BACA JUGA:Cara Rawat Wajah dari Dalam Minum Kolagen, Tampilan Fresh tanpa Filter
Tujuh Guru Besar, Satu Visi Keilmuan
Pengukuhan tujuh Guru Besar di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta mencerminkan lanskap keilmuan yang luas dan saling terhubung.
Dari komunikasi politik digital, ekologi terapan, kecerdasan artifisial, sejarah dan peradaban Islam, hukum tata negara Islam, manajemen SDM pendidikan, hingga filsafat Islam—semuanya berangkat dari satu kesadaran yang sama: ilmu harus menjawab tantangan nyata zaman.
Komunikasi politik digital, misalnya, tidak lagi sekadar soal pesan dan media, tetapi tentang kualitas ruang publik di era cyberdemocracy.
Ketika algoritma media sosial cenderung memecah belah, ilmu komunikasi dituntut merumuskan strategi etik untuk menjaga dialog publik tetap rasional dan inklusif.
Ekologi terapan berbicara langsung dengan krisis lingkungan dan ketimpangan wilayah. Restorasi ekologi di daerah perbatasan dan wilayah 3T bukan sekadar proyek teknis, tetapi juga soal keadilan ekologis—siapa yang menanggung dampak kerusakan, dan siapa yang menikmati hasil pembangunan.
Kecerdasan artifisial, yang kini menjadi tulang punggung banyak sektor, menantang kita untuk berpikir ulang tentang kedaulatan, privasi, dan relasi manusia–mesin.
Tanpa kerangka etik yang kuat, AI berpotensi memperdalam ketimpangan dan menciptakan bentuk baru ketidakadilan.
BACA JUGA:API Laporkan Komika Pandji Pragiwaksono Dilaporkan ke Polda Banten Soal Mens Rea!
Sementara itu, kajian sejarah, hukum, manajemen pendidikan, dan filsafat Islam mengingatkan kita bahwa modernitas tidak harus memutus akar tradisi.
Justru dari dialog kritis antara warisan intelektual Islam dan tantangan kontemporer, lahir perspektif yang lebih utuh tentang manusia, negara, dan kemanusiaan.
Integrasi Ilmu sebagai Jalan Tengah
UIN Jakarta sejak awal menegaskan diri sebagai perguruan tinggi integratif—menghubungkan Islam, sains, teknologi, sosial-humaniora, dan kebangsaan. Integrasi ini bukan jargon, melainkan kebutuhan epistemik. Dunia yang terfragmentasi oleh spesialisasi ekstrem memerlukan jembatan antarilmu.
Albert Einstein pernah menyatakan bahwa sains tanpa nilai akan pincang, sementara agama tanpa nalar akan buta. Pernyataan ini sering dikutip, tetapi jarang direnungkan implikasinya.
Integrasi ilmu bukan berarti mencampuradukkan metodologi, melainkan menyadari keterbatasan masing-masing disiplin dan membuka ruang dialog.
Dalam konteks ini, Guru Besar memiliki peran ganda: sebagai pakar di bidangnya dan sebagai penjaga keseimbangan intelektual.