DENPASAR, DISWAY.ID-- Alarm bahaya berbunyi bagi kelestarian alam Pulau Dewata. Alih fungsi lahan di Bali dilaporkan mencapai angka yang mengkhawatirkan, yakni 600 hingga 700 hektare setiap tahunnya.
Kondisi ini memicu ancaman serius terhadap kedaulatan pangan, ketersediaan air bersih, hingga daya dukung pariwisata dalam jangka panjang.
Isu demikian ini menjadi sorotan utama dalam Bali Economic Investment Forum (BEIF) 2026 yang digelar di Bali International Hospital, kawasan KEK Sanur, Rabu (18/2).
BACA JUGA:Istana Pastikan Tak Ada Rencana Mengembalikan UU KPK ke Versi Lama
Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan bahwa meskipun ekonomi Bali tumbuh impresif sebesar 5,82 persen, tekanan terhadap ruang hidup tak bisa diabaikan.
Dalam forum bertajuk Green Investment tersebut, Koster mengungkapkan kegelisahannya terkait menyusutnya luas sawah.
Ia menegaskan bahwa Bali tidak boleh terus-menerus bergantung pada pasokan pangan dari luar daerah.
"Saya tidak ingin Bali terlalu banyak tergantung sumber pangannya dari luar. Itu sangat membahayakan. Kebutuhan dasar seperti pangan, air, dan energi harus bisa dimulai dari Bali sendiri," tegas pria asal Buleleng tersebut.
Koster juga mengkritisi kebijakan pusat yang dinilai belum sepenuhnya berpihak pada karakteristik daerah yang spesifik.
Menurutnya, pembangunan infrastruktur berskala besar untuk menjaga daya saing pariwisata tidak akan sanggup jika hanya mengandalkan APBD Bali semata.
BACA JUGA:Pramono Anung Tambah 2.524 Penerima KJMU, Total Jadi 16.920 Mahasiswa di 114 Kampus
Di tengah ancaman penyusutan lahan, pariwisata Bali justru menunjukkan performa gemilang. Koster mencatat kunjungan wisatawan mancanegara telah menyentuh angka 7,05 juta jiwa, sebuah capaian tertinggi sepanjang sejarah Bali.
Senada dengan hal tersebut, Ketua DPW Nawa Cita Pariwisata Indonesia (NCPI) Bali, Agus Maha Usadha, menekankan bahwa kunci keberlanjutan Bali ada pada perbaikan infrastruktur dan pengelolaan sampah melalui investasi hijau.
Ketua DPW NCPI Bali Agus Maha Usadha menilai BEIF menjadi ruang strategis untuk menyelaraskan investasi hijau dengan kebutuhan riil Bali, terutama infrastruktur dan pengelolaan sampah.
"Kunci Bali semuanya itu di insfratruktur. Kalau kita bicara jumlah kunjungan wisatawan ke Bali 7,05 juta kemarin itu sebenarnya masih bisa dikembangkan," kata Agus.