VVIP Selamanya?
--
Jangan dihitung nilai ekonominya: Bandara Nusantara di IKN. Nama resminya: Bandara VVIP IKN. Rasanya itu nama sementara. Masa sih ada bandara bernama seperti itu.
Masa sih untuk hanya satu orang presiden harus dibuatkan bandara semahal itu?
Bandara VVIP IKN besar sekali. Terbesar di Kalimantan. Panjang landasannya 3.600 meter. Lebar: 45 meter. Pesawat komersial terbesar di dunia saat ini, Airbus 380 bisa mendarat di situ --tidak bisa mendarat di Balikpapan yang panjang landasannya 3.000 meter.
Jalan tol dari IKN ke bandara VVIP sedang dikerjakan. Saya lewat jalan umum yang kecil: 40 menit. Kalau jalan tol sudah jadi mungkin hanya perlu waktu 20 menit. Jalan tol dan bandara hanya untuk VVIP?
Harusnya juga untuk umum. Kelak. Hanya saja jarak dari bandara Sepinggan Balikpapan ke bandara VVIP IKN hanya lima menit --pakai pesawat.
Kalau bandara VVIP itu kelak untuk umum maka akan seperti Soekarno-Hatta dan Halim Perdanakusumah. Tapi kue ekonomi Jakarta luar biasa besar --untuk ukuran Indonesia. IKN tidak dirancang menjadi sebesar Jakarta. Berarti punya dua bandara akan berlebihan. Atau bandara VVIP IKN akan tetap hanya untuk VVIP di masa yang panjang.
Sewaktu saya ke bandara itu tentu saja sepi. Hari itu hari Minggu. Dan lagi memang tidak ada VVIP yang mendarat atau berangkat.
Pesawat VVIP tentu menurunkan penumpang di depan ruang kedatangan VVIP. Ruang itu megah dan lapang. Arsitektur luarnya mirip lamin --rumah panjang suku Dayak. Interiornya modern. Di sebelah ruang penyambutan itu ada ruang rapat besar. Presiden bisa rapat di situ bersama para menterinya maupun tamu negara.
Ketika saya ke apron VVIP terlihat ada satu aero bridge --belalai gajah. Pesawat non VVIP berhenti menurunkan penumpang di belalai gajah itu. Presiden Jokowi beberapa kali mendarat di bandara VVIP. Presiden Prabowo rasanya baru dua kali --sebagai presiden.

--
Saya tidak lama di bandara ini. Yang penting saya tahu: Di IKN yang dekat Balikpapan ternyata perlu dibangun bandara baru. Dulu saya tidak percaya: betapa borosnya. Toh kalau sudah ada jalan tol khusus Balikpapan-IKN paling hanya perlu perjalanan 45 menit. Kalau perlu disiapkan helikopter khusus VVIP dari Balikpapan ke IKN.
Dari bandara ini saya diantar menuju mulut jalan tol terdekat. Yakni mulut darurat masuk jalan tol yang belum dioperasikan. Saya kembali melewati jembatan satwa yang melintang di atas jalan tol. Saya pelototi jembatan itu. Tidak ada urang utan yang lewat. Di jembatan satwa satunya lagi saya juga memicingkan mata. Tidak tampak. Mungkin karena saat saya lewat di situ tidak waktunya azan salat asar.
Di pertengahan jalan tol ini saya exit: ke jalan lama ke arah jalan tol jurusan Balikpapan-Samarinda.
