Manuver Perppu Defisit APBN untuk Selamatkan Perut Rakyat

Senin 16-03-2026,10:21 WIB
Reporter : Tim Lipsus
Editor : Khomsurijal W

Sebab, menjaga perut rakyat adalah benteng terakhir agar roda ekonomi tidak benar-benar mati mesin.

Mudik 2026 Rindu yang Terbentur Harga Cabai

Tradisi mudik adalah denyut nadi ekonomi musiman kita. Jutaan orang pulang, uang mengalir dari kota ke desa. Tapi tahun 2026 ini, denyut itu sedikit melemah.

Data dari Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menunjukkan anomali. Hasil survei memperkirakan pergerakan masyarakat pada Lebaran 2026 berada di angka 143,91 juta orang. Itu sekitar 50,60 persen penduduk Indonesia.

Kedengarannya banyak? Memang. Tapi kalau dibandingkan tahun 2025 lalu, ada penurunan sekitar 1,75 persen. Tahun lalu tembus 146 juta orang.

Kenapa orang malas mudik? Apakah rindu pada orang tua sudah pudar?

Ndak begitu. Masalahnya klasik: ongkos. Walaupun pemerintah sudah jor-joran bikin program mudik gratis dan pengamanan terpadu, biaya di luar transportasi tetaplah mencekik. Harga komoditas pangan di pasar melonjak.

Banyak perantau yang berhitung: kalau mudik, tapi di kampung tidak bisa kasih uang saku ke keponakan, atau malah merepotkan orang tua karena harga beras sedang gila-gilaan, lebih baik menahan diri. Ekonomi sedang menekan daya beli sampai ke titik nadir.

Siklus Ramadan di Aspal Jalanan

Di tengah kelesuan itu, para pejuang aspal tetap bergerak. Tapi polanya berubah.

Eggie, seorang driver ojol yang saya temui di sudut Jakarta malam itu, tampak sibuk dengan ponselnya. Bukan mengantar orang, tapi mengantar makanan.

"Alhamdulillah narik aman. Tapi siklusnya berubah. Kalau dulu paket lebih banyak, sekarang justru order makanan yang meningkat. Orang-orang pesan buat buka puasa," cerita Eggie.

Peningkatan pesanan makanan (ShopeeFood) mencapai 20 hingga 30 persen. Orang malas keluar rumah. Macet menjelang buka puasa di Jakarta sudah seperti neraka kecil. Maka, jari-jari mereka lebih lincah memesan lewat aplikasi.

Eggie ini masih muda. Dia mulai narik sejak Januari lalu sebagai sambilan. Dalam sehari, dia bisa kantongi Rp 100 ribu sampai Rp 200 ribu. Lumayan buat tambahan. Tapi ada satu yang dia tunggu-tunggu, namun belum pasti: THR.

"Harapannya semoga ada THR untuk driver ojol. Kami juga butuh untuk kebutuhan Lebaran," katanya penuh harap.

Nasib mitra memang begitu. Berstatus "mitra", tapi berharap tunjangan bak "karyawan". Untungnya, ada pelanggan yang baik hati kasih tip atau sembako. Itu sudah dianggap sebagai bonus surgawi bagi mereka.

Kategori :