lalu tiga anak berlari menjauh. "Ke mana mereka?" tanya saya. "Cari buah pala," jawab yang tertinggal.
Mereka lari masuk kebun. Tak lama kemudian mereka kembali membawa banyak buah pala warna kekuningan –pertanda sudah cukup tua.
Mereka pun kembali bergerombol di sekitar piring saus. Buah pala diiris-iris. Irisan itu didulitkan ke saus. Dimakan. Saya minta ijin ikut mencobanya: enak. Mirip rujak tapi bukan rujak. Saya hanya mencicipi tiga iris. Terlalu pedas.

--
Saus seperti itu hanya ada di Banda. Dijual di toko-toko lokal. Itulah saus yang terbuat dari ikan mentah, jenis cakalang, yang dicampur garam lalu diberi sedikit air. Ketika akan dimakan boleh ditambah sendiri dengan chili --orang setempat menyebut cabe dengan chili.
Inilah kali pertama saya tahu camilan bakasang. Ikan mentah. Merasakannya pula. (Dahlan Iskan)
Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 18 Mei 2026: Rumah Pala
Wilwa
Oh ya. Sekedar info. Pala dan Pahala adalah dua istilah dari Sansekerta yang saling menggantikan. Pala adalah singkatan dari Pahala. Karma Pala = Karma Pahala = Karma yang berbuah. Itu yang saya tahu.
pak tani
Sudah semingu ini IHSG longsor terus.... Tapi tenang, orang desa tidak main saham kan.... ? Kalau pun punya saham, mungkin pemberian cuma2... walaupun..... Ah sudahlah.... ada prof.Pry :)
Lakshmi Meilany
Menarik tentang per-pala-an. Di pulau Jawa, pala banyak di dapat di Bogor begitu juga pohon kenari. Manisan buah pala banyak dijual, sirup nya juga ada. Tapi hati² untuk yang berkendara bisa bikin ngantuk. ???????? Kenari ( walnut) untuk toping kue, cake, kulitnya dijadikan cenderamata di jual depan kebun Raya Bogor: hiasan gantungan kunci. Sila mampir ke Bogor menikmsti manisan/ asinan buah pala juga sirupnya
Juve Zhang
Baru baca di berita online bos CHDI mengkritik bandara VVIP IKN yg masih sepi belum digunakan....Beaya perawatan setahun habis 9 milyar Rp....besar sekali perawatan Bandara kecil ini....9 milyar bukan ecek ecek buat Bandara kecil....bos CHDI mengkritik pembangunan IKN habis sekian ribu triliun belum bisa digunakan....atau belum ada yang mau pindah kesana....masih pada betah di ibukota lama ....oh ya kapan ibukota IKN jadi resmi ibukota....atau pake dua nama ibukota dan Bapak Kota....lebih keren....satu satunya yg punya Bapak Kota....kenapa tidak....
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
KEBUN PALA RHUN.. Tiga hektare. Hanya 110 pohon pala. Banyak orang kota mungkin menganggap terlalu jarang. Padahal di Banda, itu normal. Pala perlu ruang napas. Perlu matahari. Perlu angin. Maka di sela-selanya ditanam kenari. Kenari itu seperti pagar hidup. Penahan angin laut. Dengan pola begitu, satu hektare sekitar 36 pohon. Tidak padat. Tapi sehat untuk kebun pala tua. Kalau satu pohon menghasilkan rata-rata 1.000-1.500 buah setahun, maka 110 pohon memberi sekitar 500-700 kilogram biji pala kering. Harga sekarang sekitar Rp45 ribu-Rp100 ribu per kilogram. Pendapatan kotornya sekitar Rp25 juta-Rp60 juta setahun. Belum termasuk fuli. Justru ini “emas merah”-nya pala. Dari 110 pohon, hasil fuli kering bisa 80-150 kilogram setahun. Harga fuli kini bisa Rp180 ribu-Rp250 ribu per kilogram. Penghasilannya sekitar Rp15 juta-Rp35 juta setahun. Kenari juga ikut menyumbang. Bila ada 30-50 pohon kenari, hasilnya bisa Rp10 juta-Rp25 juta setahun. Jadi total pendapatan kebun tiga hektare itu kira-kira Rp50 juta sampai Rp120 juta setahun. Tidak fantastis. Tapi cukup membuat angin Rhun terasa harum uang pala.
