JAKARTA, DISWAY.ID - Ketika konflik Iran–Amerika Serikat kembali memanas sejak akhir Februari 2026, perhatian dunia tertuju pada Selat Hormuz yang mengalirkan sekitar 20 persen perdagangan minyak global.
Ketegangan di kawasan ini segera memicu lonjakan harga energi dan gangguan pelayaran internasional.
Namun, bagi Indonesia, cerita sesungguhnya tidak berhenti di Timur Tengah. Ia menjalar jauh hingga ke pelabuhan ekspor, gudang logistik, dan akhirnya ke kebun-kebun rakyat yang menjadi tulang punggung sektor pertanian nasional.
Dalam waktu singkat, harga minyak dunia melonjak dari kisaran US$70 per barel menuju mendekati US$90–100.
BACA JUGA:IHSG Sesi I Ditutup Melemah 1,42 Persen, 364 Saham Melesat
BACA JUGA:Sebelum Dipergoki VCS Wanita Lain, Suami Clara Shinta Pernah Kabur dari Rumah di Awal Pernikahan
Kenaikan ini mencerminkan meningkatnya premi risiko terhadap pasokan energi global. Efeknya cepat dan berlapis, biaya bahan bakar kapal naik, premi asuransi pelayaran meningkat, dan jadwal pengiriman menjadi tidak menentu.
Namun, penting untuk melihat gambaran yang lebih utuh. Indonesia tidak berada di jalur konflik langsung.
Sebagian besar ekspor kita tidak melewati Hormuz. Justru karena itu, Indonesia memiliki peluang untuk memperkuat peran sebagai pemasok yang relatif stabil di tengah gangguan global.
Dengan total ekspor Indonesia yang diperkirakan mencapai sekitar US$283 miliar (sekitar Rp4.600 triliun) pada 2025, fondasi sektor eksternal menunjukkan ketahanan yang tetap kuat di tengah gejolak global. Di dalamnya, sektor perkebunan tetap menjadi salah satu penopang utama devisa.
Minyak kelapa sawit diperkirakan menyumbang sekitar US$24,5 miliar (sekitar 404 triliun), disusul karet sekitar US$3 miliar (setara 49,5 triliun), kopi sekitar US$1,6 miliar (26,4 triliun), dan kakao olahan sekitar US$1,7 miliar (Rp28 triliun).
Angka-angka ini menunjukkan satu hal penting, yaitu sektor perkebunan Indonesia bukan hanya besar, tetapi juga strategis. Dalam situasi global yang bergejolak, sektor ini justru dapat menjadi penopang stabilitas ekonomi nasional asal dikelola dengan tepat.
Guncangan Global, Peluang Adaptasi Nasional
Kenaikan harga energi akibat konflik Timur Tengah memang membawa konsekuensi langsung. Ongkos logistik global dapat melonjak 30–50 persen dalam kondisi gangguan, sementara waktu pengiriman bisa bertambah hingga dua minggu akibat pengalihan rute pelayaran.