Di jalan tol, kang Sahidin mengingatkan saya: waktunya live Persebaya. Ia tahu kalau sedang asyik menulis naskah untuk Disway saya lupa segala-galanya. Tepat menjelang magrib kami tiba di rumah istri. Ucapan sambutan untuk saya berupa laporan hasil pertandingan --mengira saya lupa nonton. (Dahlan Iskan)
Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 3 Mei 2026: Istana Garuda
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
GAMBARAN KOTA IKN.. Semua tampak sempurna. Ibu Kota Nusantara digambar seperti kota masa depan: 1) rapi, 2) dekat, 3) efisien. Istana Garuda jadi pusat. Dikelilingi 1) kantor, 2) jalan lebar, dan 3) ruang upacara. Jaraknya bersahabat. Sepedaan pun gak capek. Tempat ibadah disusun tidak jauh. 1) Masjid, 2) Gereja, 3) Pura, 4) Vihara. Toleransi ditata seperti taman. Indah dari atas. Tenang dari jauh. Tinggal menunggu doa-doa benar-benar memenuhi ruangnya. Hunian dipisah. 1) Pejabat di rumah tapak. 2) Pegawai di rusun. Logis. Tapi juga terasa seperti zoning rasa birokrasi. Kehidupan sehari-hari belum tentu ikut tertib seperti peta. Fasilitas lengkap. 1) Hotel sudah berdiri. 2) Rumah sakit, sekolah, bandara menyusul. Bahkan lapar pun sudah diantisipasi. Tinggal yang belum pasti: Keramaian spontan. Yang tidak bisa didesain. Transportasi canggih disiapkan. Bus listrik. Jalur sepeda. Jalan lebar tapi ingin sepi. Ini agak paradoks sih. Indonesia biasanya ramai dulu, baru diatur. IKN ini seperti jam Swiss. Presisi. Sunyi. Tidak pernah telat. Tapi kota sejati bukan hanya soal tepat waktu. Ia butuh sedikit kekacauan. 1) Sedikit macet. 2) Sedikit ribut. Tanpa itu, kota hanya akan jadi terlalu sempurna..
Ima Lawaru
terima kasih Abah telah menulis IKN hari ini. Dulu-dulu sekali saya pernah membayangkan IKN ini telah menjadi proyek mangkrak. Mengingat di daerah saya Pulau Tomia, Dispar membangun tempat wisata Puncak Tomia. Bangunannya OK. Bahan-bahannya OK. Biayanya luar biasa OK. Tapi nyatanya sekarang tidak ada perawatan. Tai kambing tersebar dimana-mana. Dalam gedung sampai di luarnya. Belum sarang laba-laba, rumput liar, dan lain-lain. Menyedihkan!!!
Jokosp Sp
Bocah Tuwek Nakal (TWN) baru ke tempat mertua beridulfitri?. Dasar nakale wis kenemenen. Idul Fitrinya tanggal 29 Maret, la kan sudah kelewat dua bulan?. Coba dulu sebelum dapat Galuh Banjar atau awal kawinnya, "rajinnya badatang kadak usah disuruh" jar mintuha binik.lawan lakinya. "Kami ini kadak usah dibawakan oleh-oleh dah himung, asal kawa malihati cucu-cucu ninek". "Ini datang saurangan haja. Sibuk haja manulis". Jar Kakeknya " Nek......kadak usah dibawa manangis".
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
BAGAIMANA KALAU: BALAI NEGARA? Pak Ahmed kreatif. Tapi memang, urusan nama di negeri ini bisa lebih panas dari urusan listrik. Salah diksi sedikit, bisa jadi bahan gorengan berhari-hari. Istilah “istana” terasa tinggi. Terlalu berjarak. Padahal semangatnya ingin dekat. Maka usulan saya adalah: “Balai Negara”. Menurut saya usulan ini OK 1) Familiar. 2) Membumi. 3) Ada awalan dan akhirannya: A) Balai RT, B) Balai RW, C) Balai Kota. D) Balai Negara.. Tidak angker. Tidak feodal. Kalau di Ibu Kota Nusantara berdiri Balai Negara, rasanya lebih mengundang. Presiden bukan seperti raja di menara. Tapi seperti tuan rumah di balai pertemuan. 1) Tempat rakyat datang. 2) Tempat keputusan diambil. Dengan suasana lebih “Indonesia banget”. Lagipula, balai itu identik dengan musyawarah. 1) Ada kursi. 2) Ada kopi. 3) Ada debat kecil yang berujung mufakat. Kadang juga ada gorengan—ini penting untuk stabilitas emosi nasional. Nama memang bukan segalanya. Tapi nama bisa memberi rasa. Dan rasa itu menentukan jarak antara negara dan rakyatnya. Jadi, Balai Negara? Boleh juga. Asal isinya tetap serius. Jangan sampai cuma balainya yang merakyaa, isinya tetap jauh.
