Skema ini memungkinkan sejumlah beban non-sepak bola dikeluarkan dari perhitungan, memberi ruang manuver finansial yang sangat besar bagi klub Old Trafford.
Langkah ini dinilai sebagai strategi cerdas dalam memanfaatkan struktur korporasi demi tetap agresif di bursa transfer tanpa tersandung regulasi.
BACA JUGA:Manchester United vs Liverpool Rebutan Edmond Tapsoba, Leverkusen Patok Harga Rp1,2 Triliun
BACA JUGA:Arsenal Hancurkan Tottenham 4-1! Viktor Gyokeres Cetak Brace, The Gunners Makin Perkasa di Puncak
Liverpool Lebih Tenang, Tapi Tetap Agresif
Berbeda dengan Manchester United, Liverpool menjalani musim sebelumnya dengan relatif hemat, hanya merekrut Federico Chiesa saat menjuarai liga 2024/25.
Efisiensi itu membuahkan hasil.
Memasuki musim panas, The Reds langsung tancap gas dengan merekrut Jeremie Frimpong, Milos Kerkez, Armin Pesci, dan Florian Wirtz, bahkan memecahkan rekor transfer klub.
Strategi hemat dulu, belanja kemudian, memberi Liverpool fleksibilitas besar tanpa harus panik menjelang tenggat PSR.
BACA JUGA:Intip Daftar 10 Transfer Pemain Terbesar Arsenal Sepanjang Masa, Van Persie hingga Cesc Fabregas
BACA JUGA:Link Live Streaming Tottenham vs Arsenal di Liga Inggris 2025/26, KickOFF: 23.30 WIB
Aston Villa Lolos PSR, Tapi Terancam UEFA
Meski aman dari sanksi Premier League, Aston Villa belum sepenuhnya bisa bernapas lega.
Klub asuhan Unai Emery itu kini menghadapi potensi hukuman dari UEFA terkait pelanggaran aturan biaya skuad (squad cost rule).
Regulasi UEFA membatasi total pengeluaran untuk gaji, amortisasi transfer, dan komisi agen maksimal 70 persen dari total pendapatan klub.
Laporan menyebut Aston Villa melampaui ambang batas tersebut, sehingga berisiko mendapat sanksi finansial, pembatasan skuad, atau hukuman lain dalam kompetisi Eropa.