Rumah Pala
Ilustrasi pala di Pulau Rhun, pulau yang sempat "ditukar guling" dengan Pulau Manhattan di Amerika.--
Di pulau Rhun saya juga bertemu Burhan Lohor. Ia punya kebun pala tiga hektare: sekitar 110 pohon.
Semua penduduk Rhun pernah dengar sejarah tukar guling antara Rhun dan Manhattan. Apalagi setingkat Burhan. Ia sarjana ushuluddin dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ambon.

Dengan Burhan Lohor di Pulau Rhun.--
Saya juga ke rumah Burhan: menghadap pantai. Antara rumahnya dan pantai hanya dipisahkan jalan satu-satunya selebar 1,5 meter di pulau itu dan dua baris pohon. Dari teras rumahnya pantai justru terlihat indah di sela-sela pepohonan.

Bagian belakang rumah Burhan Lohor di Pulau Rhun.--
Tidak ada pohon pala di sepanjang pantai. Pohon pala tidak bisa hidup sempurna di pantai: akan rusak karena angin. Maka untuk ke kebun pala kami harus menapaki jalan menanjak menjauh dari pantai.
Awalnya kami menapaki 40 tangga jalan: tidak berat. Anggap saja ini lanjutan dari olahraga senam-dansa sebelum berangkat. Tidak jauh dari pendakian pertama itu ada sekolah SD, masjid besar yang sedang dibangun dan perumahan penduduk.
Sekolahnya rapi, bersih dan terpelihara. Pun rumah-rumah penduduknya. Kami terus menapak menanjak. Ada yang tanjakannya sangat tajam. Jalan setapak itu terbuat dari semen. Sepeda motor masih bisa naik sampai masuk ke tengah kebun. Kami pilih jalan kaki.
"Tuh pak, buah palanya banyak," ujar Burhan menunjuk ke atas pohon pala yang masih muda. Saya pun mendongak. Baru sekali ini saya melihat buah pala langsung di pohonnya.

Burhan Lohor menunjuk pada buah pala.--
Di dalam kebun pala rasanya seperti di dalam hutan. Rindang. Sejuk. Pohonnya tidak monokultur. Banyak jenis pohon lainnya. Terutama pohon kenari yang besar-besar. Sangat besar. Menjulang tinggi. Rimbun.
Kenari adalah pohon pelindung sekaligus menghasilkan. Ia melindungi pohon pala dari angin kencang dan terik yang berlebihan. Tapi kenari juga menjadi sumber penghidupan –biji kenari laku dijual. Juga untuk kepentingan bumbu masak sehari-hari.

--
Selama di kepulauan Banda saya makan dengan lauk serba kenari: ikan dimasak dengan kenari. Terong goreng disiram sambal kenari. Saya sangat khawatir: akan kangen masakan dengan bumbu kenari sepulang dari Banda nanti. Mungkin ini mirip kemiri di Jawa tapi lebih enak dan gurih.
Kami terus memasuki kebun pala lebih ke dalam. Ini lagi musim panen pala. Setahun pala bisa dipanen tiga kali: dua kali panen raya, satu kali panen tidak terlalu raya. Bulan ini adalah panen yang tidak terlalu raya.
Banyak pohon pala muda di sekitar saya: umur 15-an tahun. Berarti peremajaan pala terus terjadi. Harga pala yang tetap baik membuat orang semangat menanam pala.
"Boleh dikata jumlah pohon pala terus bertambah," ujar Burhan. Syukurlah tidak ada ancaman kepunahan –sampai kelak kerakusan investor datang ke Banda membuat ''pesta babi'' di sini.

--
Burhan juga suku Buton. Sudah generasi ketiga di Rhun. Setelah tamat SD dan SMP di Rhun ia masuk madrasah aliyah di pulau Seram –ikut keluarga yang bekerja di sana. Lalu ke Ambon kuliah di IAIN.
Sebagai pegawai negeri Kementerian Agama, Burhan tidak hanya punya kebun pala. Rumahnya dijadikan guest house: empat kamar. Ia tinggal bersama istri di kamar bagian belakang. Dua anaknya sekolah di pulau lain.
Di Rhun, keperluan harian penduduknya didapat dari mencari ikan atau jadi pegawai seperti Burhan.
"Hasil pala disimpan untuk bangun rumah atau biayai anak sekolah. Juga untuk naik haji," ujar Burhan.