Er Gham 2
Rumah para menteri sudah selesai dibangun. Juga rumah untuk presiden dan wapres nya. Semua fasilitas ada. Mengapa masih ditunda. Sudah banyak dana yang dihabiskan. Kayaknya masih 'ogah-ogahan' untuk pindah ke sana. Mau nolak, tapi jaga perasaan yang bangun. Jika batal pindah, daripada mangkrak, dikelola saja oleh Taman Safari Indonesia. TSI IKN Park. Luas dan lokasi nya sudah mendukung.
Ahmed Nurjubaedi
Kalau istilah istana diprotes, istilah apa yang cocok? 1. Gedung Garuda (Garuda Building). 2. Rumah Garuda (Garuda House). Eh, tapi, masak Garuda tinggal di rumah? 3. Sarang Garuda (Garuda Nest). Ini kayaknya yg lebih tepat. Tapi... Nanti bisa diplesetkan menjadi sarang penyamun. Bahaya.... 4. Gubug Garuda (Garuda Hut). Tidak cocok. Bakal dikira pesaing Pizza Hut. 5. Villa Garuda. Nanti yg tinggal di sana akan dikira sedang dan selalu liburan. 6. Omah Garuda. Terlalu Jawa sentris. Lantas, yang tepat apa biar tidak ada yg protes?
my Ando
btw bunga di median jalan itu aspek penilaiannya dr mana sih, kalo mau diliat indahnya itu kan tergantung peraeatan jalan, kalo peraeatan sekelas negeri kaya mgkn boleh lah tapi kalo di negeri kita kyknya abis disiram stngh jam udh belepot debu aspal.. gak ada indah²nya yg nampak malah guguran bunga dan daunnya yg malah nambah polusi keindahan, kalo pohon kayu utk dipinggir jalan kan dari zaman balando udah ada risetnya
my Ando
cerita kemegahan IKN ni tak ubahnya kemegahan stadion JIS dari segi arsitektural sudah pasti yg paling wahid di kelasnya namun sorotan politisnya yg lebih menyuguhkan POV nya mgkn masih agak mending jembatan Suramadu yg hrs melalui beberapa masa politik dari ide, pembangunan awal hingga gunting pita meski pun saat gunting pita sempat heboh beberapa pihak yg beda warna jg saling klaim bahkan perang baliho, kalo jalan tol kyknya penilaiannya ad di tengah² karna yg merasa gak makan jalan tol pun juga beberapa usaha yg harus terdampak sepi dari lintasan jalan kon eh mksdnya jln arteri lama sblm tol ada jg jelas² akan kontra dengan kelasnya Pak Dahlan yg suka mak wusss serta merasakan manfaat dr jalan berbayar itu
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
MINIMAL PENDUDUK IKN IKA IBUKOTA SUDAH PINDAH BENERAN.. Mari dihitung pelan. Biar tidak sekadar mimpi arsitektur. Di Ibu Kota Nusantara, angka lebih jujur dari pidato. ASN pusat: 1) Kementerian besar: 10 × 25.000 = 250.000. 2) Kementerian sedang: 14 × 8.000 = 112.000. 3) Kementerian kecil: 10 × 3.000 = 30.000. 4) Subtotal: 392.000. 5) Lembaga: 60 × 2.500 = 150.000. Total ASN: ±542.000 (bulatkan: 540 ribu). 6) Pendukung: ambil 20%. 540.000 × 20% = 108.000. 7) Subtotal pekerja: 540.000 + 108.000 = 648.000 orang. Keluarga: rata-rata 3 orang per ASN. 540.000 × 3 = 1.620.000. Total minimal penduduk: 648.000 + 1.620.000 = ±2.268.000 jiwa. Belum termasuk efek ekonomi: warung, ojek, guru, tukang cukur. Itu bisa menambah ratusan ribu lagi. Kota akan “membiak” sendiri. Bandingkan dengan hari ini. Seribuan orang. Selisihnya bukan lagi jarak. Ini lompatan kuantum. Kesimpulannya dingin. Istana bisa selesai duluan. Tapi kota baru benar-benar jadi ibu kota kalau angka-angka ini menemukan tempat tinggalnya. Tanpa itu, IKN masih seperti simulasi. Bukan realitas.
