Hapsah berharap, menjelang Idul Fitri tahun ini, omzet usahanya secara perlahan dapat mengalami kenaikan.
"Semoga aja seminggu mau lebaran banyak lah yang beli," pungkas Ibu dua anak tersebut.
Tantangan Buat Pengusaha Lokal
Tren belanja pakaian bekas atau thrifting yang sempat booming dalam beberapa tahun terakhir dinilai sebagai fenomena wajar di tengah perubahan perilaku konsumen.
Masyarakat kini semakin selektif dalam berbelanja, terutama untuk mendapatkan produk bermerek dengan harga lebih terjangkau.
Pemilik dimstore.jkt, Dimas, menilai meningkatnya minat terhadap thrifting menunjukkan konsumen semakin cerdas dalam menentukan pilihan fesyen.
"Kalau dari gue sebagai pengusaha yang jual produk baru, fenomena thrifting itu menurut gue wajar, sih. Sekarang orang makin pintar cari barang, apalagi kalau bisa dapet branded dengan harga lebih murah," ujarnya kepada Disway.id, Selasa, 3 Maret 2026.
Meski demikian, ia menegaskan pasar produk baru tetap memiliki segmen tersendiri, khususnya menjelang momentum Lebaran yang identik dengan kebutuhan pakaian baru.
Menurut Dimas, sebagian konsumen masih mengutamakan kualitas serta kenyamanan yang ditawarkan produk baru dibandingkan barang bekas
"Tapi di sisi lain, gue tetap percaya pasar produk baru itu tetap ada. Banyak juga konsumen yang lebih suka barang baru karena kualitas, kebersihan, ukuran yang lengkap, dan model yang memang lagi tren Lebaran tahun ini," ungkapnya.
Dimas menilai tren thrifting dan produk baru justru saling melengkapi kebutuhan konsumen.
Antara produk thrifting dan produk baru justru menciptakan persaingan sehat di industri fesyen.
Pelaku usaha dituntut lebih adaptif menghadirkan produk yang sesuai tren serta kebutuhan konsumen agar tetap diminati pasar.
Dua Sisi Dunia Thrifting yang Harus Dipahami
Pakar Ekonomi, Suardi Bakri menilai dunia thrifting memiliki dua sisi hal berbeda yang harus dipahami banyak orang.
Pertama thrifting juga membuka peluang bagi masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah untuk mendapatkan pakaian layak dengan harga yang jauh lebih terjangkau.
"Thrifting bisa membantu mengurangi limbah tekstil, meningkatkan kesadaran konsumsi berkelanjutan, dan memberikan peluang bagi masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah untuk memperoleh pakaian layak dengan harga terjangkau," jelasnya.
Namun demikian, Suardi mengingatkan adanya sejumlah dampak negatif yang perlu menjadi perhatian serius.