Burhan dan istri sudah mendaftar haji. Sudah antre sembilan tahun. Masih belum tahu harus menunggu berapa tahun lagi.
Bulan depan saya akan ke Manhattan. Sekalian nonton piala dunia. Di sana hati saya pasti ingat Rhun: apakah Manhattan bisa seperti itu kalau tetap dijajah Belanda sampai tahun 1945. (Dahlan Iskan)
Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 17 Mei 2026: New Rhun
Liáng - βιολί ζήτα
iseng-iseng saja. Abah..... jalan-jalan yuk ke Uni Emirat Arab, nanti saya temenin Abah ke head office nya Al Kafaah yang bergerak di bidang SWRO. SWRO (Sea Water Reverse Osmosis) adalah teknologi desalinasi yang menyaring air laut menjadi air tawar yang aman dikonsumsi. Metode SWRO ini bekerja dengan menggunakan tekanan tinggi untuk mendorong air laut melewati membran semi-permeabel, sehingga garam dan mineral berbahaya tersaring hingga 99%. Untuk Resor, Hotel, atau Pulau Terpencil, SWRO, yang paling banyak dipakai, diantaranya : • Al Kafaah (Uni Emirat Arab) • Pure Aqua (Amerika Serikat) Juga ada..... • Veolia Water Technologies (Prancis) • IDE Technologies (Israel) Harganya juga wajar-wajar saja..... Al Kafaah misalnya, untuk kapasitas 15.000 Liter/hari, harganya hanya beberapa ratus juta saja. Sedangkan untuk kapasitas skala besar, harganya bisa sampai miliaran. Zaman sudah berubah, Abah..... kemajuan teknologi sudah sangat pesat, kalau kita belum bisa memproduksi sendiri, ya kita gunakan produk negara lain, sejauh kemanfaatannya vital paké banget.....
djokoLodang
-o-- ... Tapi penduduk Rhun kelihatan damai, rukun, dan tidak perlu tergesa-gesa mengejar kereta bawah tanah untuk ke tempat kerja. ... *) Mengerjakan sesuatu tanpa tergesa-gesa. Itu lah makna sebenarnya dari ungkapan jawa "alon-alon asal kelakon". Bukan berarti dikerjakan dengan lambat-lambat. Kalau perlu cepat, ya dikerjakan dengan cepat. Tanpa tergesa-gesa. Ora kesusu. Kalau tergesa-gesa, biasanya ada saja yang terlewat. --0-
Tivibox
Di Kerajaan India Pedalaman.... BENDAHARA KERAJAAN : "Yang Mulia Paduka Raja, ekonomi kerajaan kita sedang tak baik-baik saja. Nilai tukar uang kita -Rupee- lagi jatuh, sekarang cuma dihargai 17.500 per 1 Dinar. Mohon petunjuk Yang Mulia......" PADUKA RAJA : "Ah kamu tenang saja, biar rakyat tak panik nanti setiap kamu mengunjungi rakyat berpidatolah. Bilang saja uang kerajaan kita banyak, tak gawat-gawat amat, semua aman rakyat tak usah khawatir. Tapi jangan bilang-bilang ya kalau saya nyuruh kamu ngomong begitu. Paham ?" BENDAHARA KERAJAAN : " Siap, paham Paduka. Tapi, eh apa Paduka sendiri tak khawatir ? " PADUKA RAJA : "Jujur saja, dalam hati kecil saya juga ketar-ketir memikirkan ini. Hmmmm...tapi kamu ada ide nggak, nanti kalau saya pidato harus bilang apa biar rakyat tak tahu saya lagi khawatir akan nasib ekonomi kerajaan kita ini.... ?" BENDAHARA KERAJAAN : (Berpikir sejenak, lalu dia berkata pelan dekat kuping Paduka raja) : "Paduka, bilang saja kalau rakyat di pedalaman tak butuh Dinar, agar mereka terhibur. Padahal kalau harga Dinar sudah selangit nanti harga sembako dan kawan-kawan pasti akan ikut naik karena efek domino naiknya Dolar ....eh..salah anu...Dinar. Begitu ya Paduka..." PADUKA RAJA : "Baiklah, kita sepakat soal itu. Eh tapi kamu sekarang mau pidato dimana dulu buat memulai......." Ajudan Raja tiba-tiba nongol dan menyahut tanpa diminta : "Pokoknya Ada...!!!!"
