Rites de Passage Akhir dan Awal Tahun Baru

Jumat 02-01-2026,10:41 WIB
Oleh: Prof. Jamhari Makruf, Ph.D.

Tradisi ini tidak hanya menjadi simbol harapan baru, tetapi juga sarana memperkuat persaudaraan dan menjaga keharmonisan sosial.

Dalam tradisi Keraton Yogyakarta dan Surakarta, peringatan tahun baru Jawa yang jatuh pada 1 Suro—bertepatan dengan 1 Muharram dalam kalender Islam Hijriah—dirayakan secara sakral dengan rangkaian ritual penuh makna.

BACA JUGA:Rangkaian Wapres Gibran di IKN Saat Pergantian Tahun Baru 2026

Di Yogyakarta, perayaan diawali dengan ritual Jamasan Pusaka, yaitu pembersihan pusaka-pusaka kerajaan oleh para abdi dalem.

Ritual ini melambangkan penyucian diri dan pembaruan semangat.

Selanjutnya, keluarga kerajaan dan abdi dalem melakukan ziarah ke makam leluhur di Imogiri sebagai bentuk penghormatan dan permohonan berkah.

Tradisi khas lainnya adalah Labuhan, yaitu upacara persembahan sesaji di tempat-tempat keramat seperti Pantai Parangkusumo, Gunung Merapi, dan Gunung Lawu. Dalam Labuhan Pantai Selatan, sesaji dipersembahkan kepada Nyai Roro Kidul, sosok penjaga gaib pantai selatan.

Prosesi ini dimaknai sebagai upaya menjaga harmoni antara manusia, alam, dan kekuatan spiritual. Pada malam 1 Suro, keluarga Keraton bersama masyarakat melakukan tradisi Mubeng Beteng, mengelilingi benteng Keraton Yogyakarta dalam keheningan, biasanya setelah doa bersama di masjid.

BACA JUGA:TransJakarta Sediakan Bus Tingkat Gratis untuk Liburan Tahun Baru 2026, Cek Titik Keberangkatannya

Di Surakarta, perayaan 1 Suro ditandai dengan Kirab Kebo Bule. Kerbau berbulu putih yang dianggap keramat ini diarak mengelilingi keraton.

Masyarakat percaya bahwa menyentuh kebo bule, bahkan mengambil kotorannya, membawa keberkahan. Kotoran tersebut kerap dibawa pulang untuk dicampur pupuk demi menyuburkan tanaman.

Masyarakat Tionghoa di Indonesia juga merayakan Tahun Baru Imlek dengan tradisi khas seperti pemberian angpao dan pertunjukan barongsai. Barongsai dipercaya sebagai simbol keberuntungan, kekuatan, dan kebijaksanaan.

Sosok singa dalam barongsai melambangkan harapan akan keberanian dan keberuntungan di tahun yang baru.

BACA JUGA:Pengunjung Ragunan Capai 100 Ribu Orang di Libur Tahun Baru

Refleksi dan Kebersamaan

Perayaan tahun baru—baik yang dijalani secara khidmat melalui doa maupun dirayakan dengan kemeriahan musik dan kembang api—pada dasarnya adalah momen kebersamaan.

Mengutip Émile Durkheim, collective effervescence atau kegembiraan bersama merupakan prasyarat penting bagi lahirnya solidaritas sosial. Tanpa pengalaman kebahagiaan kolektif, solidaritas sulit tumbuh.

Kategori :