Gregorius Indiarto
Di IKN ada masjid negara. Saya pikir rumah ibadah yang lain juga disertai negara. Ternyata tidak. Setelah dibangun dengan biaya negara, apakah kelak, perawatannya juga dibiayai negara? Sebaiknya, perawatan rumah ibadah itu dibiayai oleh jemaatnya. Jika mau pasti mampu. Met siang, salam sehat, damai dan bahagia.
Taufik Hidayat
Wah bagus sekali dan indah sekali Istana Garuda iniz sayang saya hanya bisa membayangkannya karena belum pernah ke IKN. Tapi kalau membayangkan IKN , saya jadi ingat ibukota yg dirancang khusus seperti Canberra atau mungkin Washington DC , maka istana Garuda bisa disamakan dengan White House. Ketika ke DC sekita 12 tahun lalu wktu Om Obama masih jadi presiden, saya masih sempat masuk ke Capitol dengan dafta di internet, tapi rencana mau mampir dan masuk ke White House sepertinya gak ada slot dan lebih susah, akibatnya hanya bisa mengintip gedung ini dari jauh dari Lagayette Square. Yang asyik adalah kenalan denga nenek Conchita yang sudah bangun tenda dan protes nuklir sejak 1980 an. Sayang katanya nenek ini sudah meninggal pada 2016 lalu pada usia 80 tahun. Nah apakah di Istana Garuda ini nanti boleh ada yang protes dengan bikin tenda ? Mungkin protes MBG atau Koperasi Merah Putih? Di sinilah demokrasi Indonesia diuji !
Rashad Alvarado
Tumben Abah berani ngajak kang Sahidin foto bersama. Kemarin-kemarin apa takut tersaingi Bah? Kalah ganteng,kalah tinggi. Kang Sahidin cuma kalah kaya saja. Kabooorrrrr
Waris Muljono
Tentang Istana Garuda. Kalau kita lihat bangunan yg iconic, biasanya kita dgn mudah mengidentifikasi nama bangunan dan hubungannya dgn icon. Misalnua garuda wisnu kencana di bali : garudanya jelas, wisnunya jg jelas. Kalau istana garuda di IKN ini, menurut saya kok icon garudanya kurang jelas. Saya belum pernah ke ikn jadi belum bisa liat dari dekat gimana bentuknya. Tapi dari gambar dan video yang banyak beredar, andai sy belum mendengar publikasi bahwa bangunan itu adalah wujud burung garuda, rasanya sy akan kesulitan bahwa pilar2 yang menjadi background bangunan istana itu adalah berbentuk burung. Rasanya kalau dilihat dari deket, akan lebih sulit lagi mengidentifikasi bahwa bentuk pilar-pilar itu adalah bentangan sayap burung, karena utk melihat bangunan sebesar dan setinggi itu harus dilihat utuh. Makanya sy jd maklum kl bbrp waktu lalu sebagian publik yg "kontra" dgn pembangunan ikn "mengolok" bentuk bangunan tsb sbg kelelawar. Presiden Prabowo nampaknya jg kurang puas dgn design tsb. Setidaknya ini sy baca dari permintaan Prabowo utk mendesain ulang gedung yudikatif dan legislatif, bahkan meminta utk team terkait "studi banding" ke kawasan istana negara2 lain spt india dll.
