Menurut Maria, bekerja sebagai pagawai SPPG tidak hanya sekedar menunaikan kewajiban sebagai pekerja, namun juga berkontribusi dalam meningkatkan gizi dan kualitas anak-anak bangsa.
Selain berkontribusi dalam menyiapkan makanan bergizi untuk anak-anak lain, termasuk anaknya sendiri yang kini duduk di kelas 4 SD.
BACA JUGA:SPPG Sleman Tridadi 3 Dongkrak Ekonomi Lokal, UMKM-Petani Sejahtera
"Saya bangga dikasih amanat untuk bekerja di sini. Kepada Bapak Presiden, saya ingin menyampaikan banyak terima kasih sudah memberikan makanan bergizi untuk anak-anak saya, juga anak-anak lainnya,” ujarnya.
Dalam kesehariannya, Mega bertugas sebagai juru racik untuk menyiapkan bahan makanan serta bumbu sebelum diproses oleh juru masak.
Ia bekerja bersama 46 pekerja lainnya di dapur MBG Tangerang Selatan yang setiap hari menyiapkan sekitar 3.300 porsi makanan untuk anak-anak sekolah.
Di dapur tersebut, pembagian tugas dilakukan secara terstruktur mulai dari kepala SPPG, akuntan, ahli gizi, tim persiapan, juru masak, petugas pemorsian, pengemasan, distribusi, serta pencuci ompreng.
Mega mengaku sempat khawatir pekerjaannya akan terhenti setelah pihak dapur tahu dirinya hamil.
BACA JUGA:Infrastruktur SPPG Tridadi 3 Diakui Paling Higienis
BACA JUGA:Strategi SPPG Rawa Buntu Penuhi MBG Ribuan Siswa di 4 Sekolah, Puluhan Pegawai dengan Berbagai Tim
Namun, dirinya menjadi lebih tenang karena pengelola tetap memperbolehkannya bekerja dengan jadwal shift yang lebih ringan.
“Pas saya hamil, saya selalu masuk shift siang pada jam 13.00–21.00 WIB," ujarnya.
Menanggapi desakan agar program MBG dihentikan sementara menyusul sejumlah insiden keamanan pangan, Mega dengan tegas menolak.
Baginya, MBG bukan sekadar sumber pekerjaan, melainkan penopang hidup dan pengabdian untuk mempersiapkan generasi bangsa.