SINGAPURA, DISWAY.ID- Harga bahan bakar minyak (BBM) di Singapura mengalami kenaikan gila-gilaan.
Kenaikannya mencapai rekor tertinggi. Pada 23 Maret 2026, dilaporkan harga BBM untuk RON 95 menyentuh SGD 3,45–3,47 per liter (setara Rp 58.000–58.500 per liter dengan kurs SGD Rp 16.900).
Kenaikan tajam ini, yang mencapai 20–30% dalam sebulan terakhir, dipicu eskalasi konflik Timur Tengah dan gangguan pasokan global, sekaligus membebani pemerintah serta pelaku usaha di negara kota tersebut.
BACA JUGA:Aturan Main WFH 1 Hari per Minggu Pasca-Lebaran 2026, Sektor Ini Tidak Berlaku
Pemerintah Singapura melalui Land Transport Authority (LTA) dan Monetary Authority of Singapore (MAS) langsung merespons lonjakan harga dengan langkah-langkah mitigasi.
Subsidi BBM sementara diberlakukan pemerintah untuk sektor transportasi publik.
Pihak LTA menambah subsidi bagi operator bus dan MRT hingga SGD 200 juta untuk menahan kenaikan tarif tiket hingga akhir kuartal II-2026.
Pemerintah juga menekankan pemberian insenti bagi kendaraan Listrik (EV). Di mana pemerintah mempercepat program EV Early Adoption Incentive (EEAI) dengan tambahan rebate hingga SGD 20.000 bagi pembeli mobil listrik baru, serta memperluas infrastruktur charging station di HDB flat.
Selain itu, pemerintah menerapkan kebijakan pajak dan rebate. Excise duty BBM tidak dinaikkan, dan pemerintah memperpanjang Fuel Excise Duty Rebate hingga Juni 2026 untuk mengurangi beban pengemudi taksi dan private-hire (Grab, Gojek lokal).
BACA JUGA:Tak Nurut KDM, Penyapu Koin di Indramayu-Subang Tetap Berburu Recehan di Tengah Arus Balik
Selanjutnya, pemerintah melakukan kampanye penghematan energi.
Dalam kampanye demikian, MAS dan Kementerian Keuangan meluncurkan kampanye nasional “Drive Less, Save More” untuk mendorong WFH dan carpooling, dengan target pengurangan konsumsi BBM 15% di sektor transportasi.
Kenaikan harga BBM ini disebutkan, langsung memukul sektor transportasi dan logistik yang bergantung pada kendaraan diesel dan bensin.
Atas kondisi demikian, Operator Taksi dan Private-Hire membuat terobosan.
Grab dan Gojek Singapura melaporkan kenaikan biaya operasional hingga 25%, memaksa penyesuaian tarif surge lebih sering dan penambahan insentif driver hingga SGD 50 per shift. Beberapa driver mengurangi jam operasional karena margin tipis.