Nilai pembiayaan yang baru tumbuh 5 persen ini menjadi Rp112,3 triliun.
BACA JUGA:Pelepasan Ekspor Gula Aren Organik Desa Sejahtera Astra Temon Pacitan Capai 11 Ton
Sebaliknya, di bagian divisi Alat Berat, Pertambangan, Konstruksi & Energi turun 24 persen menjadi Rp9,1 triliun.
Penurunan terutama ini dipicu karena harga batu bara yang lebih rendah serta berkurangnya aktivitas jasa penambangan.
Akan tetapi, ada bisnis emas yang menjadi penopang berkat kenaikan harga jual rata-rata hingga 40 persen.
Divisi Agribisnis mencatat lonjakan laba 28 persen menjadi Rp1,2 triliun seiring kenaikan harga CPO 11 persen. Infrastruktur naik 24 persen menjadi Rp1,3 triliun berkat kenaikan tarif dan volume lalu lintas tol.
Teknologi Informasi tumbuh 33 persen dan Properti melonjak 224 persen, terutama dari kontribusi aset gudang industri dan akuisisi baru.
Fundamental Menguat, Dividen Tetap Tebal
Dari sisi neraca, ekuitas yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk naik 7 persen menjadi Rp228,9 triliun.
Nilai aset bersih per saham meningkat 8 persen menjadi Rp5.692.
Kas bersih di luar anak usaha jasa keuangan tercatat Rp7,2 triliun.
Sementara itu, utang bersih anak usaha jasa keuangan naik menjadi Rp64,9 triliun, sejalan dengan ekspansi pembiayaan.
Astra mengusulkan dividen final Rp292 per saham pada Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan April 2026.
Jika ditambah dengan dividen interim Rp98 per saham yang telah dibagikan pada Oktober 2025, maka total dividen mencapai Rp390 per saham dengan rasio pembayaran 48 persen.
BACA JUGA:Astra Dukung Peringatan Hari Desa Nasional 2026, Serahkan Kendaraan untuk Desa Terbaik
Perseroan juga menuntaskan program pembelian kembali saham senilai Rp2 triliun pada Januari 2026 dan melanjutkan tahap kedua sebesar Rp685 miliar yang selesai pada 25 Februari 2026.