JAKARTA, DISWAY.ID - Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) bersama Pimpinan Pusat Muhammadiyah terus memperkuat kampanye Green Hajj sebagai salah satu upaya mengajak para haji peduli akan lingkungan karena manusia dan alam adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan.
“Kami mengembangkan konsep dan menerbitkan buku Green Hajj yang penting agar jamaah memahami bahwa pelaksanaan ibadah haji juga dapat dilakukan secara ramah lingkungan sesuai nilai yang diajarkan Rasulullah saw,” kata Anggota Badan Pelaksana BPKH Harry Alexander di Jakarta, Jumat, 13 Maret 2026.
Harry menjelaskan konsep Green Hajj bertujuan membangun kesadaran lingkungan bagi jamaah haji agar menjadi haji mabrur yang memiliki tanggung jawab terhadap lingkungan sepanjang hayat.
BACA JUGA:Aset Konsolidasi BPKH Rp238,99 Triliun pada 2025, Nilai Manfaat Tetap Terjaga
Menurutnya, buku Panduan Green Hajj yang telah disusun bersama Majelis Lingkungan Hidup PP Muhammadiyah akan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan Arab agar dapat menjadi referensi internasional.
“Buku Panduan Green Hajj akan diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris dan Arab. Ini akan menjadi contoh dari Indonesia bagi dunia internasional,” kata dia.
Dalam buku panduan itu, disebutkan pula wakaf pohon. Jamaah haji Indonesia didorong untuk turut berwakaf pohon produktif yang nantinya bukan hanya bernilai ekonomis dari buah yang dihasilkan juga untuk menekan gas emisi karbon.
Menurutnya, wakaf pohon tersebut dapat dilakukan melalui skema investasi berbasis sukuk yang juga memberikan manfaat ekonomi bagi umat.
“Pohon yang ditanam bisa berupa tanaman konservasi maupun tanaman budidaya. Misalnya kita membeli 100 hektar lahan yang ditanami kelapa, maka setiap bulan bisa menghasilkan sekitar 40 juta rupiah. Selain manfaat ekonomi, kita juga mendapatkan manfaat biodiversitas,” ujarnya.
BACA JUGA:108 Ribu Paket Sembako 'Menebar Manfaat Bersama BPKH' pada Ramadan 2026 Disalurkan
Ia menambahkan pendekatan berbasis isu lingkungan yang diusung melalui program Green Hajj juga menarik perhatian generasi muda, khususnya generasi Z dan milenial.
Gaya pendekatan yang relevan dengan gaya hidup generasi muda, antara lain dengan mengajak mereka menyisihkan sebagian pengeluaran untuk menabung haji melalui aplikasi digital dan layanan perbankan.
“Sekarang Gen Z dan milenial yang mendaftar haji sudah mencapai sekitar 25 persen dari total daftar tunggu. Ini angka yang menggembirakan karena menunjukkan anak-anak muda mulai peduli dan berkomitmen untuk menunaikan ibadah haji,” katanya.
Sementara itu, Ketua PP Muhammadiyah Anwar Abbas menegaskan persoalan sampah di Indonesia sudah sangat meresahkan dan perlu diselesaikan mulai dari hulu, yakni dari tingkat rumah tangga.
“Masalah sampah sangat meresahkan. Kalau kita berbicara dari hulu, maka itu berarti dari rumah tangga. Salah satu yang terpikir oleh saya adalah, bagaimana sampah itu bisa diolah dengan bantuan bakteri sehingga bisa menjadi kompos,” ujar Buya Anwar Abbas.