Begitu tahu bahwa Adinda akan diperankan oleh Meri, Hoegeng langsung menerima tawaran menjadi pengisi suara Saija.
Dari sinilah, keduanya makin sering berinteraksi. Mulai dari proses latihan, rekaman dan koordinasi siaran membuat hubungan mereka terus berkembang dari sekadar rekan menjadi kian dekat.
Sandiwara Saija Adinda pun mendapat sambutan hangat dan diperdengarkan ulang di RRI Jogja atas permintaan Presiden Soekarno.
BACA JUGA:Meninggal Dunia, Istri Jenderal Hoegeng Sakit Apa?
Berbeda dengan kisah Saidjah dan Adinda yang berakhir tragis, tanpa disadari hubungan antara Hoegeng dan Meri telah tumbuh benih-benih cinta.
Sekitar satu tahun lamanya untuk saling mengenal, keduanya langsung menikah pada 31 Oktober 1946 di Jogja.
Dari pernikahannya ini, Meri dan Hoegeng dikaruniai tiga anak, yakni Sri Pamujining Rahayu, Reni Soerjanti dan Aditya Soegeng Roeslani.
Hidup Harmonis meski Banyak Rintangan
Sebagai seorang pendamping hidup dari pejabat penegak hukum yang dikenal antisuap dan sangat bersih, Meriyati Hoegeng hidup dengan standar intergritas yang sama.
Di balik nama besar Hoegeng, ada Eyang Meri yang selalu menjaga marwah keluarga dan terus menegakkan prinsip moral tanpa kompromo.
BACA JUGA:KPK Kenang Tokoh Bangsa Antikorupsi di Hari Pahlawan: Dari Hatta hingga Hoegeng
Seperti dikutip dari laman resmi Pusat Edukasi Antikorupsi KPK, bertahun-tahun hidup bersama Hoegeng, Meriyati seringkali menjadi sasaran upaya gratifikasi terselubung.
Mulai dari pemberian cincin berlian yang dikaitkan secara tak berdasar dengan dirinya sampai ada kirimin peti hadiah berisi barang elektronik mahal, semua itu ditolak mentah-mentah olehnya.
Eyang Meri selalu menghadap dengan posisi konsisten, di mana dirinya terus menjaga kebersihan nama keluarga dan juga tak akan memberikan celah terciptanya fitnah.
Karena ketegasan sikapnya itu, langkah Jenderal Hoegeng menjadi kuat dalam menjaga integritas hukum di tengah lingkungan kerja yang penuh dengan godaan duniawi.
Pada suatu hari, Hoegeng diangkat menjadi Kepala Jawatan Imigrasi, dan saat itu Meriyati baru saja merintis usaha toko bunga bernama "Leilani" di Cikini.
Namun, ketika sang suami khawatir akan keberadaan usaha tersebut yang bisa saja dimanfaatkan untuk mendekati dirinya sebagai pejabat publik membuat Meri mengambil keputusan tegas.