Digitalisasi Sekolah 3T, Di NTT Dongkrak Nilai Siswa Hingga Angka 80

Jumat 20-03-2026,16:14 WIB
Reporter : Doddy Suryawan
Editor : Khomsurijal W

KABUPATEN MALAKA, NTT, DISWAY. ID-- Transformasi digital mulai menunjukkan dampak nyata di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Salah satunya terlihat di SMPN Wederok, Kecamatan Weliman, Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur (NTT), di mana digitalisasi pembelajaran berhasil meningkatkan capaian akademik siswa secara signifikan.

Guru IPS SMPN Wederok, Theobaldus Banafanu, mengatakan bahwa pemanfaatan teknologi seperti Super Aplikasi Rumah Pendidikan, papan interaktif digital (Interactive Flat Panel/PID), serta akses internet berbasis satelit Starlink telah mengubah cara belajar mengajar di kelas.

Fasilitas tersebut mulai digunakan sejak awal 2026 dan langsung berdampak pada 139 siswa di sekolah tersebut.

BACA JUGA:Agenda Prabowo Lebaran, Malam Takbiran di Sumut dan Salat Id di Aceh

Dulu keterbatasan buku jadi kendala utama. Sekarang guru bisa langsung menampilkan materi visual yang lebih mudah dipahami siswa. Proses belajar jadi lebih hidup,” ujar Theobaldus, di Kabupaten Malaka, NTT, Rabu, 18 Maret 2026.

Faktanya perubahan metode pembelajaran ini berbanding lurus dengan peningkatan hasil belajar. Nilai rata-rata siswa yang sebelumnya berada di kisaran 60 kini naik menjadi 75 hingga 80.

Siswa dinilai lebih cepat memahami materi karena didukung visualisasi dan akses informasi yang lebih luas.

Menariknya, meski berasal dari keluarga petani jagung, padi, dan kopra, sebagian besar siswa sudah akrab dengan perangkat digital seperti ponsel pintar. Hal ini membuat adaptasi terhadap pembelajaran digital berjalan lebih cepat.

Selain itu, guru juga semakin kreatif dalam mengajar. Mereka dapat memanfaatkan platform digital seperti YouTube untuk menghadirkan metode pembelajaran interaktif, termasuk ice breaking yang sebelumnya dilakukan secara manual.

Meski demikian, keterbatasan perangkat masih menjadi tantangan. Saat ini, satu papan digital digunakan bergantian oleh beberapa kelas.

BACA JUGA:Kisah Audi, Bonus Asian Para Games Jadi Modal Wujudkan Mimpi

Sementara itu, Kepala Pusdatin Kemendikdasmen, Yudhistira Nugraha, menilai praktik di NTT menjadi bukti bahwa digitalisasi mampu menggeser paradigma pendidikan dari sekadar schooling menjadi learning yang fleksibel dan dapat dilakukan kapan saja serta di mana saja.

Ke depan, kolaborasi antar pemangku kepentingan dinilai penting untuk memperluas akses teknologi pendidikan, khususnya di wilayah 3T.

Kategori :