JAKARTA, DISWAY.ID - Meskipun China dan Rusia tampak tidak terlibat langsung dalam konflik Iran, keduanya sebenarnya memainkan peran penting di balik layar.
Melalui jaringan perdagangan dan teknologi yang rumit, mereka membantu Iran menghindari sanksi Barat dan tetap mengembangkan kekuatan militernya. Fenomena ini dikenal sebagai “Axis of Evasion”.
Xi Jinping dan Vladimir Putin disebut tetap berperan di balik layar.
Keduanya memang tidak terlihat bersemangat untuk campur tangan secara militer demi mendukung Iran.
BACA JUGA:Daftar Negara Umumkan Darurat Energi Imbas Perang Iran-AS, Indonesia Termasuk?
Selain itu, China dilaporkan enggan mengirimkan senjata ke Iran, sementara Rusia justru diuntungkan dari guncangan pasokan minyak global akibat konflik tersebut.
Selain dukungan retoris, banyak pengamat memprediksi bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden China Xi Jinping tidak akan terlibat secara signifikan dalam konflik Iran.
Namun, spekulasi tersebut salah memahami hubungan ekonomi dan motivasi di balik “Axis of Evasion”, yaitu jaringan negara-negara yang menjadi lawan AS yang bersatu untuk menghindari pembatasan ekonomi Barat.
Secara khusus, hal ini salah memahami bagaimana Beijing dan Moskow memungkinkan Teheran untuk terus melakukan aksi kekerasan di Timur Tengah melalui rantai pasokan.
Perang dengan Iran bukan hanya tantangan yang ditimbulkan oleh Iran semata.
Untuk mengakhiri perang dan mencegah Iran membangun kembali kapasitas militernya, Presiden AS Donald Trump perlu menghadapi Xi dan Putin terkait dukungan mereka terhadap rezim Iran serta skema mereka untuk menghindari sanksi dan kontrol ekspor.
BACA JUGA:Nah Lho! Bukan WFH, Warga Korsel Diminta Jangan Mandi Kelamaan Imbas Perang Iran-Israel
Cara kerja Axis of Evasion
China membantu Rusia dan Iran dengan mengimpor minyak mereka yang terkena sanksi dan menjual teknologi canggih penggunaan ganda kepada mereka. Dalam beberapa tahun terakhir, GeoEconomics Center Atlantic Council mengusulkan istilah “Axis of Evasion” untuk menggambarkan jaringan kompleks yang digunakan negara-negara ini untuk menghindari dan melewati sanksi Barat.
Penelitian mereka, berfokus pada armada tanker minyak bayangan Rusia, serta sistem pembayaran alternatif, skema pencucian uang, dan perdagangan barter.