Er Gham 2
Jika sedang orasi di hadapan ribuan atau ratusan ribu orang, ada risiko problem akustik atau audio di lapangan terbuka. Tidak semua mendengar secara runtut. Dan ada aspek psikologi massa, yaitu ikut ikutan sebelahnya yang dominan. Kadang khalayak hanya menangkap kata terakhir untuk diulang. Kadang karena tidak fokus. Ada yang mendengarkan sambil maen game atau scroll tiktok di hape. Tidak dengar apa isi pidato. Sebelahnya bilang 'tidakk', dia ikut bilang 'tidakkk'. Ada rasa lapar juga karena dari Cikarang jam empat subuh, belum sempat sarapan. Misal: "Kita mau terus dijajah atau pilih merdeka?". Maka khalayak akan jawab, "Merdekaaa". Atau, "Sekarang sudah ada IKN. Kita pilih menetap atau pindah?". Maka khalayak akan jawab, "Pindaahhh". Jangan bertanya, "Apakah ini bermanfaat atau tidak?". Maka ada risiko dijawab,"Tidaakkk".
Bahtiar HS
Istana Garuda di IKN, bagi yang pro adalah maha karya berupa istana yang megah dan adiluhung yg kalau dilihat dari kejauhan tak ubahnya burung Garuda yg sedang mengepakkan sayapnya. Tapi bagi yg kontra tetaplah spt istana hantu di kegelapan malam yg dibangun dg menghambur2kan uang rakyat utk sesuatu yg tidak prioritas, utk tidak menyebut mubadzir spt komen Pak @ES di bawah. Meski Abah menunjukkan bagian2nya yg sudah selesai atau akan selesai dibangun. Yg eksotiklah. Yg megahlah. Yg ornamennya spt kratonlah. Mungkin orang akn berhenti berkomentar ketika pemerintahan benar2 sudah pindah semua ke IKN yg baru dan berjalan sbgmn mestinya. Entah kapan.
Liáng - βιολί ζήτα
iseng-iseng saja Sepertinya, ada yang mempermasalahkan penggunaan kata "Istana"..... Sebenarnya sih tidak ada yang salah penggunaan kata Istana atau Palace ataupun 宫殿 (Gōngdiàn)..... lha memang begitu koq maksudnya..... sebagai tempat Kaisar, Raja, Ratu, atau Presiden, ataupun Pemimpin Kolektif Junta Militer yang menjalankan Pemerintahan. Istana sebagai representasi Negara, Bangsa, dan Pemerintahan, tentu saja dari segi fasilitas mesti yang terlengkap dan terbaik..... Mungkin masalahnya, orang-orang yang mendapat giliran bertugas di Istana, terutama di negara-negara demokrasi lewat pemilihan umum, mungkin ada yang merasa sebagai "pemilik 5 tahunan" dari representasi Negara, Bangsa, dan Pemerintahan tersebut..... sehingga terkesan, ya semacam feodalistik-lah..... Juga, mungkin "penamaan" Istana di sini, kurang populer, sehingga tidak bisa berdiri sendiri, selalu mesti diawali dengan kata Istana terlebih dahulu. Istana Merdeka di Jakarta, misalnya, rasa-rasanya akan cukup membingungkan kalau kita hanya menyebut Merdeka..... demikian juga dengan Istana Garuda..... Berbeda halnya dengan menyebut White House di US, ataupun 中南海 (Zhōngnánhǎi) di Tiongkok, orang-orang tahu maksudnya..... lha itu kan Istana juga.....
Jokosp Sp
Kalau suatu saat nanti perawatan diabaikan, dan tumbuh pohon beringin di atas istana burung garuda itu, maka pohon beringin itu akan membesar. Membesarnya akan memunculkan akar-akar yang sangat banyak dan liar ke mana-mana. Ini belum tumbuh pohon beringin saja sudah terlihat kalau cor besi beton itu terlihat sangat tidak estetik, apalagi nanti ada tumbuh pohon beringin. Membangun itu lebih mudah dibanding merawatnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber:
Komentar: 125
Silahkan login untuk berkomentar