Pasalnya, pihak investor sendiri akan melihat hal ini sebagai pengelolaan yang buruk, sehingga menimbulkan berbagai sentimen negatif.
BACA JUGA:Konsisten Berdayakan Desa, BNI Raih Penghargaan Hari Desa Nasional 2026
BACA JUGA:Mahasiswi Ilmu Gizi Universitas Esa Unggul Raih Medali Emas di NYSO 2025
"Belanja yang boros namun penerimaan yang seret membuat kekhawatiran terkait anggaran yang sustainable," jelas Nailul.
Selain itu, dirinya menambahkan, hutang yang membengkak yang bisa meruntuhkan kondisi fiskal perekonomian Indonesia.
"Hutang yang menumpuk membuat kinerja fiskal tidak optimal dalam pembangunan," tutup Nailul.