Pilihan Childfree Gen Z dan Upaya Pemerintah Menjawab Kecemasan Anak Muda

Rabu 07-01-2026,09:17 WIB
Editor : M. Ichsan

"Angka kelahiran atau kematian di Jakarta mengalami penurunan," pungkasnya.

Sementara hingga berita ini diturunkan, pihak Bappenas belum memberikan keterangan apapun terkait seberapa besar faktor penurunan angka kelahiran 2025 dengan proyeksi ekonomi Indonesia Emas 2045, bonus demografi, dan lainnya.

Fenomena Childfree di Mata Pengamat Isu Perempuan

Istilah childfree belakangan menjadi perbincangan hangat di berbagai platform media sosial dan memunculkan pro dan kontra. 

International Business Times melaporkan bahwa Australian Bureau of Statistic menilai akan lebih banyak pasangan berkeluarga yang memilih untuk tidak punya anak di antara tahun 2023–2029.

Menanggapi fenomena tersebut, pengamat isu-isu perempuan Hj Nur Rofiah mengungkapkan sejumlah alasan pasangan suami istri memilih untuk tidak memiliki anak. 

Ia menyebutkan beberapa faktor yang melatarbelakangi keputusan childfree, antara lain ketidaksiapan finansial, ketidaksiapan reproduksi, riwayat penyakit kronis, trauma, ketidaksiapan menjadi orang tua, semrawutnya konsep keluarga, ancaman kerusakan alam, hingga konflik kemanusiaan.

Menurut Nur Rofiah, keputusan untuk childfree perlu mempertimbangkan kemaslahatan agama, bukan hanya kepentingan individu. 

Ia juga menyampaikan tiga hal yang perlu menjadi pertimbangan pasangan suami istri.

Pertama, kualitas pasangan ditentukan oleh hubungan dengan Allah swt dan sesama makhluk. 

"Keputusan punya anak atau tidak mesti dalam rangka berproses menjadi pribadi yang lebih baik dengan cara bermanfaat seluas-luasnya," katanya.

Ia menambahkan, keputusan childfree akan berbeda maknanya jika diambil hanya untuk kepentingan pribadi. 

Ia mencontohkan seorang kiai yang memutuskan tidak menikah agar lebih maksimal memberi manfaat bagi lingkungannya.

Kedua, keputusan memiliki anak atau tidak harus menjadi keputusan bersama, terutama bagi perempuan yang akan menjalani masa reproduksi panjang. Menurutnya, ketenangan jiwa pasangan harus dijaga melalui proses negosiasi.

"Ketikа istri (karena suatu hal) tidak ingin memiliki anak, namun sebaliknya suami punya pilihan berbeda, maka suami harus memberi pemahaman kepada istri bahwa memiliki anak perlu tanpa paksaan," ujarnya.

Ketiga, ia menegaskan bahwa keputusan childfree tidak menggugurkan tanggung jawab sosial orang dewasa terhadap anak-anak secara sosial.

Kategori :