Tivibox
Seperti biasa, kalau selesai membaca catatan perjalanan Abah DI ke suatu tempat, saya selalu mencari letak tempat itu di Google Maps. Buat sekedar tahu saja dimana lokasi tempat itu kalau dilihat dari tempat saya berpijak, berapa jaraknya dan lain-lain. Saya mengukur memakai measure distance di Google Maps, jadi tidak terlalu akurat. Pulau Rhun, ternyata berada di tengah-tengah kepulauan Maluku yang maha luas dengan lautnya. Hanya kelihatan seperti titik kecil di peta. Terdekat ada pulau Ai, lalu pulau Banda di arah timur dan sedikit ke arah timur laut. Kalau diukur secara kasar jaraknya dengan pulau Banda sekitar 20 an kilometer. Lalu, pulau Ambon berjarak sekitar 200 kilometer ke arah barat laut. Di utara, ada pulau Seram yang agak besar dengan jarak sekitar 130 an kilometer. Garis pantainya ? Kurang lebih 9,25 km panjangnya dengan luas pulau 3,65 km persegi. Benar-benar perjalanan yang menyenangkan sekaligus mendebarkan karena lebih banyak di lautan.
Leong Putu
Sandal Pak Bos yang bagus itu, buat Dulur Rungkut saja.
Bahtiar HS
Once upon a time, Mr. Dahlan, seorg raja media dari Manhattan jalan2 ke Rhun. Ia berpakaian jas mahal dg jam tangan emas berkilau ditimpa sinar mentari. Di tepian pantai, ia jumpa dg nelayan yg baru bersandar dg perahu tok2 kecilnya. Tampak wadah bambunya hanya terisi 5 ekor kakap besar yg msh segar. Dg sinis, ia bertanya pd si nelayan. "Siapa namamu?" Nelayan itu berkaos oblong lusuh dg topi usang dan peluh sekujur tubuh. "Saya Kamarudin, tuan," jawabnya ramah. "Cuma dpt segitu?" tanya Dahlan meremehkan. "Perahumu kecil. Pasti kerjanya cuma sebentar." Udin tersenyum ramah, menyeka keringat di dahinya. "Betul, tuan. Saya cuma melaut dua jam. Ini sdh lbh dari cukup utk makan keluarga saya hari ini." Dahlan terkekeh, suaranya terdengar sombong di antara deru ombak. "Hanya utk makan hari ini? Sungguh pola pikir org miskin yg malas. Makanya hidup Anda tdk maju2 dan tetap spt ini!" Udin tdk marah. Tetap tenang mengikat tali perahunya. "Lalu, kalau saya melaut lebih lama, apa yg hrs saya lakukan, tuan?" "Kalau tdk malas, Anda bs melaut seharian! Dpt banyak ikan, lalu uangnya ditabung utk beli perahu motor yg lebih besar. Dlm bbrp thn, Anda bisa punya armada kapal sendiri, menyewa ratusan nelayan, dan membuka pabrik pengalengan ikan di kota besar spt saya!" sarannya dg angkuh. "Setelah punya semua itu, lalu apa tujuan akhirnya, tuan?" tanya Udin polos. "Anda akan jd org kaya raya! Bisa pensiun dini, hidup tanpa beban, lalu pergi berlibur ke pantai spt ini." (1/2)
Bahtiar HS
"Ke pantai, tuan?" "Ya. Berlibur ke pantai. Bersama keluarga, mancing sesuka hati, menikmati sisa hidup dg damai tanpa perlu memikirkan uang lagi!" Udin menatap Mr. Dahlan, lalu menunjuk ke arah gubuk kecilnya di pinggir pantai di mana istri dan anak2nya sdg melambaikan tangan sambil tersenyum gembira ke arahnya. Dg suara yg lembut namun menohok, Udin menjawab, "Mister, jika tujuan akhir dari semua kerja keras dan kekayaan Anda adlh utk bisa bersantai di pantai, mengobrol dengan keluarga, dan menikmati hidup dengan damai... maka tanpa harus menjadi kaya raya dan merusak hidup org lain, saya sudah mendptkan kemewahan itu setiap hari sejak dulu." Dahlan seketika terdiam. Mulutnya terkunci. Ia melihat jam tangan emasnya yang mahal, lalu melihat ke arah laut lepas yg tenang. Ia dpt pelajaran sangat berharga di pulau yg pernah ditukar dg Manhattan ini. Disclaimer. Ini hanyalah kisah fiktif belaka. Kalau ada nama yg sama dg Anda, itu hanyalah sebuah kebetulan yg disengaja saja wkwkwk. Jadi mohon maaf jgn sampai tersinggung. Apalagi dimasukkan hati. Tamat (2/2)
Windarto
"Pengerjaan rumah ini tidak asal-asalan. Plafonnya juga dikerjakan dengan sangat cermat. Finishing-nya mengalahkan bangunan masjid negara di IKN". Ada informasi tersaji dengan kondisi rumah di pulau Rhun. Terselip juga kritik secara halus dan elegan oleh Abah Dahlan.