Irary Sadar
Baik. Tapi ini bukan pikiran saya. Ini saya perhatikan dan saya konfirmasi ke AI. Paparan yang Anda sebutkan diatas mempertegas salh satu sebab kenapa jajahan Belanda telat maju. Ya karena dibebani hutang. Terima kasih atas pencerahahnnya. Luarbiasa...
Bahtiar HS
Pak @wilwa, Ya sepakat. Kmrn sy tulis komen soal "keunggulan" warisan bahasa di negara2 jajahan Inggris dibanding jajahan Belanda. Juga yg ironis pada Indonesia yg mau nanggung utang kerugian Belanda utk menukar dg kedaulatan NKRI dlm KMB 49. Lumayan 4,3 miliar gulden atau kalo skrg Rp 19,779 T pd kurs Rp 17.500/USD. Opo tumon?
Wilwa
@YA. Dan jangan lupa konflik di Timur Tengah yang berlarut-larut adalah warisan kolonialisme imperialisme alias penjajahan Inggris. Mulai dari lahirnya Israel, suku Kurdi yang terbagi di 4 negara, suku-suku Arab yang dipecah-pecah menjadi banyak negara, dll.
Wilwa
Jadi jajahan Belanda “malang” nasibnya karena jajahan Belanda relatif sangat sedikit dibanding jajahan Inggris yang tersebar di lima benua sehingga bahasa Inggris menjadi bahasa pergaulan internasional / antar bangsa. Diperkuat dengan USA yang mendadak menjadi negara adidaya /superpower gegara terjadi perang antar penjajah Eropa. Jerman, Italia, Inggris, Perancis, dll berkelahi sendiri. Saat itu Inggris adalah kolonialis imperialis (baca: kapitalis = konglomerat / big companies / super rich men) terbesar. Poundsterling menguasai pasar global. Namun akibat kapitalis raksasa saling berkelahi sendiri di Eropa sana, maka USA yang kejatuhan “durian runtuh”. Dari negara medioker, USA mendadak jadi negara paling kaya dari jualan senjata di Perang Dunia Kedua. Ironis bahwa sebuah negara medioker seperti USA bisa maju karena kebetulan negara-negara maju itu berkelahi sendiri. Saling menghancurkan gedung, jalan, pelabuhan, rel kereta api, industri, manufacturing dll infrastruktur. Eropa hancur porak poranda karena konflik di antara mereka sendiri. Negara Kapitalis Imperialis Besar berkelahi dengan sesama negara kapitalis imperialis besar. Dan negara kapitalis imperialis medioker yaitu USA yang akhirnya beruntung. Ingat sejarah dunia bahwa saat itu USA baru saja belajar jadi imperialis dengan mencaplok Hawaii dan Filipina. Sedikit homo sapiens sadar bahwa kapitalisme akan selalu menciptakan krisis karena pada akhirnya mereka akan berkelahi sendiri ibarat tak ada predator yang bisa rukun
HONDA CBR150R
semoga tidak terlambat, saya ingin jastip kacang kenari sama abah. Yang bikin saya bingung, di google kenari = walnut, di images kenari Maluku seperti almond. Setelah cari2 itu memang beda semua antara kenari, walnut dan almond.
