JAKARTA, DISWAY.ID -- Bergejolaknya konflik di Timur Tengah pasca serangan AS ke Iran, Bank Indonesia (BI) menyatakan bahwa pihaknya akan turut menyoroti, mencermati pergerakan pasar secara seksama.
Menurut Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas (DPMA) Bank Indonesia, Erwin Gunawan Hutapea, hal ini dilakukan untuk mengantisipasi sentimen risk off di pasar keuangan global, usai perpecahan konflik tersebut.
"Bank Indonesia akan terus mencermati pergerakan pasar secara seksama dan merespons secara tepat, termasuk memastikan nilai tukar Rupiah bergerak sesuai dengan fundamentalnya," ujar Erwin kepada Disway dan awak media lainnya secara daring, pada Senin (02/03).
BACA JUGA:Jangan Panic Buying! Pemprov DKI Pastikan Stok Pangan Aman di Tengah Perang Israel-AS Vs Iran
Lebih lanjut, Erwin juga mengungkapkan bahwa nantinya, Bank Indonesia juga akan tetap hadir di pasar melalui intervensi baik transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri, maupun transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik.
"BI juga akan terus mengoptimalkan kebijakan untuk meningkatkan efektivitas transmisi kebijakan suku bunga," tegas Erwin.
Sebelumnya, Kedutaan Besar (Kedubes) Republik Islam Iran di Indonesia mengecam keras serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap sejumlah wilayah Iran.
BACA JUGA:2.228 WNI dan WNA Batal Berangkat ke Timur Tengah Imbas Serangan Israel-AS ke Iran
Dalam hal ini, Kedutaan Besar Iran juga menguraikan rekam jejak panjang permusuhan Amerika Serikat terhadap Iran yang disebut telah berlangsung selama lebih dari tujuh dekade.
"Tindakan agresi dilakukan di tengah bulan suci Ramadan merupakan pelanggaran berat terhadap kedaulatan nasional," tegas Perwakilan Kedubes Iran.