Kang Sabarikhlas
anu...permisi saya harus komen " TUMBEN " ada 9 foto, banyaknya..... Gambar fotonya bagus²....apa viewnya yang bagus atau kameranya,...mungkin juga photografernya mulai 'ciamik'. Wow...pakai ada VS.nya komplit, Ada banding²ke, bangunan, tatakota bahkan lokasi plus peta detilnya...wow komplit. Biasanya kisah perjalanan ke Tiongkok kek, Timur Tengah kek dan kenegara lain kek, tanpa peta² Saya nyang goblik, baca sering bingung, 'ini ndik mana?'... Lha wong saya hanya hafal rute jalan ke Tretes...ups anu Trawas - Pacet....duh.
Prieyanto
Pulau Rhun Di ujung Banda, sunyi bernama Rhun berdiri, Pulau kecil berbisik dalam sejarah berhari-hari. Di tanahnya, pala pernah jadi mahkota dunia, Aroma rempah mengikat takhta para kuasa. Pohon-pohon pala tumbuh seperti doa purba, Menjaga rahasia laut dan angin yang sama. Di sana masa silam berkelindan dengan ombak, Tentang tukar nasib dengan Manhattan yang megah. Satu ditinggal jauh di Barat penuh gemerlap, Satu tetap diam, memeluk langit yang senyap. Namun Rhun tak pernah iri pada gemintang kota, Ia kaya dalam sunyi, damai dalam cerita. Lautnya biru, bening seperti hati yang lapang, Ikan berlari bebas di karang yang tenang. Perahu sederhana bersandar di tepian pagi, Membawa rezeki dari laut yang tak pernah mungkiri. Warganya hidup sederhana, saling menjaga rasa, Tak hiruk, tak gaduh, hanya hangat dalam suasana. Di senja, matahari jatuh perlahan ke pelukan laut, Rhun tetap indah—terpencil, namun megah tak tersentuh waktu. #prie
Juve Zhang
Kemarau panjang gimana minum mandi... Mengagumkan mereka hidup tanpa air tawar.....tanpa dokter tanpa amlodiplin tanpa Metformin tanpa obat medis tanpa paramedis....sangat mengagumkan penduduk pulau mini ini.tanpa maling tanpa preman tanpa hiruk pikuk motor....
Kalender Bagus
Kemungkinan Abah ke Rhun mau bangun PLT Angin atau semacamnya, supaya listriknya ga tergantung lagi pada solar yang lagi mahal. Atau mau bisnis pala sekalian?
Er Gham 2
Warga di kampung nelayan di pulau pulau kecil biasanya saling mengenal satu sama lain. Walau rumahnya berjauhan sekalipun. Rumah mereka pun umumnya tidak berpagar. Orang bertamu bisa kapan saja. Tidak sungkan. Kadang bisa meminta sekedar bumbu dapur yang kehabisan saat masak ke tetangga sebelah rumah. Tidak ada polusi. Tidak perlu tergesa gesa mengejar waktu. Pemandangan alam sekitar rumah sudah cukup menjadi sarana 'healing' setiap hari. Mereka tidak perlu memburu pemandangan alam sampai bermacet macet ria seperti penduduk di suatu kota. Sudah tiap hari macet, bising, polusi, juga harus gesit sikut kanan kiri menyalip di jalan raya, saat di kendaraan umum, saat masuk mall, masuk lift. Tembok rumah juga harus dibangun setinggi mungkin. Digembok tiap malam gerbangnya. Tidak kenal baik dengan tetangga, kecuali sekedar salam senyum basa basi saat berpapasan di jalan. Tapi lucunya, mereka berpikir: mereka telah hidup secara modern dan maju.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber:
Komentar: 25
Silahkan login untuk berkomentar