MULYADI PEGE
Sudah tiga hari Abah menulis tentang pulau Rhun, dan sudah berkali-kali Abang membandingkan pulau ini ini dengan manhattan. Betul pulau ini pernah ditukar guling oleh inggris dan Belanda, tapi tolong kemajuan Manhattan jangan dikatakan telah mengalahkan semua pencapaian pulau Rhun. Sebab saya malah berpikir terbalik, bahwa hidup yang selaras dengan. Alam adalah yang terbaik. Ketika orang Rhun pergi ke Manhattan, tidak mungkin mereka ingin menetap disana, sedangkan jika sebaliknya, saya yakin mereka ingin tinggal disana. Saya teringat tulisan Abah tentang salah seorang ilmuwan Indonesia yang tinggal di Amerika atau Jerman, saya agak lupa. Ia berkata dengan jujur bahwa tempat ternikmat menjalani hidup adalah di pelosok gunung salak Bogor. Pun Abah, tempat ternikmatnya adalah dick farmnya, bahkan Abah sering sekali obrolannya lebih nikmat di dengar, ketika dismorning justru karena Abah di kebon. Abah, saya lahir , tumbuh, dan kemungkinan akan mati di Pondokgede. Sebelum tahun 90an Pondokgede adalah tempat yang nyaman untuk tinggal, hari ini sudah ngga ada enak-enaknya. Karena pohon2 besar nan asri yang dahulu menutupinya, sudah berubah menjadi beton. Kembali ke kenari dan kemiri, apakah mungkin Abah, gurihnya dua benda ini, perbandingannya seperti gurihnya kacang tanah dengan kacang mete? Kata gurih disini saya masih ragu Abah, sebab ada pameo bahwa makanan ternikmat di dunia adalah makanan gratis.
Liáng - βιολί ζήτα
Logical Fallacy. Seringkali, sebagian orang terjebak dalam pola-pikir yang cenderung "berandai-andai"..... sehingga timbul kesalahan dalam menyusun logika atau proses penalaran..... Sepertinya, ada tanggapan dari beberapa komentator terhadap tulisan CHDI 2hari ini, yang senada seirama dengan pemikiran Abah DI, bahwa..... Seandainya "Pulau Rhun tidak ditukar guling dengan Pulau Manhattan"..... dan, seandainya "Bengkulu tidak ditukar guling dengan Singapura"..... Dari sudut pandang Psikologi Kognitif..... dengan bahasa yang sederhana, Anda sangat jelas menggunakan "kondisi ke-2 wilayah tersebut seperti sekarang ini, untuk kejadian pada kondisi masa lalu"..... Ketika "tukar guling" itu terjadi, apakah kondisi Manhattan dan Singapura sudah seperti sekarang ini yang membuat kita tercengang ?? [1/2]
Liáng - βιολί ζήτα
Bukankah, pada masa itu, Manhattan belum ada apa-apanya ?? Dan..... Singapura itu hanyalah hamparan rawa-rawa ?? Dengan analisis terbalik..... kalau saja tidak terjadi tukar guling..... dan katakanlah Manhattan dan Singapura itu milik Indonesia..... apakah Indonesia memungkinkan untuk membangun Manhattan dan Singapura seperti kondisi sekarang ini ?? Apakah Anda bisa menjelaskannya secara analisis keilmuan ?? Tukar guling pada masa lalu itu hal yang berbeda dengan kondisi (nilai keekonomian) kedua wilayah tersebut pada masa sekarang ini !! Tukar guling wilayah, sah-sah saja untuk disesali..... Tetapi, kondisi kemajuan wilayah Manhattan dan Singapura (dari sisi nilai keekonomian)..... tidak ujug-ujug jadi !! [2/2].
riansyah harun
Entah ada kolerasi antara hasil tanaman Pala di Pulau Rhun dengan hasil tanaman pala di salah satu Provinsi yang jaraknya agak sedikit lebih jauh dengan pulau Rhun tadi ?? Kalau di Pulau Rhun saya kurang mendengar kalau buah Pala itu bisa dijadikan oleh ole ciri khas makanan sebagai buah tangannya, namun tidak jauh jauh dari situ ada salah satu Provinsi, buah Pala itu malah menjadi ciri khas ole oleh daerahnya. Celakanya ole ole tadi sering di konotasikan agak nyeleneh oleh pemesan. Kata mereka, kalau ke "kota itu" jangan lupa dibawakan "pala pala manis". Mungkin perusuh sudah pada tau, kalau Pala Pala itu, di daerah tadi, lebih identik dan dikenal dengan betis mulus milik kaum wanita. Kalau tidak percaya, datanglah ke kota tadi. Uppssss, hampir lupa, daerah itu juga ciri khas wanita dan ibu ibunyi, mayoritas mirip turunan Belanda yang cantik cantik. Apa mungkin saat Belanda lagi giat giatnya menanam Pala di Pulau Rhun, dan mereka menjual hasil Pala tersebut di daerah yang saya sebutkan tadi.., sekaligus mendapatkan jodohnya dan ber anak Pinak disana...???? Siapa tau suatu saat, Pak Dahlan bisa mampir kembali di daerah itu setelah sekian tahun lalu waktu masih menjadi sesuatu, dan bisa menguak asal muasal buah Pala dan Pala Pala Manis di daerah itu....???
