Terakhir di fokus rekognisi internasional, Rektor menegaskan bahwa pengakuan global menjadi keniscayaan bagi perguruan tinggi saat ini. UIN Jakarta, menurutnya, terus mendorong berbagai program studi untuk meraih akreditasi internasional serta meningkatkan posisi dalam berbagai pemeringkatan perguruan tinggi.
Saat ini, lebih dari 50 program studi di UIN Jakarta telah memperoleh akreditasi internasional dari lembaga akreditasi internasional seperti ASIIN dan ACQUIN. Dalam pemeringkatan akreditasi nasional, selain institusi, mayoritas program studi juga telah mencapai akreditasi Unggul.
Selain itu, UIN Jakarta juga terus mendorong pencapaian ranking perguruan tinggi skala dunia seperti pemeringkatan QS World University Ranking, Webometrics, UI GreenMetrics, dan lainnya.
“Rekognisi internasional tidak bisa dihindari. Ini bagian dari upaya kita meningkatkan kualitas dan daya saing global UIN Jakarta," tandasnya.
Ia menambahkan bahwa dalam pengembangannya, UIN Jakarta kini terus mengambil pengalaman terbaik tata kelola dan pengembangan akademik dari perguruan tinggi terkemuka di level nasional dan internasional. Ini dilakukan agar pengembangan UIN Jakarta bisa semakin terakselerasi dengan optimal.
Menutup paparannya, Rektor berharap dukungan dari para alumni yang tergabung dalam IKALUIN untuk terus memberikan kontribusi pemikiran bagi kemajuan almamater.
BACA JUGA:Gak Ada Akhlak! Profesor pun Dihina Abu Janda saat Live Soal Israel, Diusir Aiman usai Ngomong Kotor
“Kami berharap dukungan para alumni IKALUIN untuk selalu memberikan masukan, saran, dan kontribusi bagi peningkatan dan kemajuan UIN Jakarta ke depan,” pungkasnya.
Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum IKALUIN Dr. H. TB. Ace Hasan Syadzily menegaskan pentingnya peran alumni dalam mendukung pengembangan perguruan tinggi Islam, termasuk UIN Jakarta.
Menurutnya, jejaring alumni yang kuat dapat menjadi kekuatan besar bagi pengembangan institusi pendidikan, khususnya perguruan tinggi Islam di Indonesia.
Ace menekankan bahwa alumni memiliki peran strategis dalam mengawal perkembangan pendidikan tinggi Islam di tengah berbagai tantangan zaman.
Menurutnya, kampus-kampus Islam saat ini menghadapi dinamika yang semakin kompleks, mulai dari perkembangan teknologi, tuntutan peningkatan kualitas riset, hingga persaingan global antarperguruan tinggi.
Karena itu, kata Ace, peran alumni tidak boleh berhenti pada nostalgia terhadap kampus, tetapi harus diwujudkan dalam kontribusi nyata bagi kemajuan institusi.
“Alumni harus hadir sebagai bagian dari solusi. Kita punya pengalaman, jaringan, dan kapasitas untuk ikut mengawal perkembangan pendidikan tinggi Islam agar semakin maju dan relevan dengan kebutuhan zaman,” ujarnya.
Ia juga mengajak seluruh alumni untuk terus memberikan gagasan, dukungan, serta kolaborasi yang dapat memperkuat posisi perguruan tinggi Islam di tingkat nasional maupun internasional.