DNIKS dan Mitra Dorong Akses Seni Ramah Difabel Lewat Nonton Bareng di Bioskop

Rabu 11-02-2026,13:08 WIB
Reporter : Risto Risanto
Editor : Risto Risanto

JAKARTA, DISWAY.ID - DNIKS bersama Srikandi Berdaya dan CITAS kembali menggelar nonton bareng film Teman Tegar Maira: Whisper from Papua sebagai bentuk komitmen menghadirkan ruang publik inklusif bagi penyandang disabilitas. Kegiatan inklusif ini berlangsung di Cinepolis Kebayoran Park Mall pada 10 Februari 2026 dan dihadiri teman-teman difabel dari berbagai spektrum.

Dalam kegiatan nonton bareng difabel yang digagas DNIKS, hadir peserta dari ragam disabilitas seperti teman tuli, grahita, autisme, ADHD, hingga rare syndrome. Kehadiran mereka dalam satu studio menjadi simbol nyata pentingnya akses setara di ruang seni dan budaya.

Agenda ruang publik inklusif untuk difabel ini bukan sekadar hiburan, melainkan bagian dari program rutin DNIKS yang bertujuan memperluas interaksi sosial, memperkuat jejaring, dan membuka akses yang sama terhadap karya film Indonesia.

Ketua DNIKS Bidang Peningkatan Skills dan Pengembangan Profesi, RA Loretta Kartikasari, menegaskan bahwa kegiatan nonton bareng film inklusif ini dirancang sebagai ruang kebersamaan tanpa sekat. Menurutnya, teman-teman difabel berhak menikmati film di bioskop dengan pengalaman yang setara.

Pemilihan film Teman Tegar Maira: Whisper from Papua dinilai relevan dengan semangat inklusivitas yang diusung DNIKS. Film ini menceritakan persahabatan Tegar, seorang anak difabel, dengan Maira, anak Papua dari pedalaman, yang bersama-sama menjelajahi pengalaman hidup penuh makna.

Pesan kuat dalam film Teman Tegar Maira tentang kesetaraan difabel menjadi inspirasi bagi peserta. Sosok Tegar digambarkan sebagai anak yang berani bermimpi dan berpetualang tanpa dibatasi kondisi fisik maupun latar belakang sosial.

Melalui kisah tersebut, DNIKS mendorong semangat inklusivitas di Indonesia agar masyarakat melihat bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk berkembang. Persahabatan Tegar dan Maira menjadi simbol bahwa setiap anak memiliki hak yang sama untuk tumbuh.

Konsep kesetaraan dalam kegiatan inklusif DNIKS untuk difabel juga terlihat dari cara pelaksanaan acara. Lingkungan studio dibuat nyaman bagi peserta autisme dan ADHD, serta tersedia pendampingan agar teman tuli dapat mengikuti alur cerita dengan baik.

Antusiasme peserta dalam nonton bareng film ramah difabel ini terlihat sejak awal hingga akhir pemutaran. Tawa, haru, dan diskusi setelah film usai menjadi bukti bahwa ruang publik yang inklusif mampu menciptakan pengalaman sosial yang bermakna.

Orang tua dan pendamping yang hadir dalam acara DNIKS untuk penyandang disabilitas turut memberikan apresiasi. Mereka menilai kegiatan ini bukan hanya memberi hiburan, tetapi juga menghadirkan rasa penerimaan tanpa stigma.

Bagi DNIKS, akses seni dan budaya bagi difabel merupakan bagian dari hak setiap warga negara. Inklusivitas tidak berhenti pada pendidikan dan pekerjaan, tetapi juga mencakup kesempatan menikmati hiburan di ruang publik.

RA Loretta Kartikasari, yang akrab disapa Dya, berbagi pengalaman pribadinya sebagai penyandang disleksia dalam mendukung gerakan inklusif DNIKS. Ia memahami pentingnya dukungan dan kesempatan agar teman-teman difabel dapat menunjukkan potensi terbaiknya.

Pengalaman tersebut memperkuat komitmen DNIKS dalam membangun ruang sosial ramah difabel yang berkelanjutan. Menurutnya, kesetaraan harus diwujudkan melalui aksi nyata, bukan sekadar wacana.

Melalui program rutin seperti nonton bareng film inklusif bersama DNIKS, diharapkan semakin banyak pengelola ruang publik dan pelaku industri kreatif menghadirkan fasilitas yang ramah bagi penyandang disabilitas.

Ke depan, DNIKS bersama Srikandi Berdaya dan CITAS akan terus memperluas program pemberdayaan difabel dan akses inklusif di berbagai sektor. Nonton bareng menjadi salah satu pintu masuk untuk membangun rasa percaya diri dan partisipasi aktif di masyarakat.

Kategori :