Muin TV
Di timur, ada Pulau Rhun yang ditukar dengan Manhattan. Di barat, ada Bengkulu yang ditukar dengan Singapura. Kedua wilayah yang ditukar ke Inggris itu sudah maju pesat. Bedanya seperti langit dan dasar sumur. Entah siapa yang salah.
Er Gham 2
"Anak anak Pulau Rhun makan ikan setiap hari. Kaya omega 3. Tidak mengapa tidak ada MBC di sini". " Hei, Kakak. Jangan sindir. Kami di Jakarta sini, juga makan ikan setiap hari". "Ikan sapu sapu? "
Runner
Pulau Rhun. Pembandingnya gak kaleng-kaleng, Manhattan. Rhun terkenal karena ada catatan sejarah. Buah Pala dan Kenari di Rhun. Apakah nilai ekonominya melebihi “nilai” catatan sejarahnya?. Rhun masuk CHDI. Rhun tambah ngetop. Yang tahu bertambah banyak. Yang punya duit bisa menjadikannya potensi wisata. Apa bisa ? Kalau bisa tolong cermat dan kearifan lokal dijunjung tinggi. Jangan sampai “pesta babi”. Eh Pesta Tuna atau Pesta Kambing ?
Er Gham 2
Ada famili kerja di salah satu pabrik di Cikarang. Dia kok happy ya kalo dollar terus naik. Ya, karena emang produk pabrik nya hampir 100 persen diekspor. Banyak juga yang happy di kawasan pabrik itu. Mungkin termasuk eksportir batubara, dan minyak goreng cpo tentunya. Pajak dari ekspor batubara meningkat juga kah. Kalo impor tinggi, bayar pakai yuan aja. Khan banyak produk impor dari China. Kalo ekspor bayar pakai dollar. Perlu ada data, apakah negara sebenarnya diuntungkan dengan kenaikan kurs dollar. Kok senyum senyum aja kelihatannya.
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
PALA, HAJI, DAN ILMU EKONOMI ORANG PULAU.. Orang Rhun rupanya punya ilmu ekonomi sendiri. Sangat sederhana. Tapi kok terasa lebih masuk akal daripada teori para motivator keuangan di hotel berbintang. Hasil pala tidak dihabiskan. Disimpan. Untuk bangun rumah. Sekolahkan anak. Naik haji. Tidak ada cerita beli mobil demi konten. Tidak ada cicilan demi gengsi. Saya suka kalimat Burhan Lohor itu. Pendek. Tapi dalam. Pala di sana bukan sekadar komoditas. Ia seperti deposito hidup yang tumbuh di pohon. Tinggal sabar menunggu musim panen. Mungkin karena hidup di pulau kecil membuat orang lebih mengerti arti cukup. Laut mengajari batas. Angin mengajari kesabaran. Dan pohon pala mengajari bahwa rezeki tidak selalu datang tiap hari, tapi bisa datang berkali-kali asal dirawat baik-baik. Lucunya, di kota besar orang bergaji tinggi sering stres memikirkan masa depan. Di Rhun, orang berkebun pala malah bisa mendaftar haji. Memang ukuran kaya tiap tempat berbeda. Kadang yang bikin miskin bukan kurang uang. Tapi terlalu banyak keinginan. Orang Rhun tampaknya sudah menemukan rumus itu sejak lama.
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
MANHATTAN PUNYA WALL STREET, RHUN PUNYA TERAS Saya tersenyum membaca bagian rumah Burhan Lohor. Terasnya menghadap pantai. Dipisahkan jalan kecil dan dua baris pohon. Sederhana sekali. Tapi justru di situ terasa mewahnya. Hari ini orang kota membeli apartemen mahal hanya untuk dapat “ocean view”. Di Rhun, laut datang sendiri ke depan rumah. Gratis. Tinggal buka pintu. Burhan juga menarik. Pegawai Kementerian Agama. Punya kebun pala. Rumah dijadikan guest house. Anak sekolah di pulau lain. Hidupnya seperti berjalan pelan. Tapi arahnya jelas. Tidak panik. Tidak sibuk pencitraan. Saya membayangkan kalau Burhan tinggal di Jakarta, mungkin sudah diajak seminar tentang “optimalisasi aset properti pesisir berbasis hospitality”. Di Rhun, ia cukup menyebutnya: rumah. Tulisan Pak Dahlan kali ini membuat saya sadar, kemajuan ternyata tidak selalu identik dengan kebisingan. Kadang kemajuan itu justru ketika orang masih bisa duduk di teras, melihat laut, lalu tahu bahwa hidup tidak harus selalu tergesa-gesa. Manhattan mungkin punya Wall Street. Tapi Rhun masih punya waktu untuk menikmati matahari sore. Itu kemewahan yang makin mahal di dunia modern.
Echa Yeni
Jika Rhun punya Heaven on Earth Mingkun manhattan ndue hell on world
Ahmad Zuhri
"Mungkin ini mirip kemiri di Jawa tapi lebih enak dan gurih.." kata Bapak itu. Merasakan/mencoba sesuatu yg baru biasanya seperti itu.. sensasi baru yg blm pernah dirasakan oleh indera tubuh, efek penasaran dan baru sedikit merasakan jadi wajar seperti itu. Sesuatu yg dinikmati hampir setiap hari, rasanya sudah biasa, begitu2 saja, bahkan mungkin bisa menimbulkan rasa jenuh.. Salah satu cara biar tidak jenuh ya mencoba sesuatu yg baru, atau jalan2 kemana gitu.. pulang biasanya membawa 'energi' baru. Kalau kata Wong Darjo yg sering bilang.. Begitu jg istri, kl hanya itu2 saja biasanya jadi bosan.. untuk itu cobalah nambah yg baru wkwkwk. #kaburrrr
MULIYANTO KRISTA
Ya jelas kangen dengan masakan dengan bumbu kenari dari pulau Rhun lah. Wong semuanya serba gratis dan lokasinya sangat luar biasa. "Nikmat mana lagi yang engkau dustakan abahku". .. . #sandale ojo digowo molih lho yooo......
Saifudin Rohmaqèŕqqqààt
Sebagai gambaran harga pala dan kemiri. Pala jauh lebih mahal. Pala bubuk sekitar Rp 110.000 per kilo. Kalau kemiri sekitar Rp 50.000. Tapi saya suka masak pakai kemiri, apalagi kalau bikin tempe mendoan, saya kasih bumbu kemiri, biar rasanya lembut dan empuk.
Kalender Bagus
Ini pertanyaan hipotesis, apakah kemakmuran sebuah negeri berkorelasi dengan tingkat spritualitasnya, jika ya, apakah karena spritualnya baik maka ia makmur, atau karena ianya makmur maka tingkat spritualnya tinggi. Sebagian orang beranggapan bahwa semakin makmur seseorang, makan level spritualnya meningkat. Kalo pendapat saya, semakin spritual seseorang (dengan catatan spritual yang benar, bukan hanya polesan), semakin makmur ia. Saya pernah kegiatan di dua desa yang berdekatan, dengan karakter yang sama sekali berbeda. Di desa pertama, mesjidnya besar, orangnya ramah dan adem-adem, rumahnya bagus-bagus. Di desa kedua, mesjidnya kecil, ga ada yang berjamaah, masyarakatnya kayaknya gersang: banyak narkoba, banyak yang kawin dua, rumahnya apa adanya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber:
Komentar: 125
Silahkan login untuk berkomentar