JAKARTA, DISWAY.ID-- Keputusan Pemerintah untuk tidak melakukan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) di tengah-tengah memanasnya konflik geopolitik kembali menuai kekhawatiran dari kalangan pakar dan pengamat.
Bukan tanpa alasan. Pasalnya, kondisi harga minyak meningkat dan nilai tukar Rupiah mengalami pelemahan, maka pemerintah juga terancam menghadapi dilema kebijakan yang semakin kompleks.
BACA JUGA:Operator SPBE Cerita Detik-detik Kebakaran: Kebocoran Mobil Tangki Gas
Hal serupa pun turut diungkapkan oleh Board of Experts Pakar Prasasti Center for Policy Studies (Prasasti), Halim Alamsyah.
Berkaca dari data dari pengalaman sebelumnya, dirinya menilai bahwa penyesuaian harga BBM dapat memberikan dampak signifikan terhadap inflasi.
"Dalam skenario harga minyak tinggi yang berkepanjangan, pertumbuhan ekonomi Indonesia juga berpotensi melambat," jelas Halim kepada Disway secara daring, pada Sabtu (04/04).
Dalam hal ini, Halim menyoroti hasil analisis Prasasti, yang menunjukkan bahwa penyesuaian harga BBM berpotensi menambah sekitar 0,7 hingga 1,8 poin persentase terhadap inflasi, tergantung pada besaran dan waktu penyesuaian.
BACA JUGA:DPRD Bekasi Soroti Izin SPBE Cimuning yang Kebakaran
Dalam data tersebut, Prasasti juga memperkirakan angka defisit fiskal berpotensi melebar ke kisaran 3,3–3,5 persen dari PDB, atau melampaui batas defisit 3 persen yang selama ini dijaga pemerintah, dengan skenario harga minyak sekitar USD100 per barel dan Rupiah di kisaran Rp 17.000 per dolar.
"Kami memperkirakan pertumbuhan ekonomi dapat turun ke kisaran 4,7–4,9 persen, di bawah rata-rata pertumbuhan sekitar 5 persen dalam beberapa tahun terakhir," jelas Halim
Di sisi lain, Policy and Program Director Prasasti Piter Abdullah justru menilai bahwa kebijakan pemerintah saat ini adalah upaya untuk menjaga daya beli masyarakat dengan menahan kenaikan harga BBM.
Menurutnya, keberlanjutan kebijakan tersebut bergantung pada perkembangan harga minyak dunia.
Oleh karena itulah, dirinya menambahkan, apabila kenaikan harga minyak berlangsung hingga akhir tahun, maka akan semakin sulit menahan harga BBM tidak naik.
"Oleh karena itu masyarakat dan pelaku bisnis perlu memahami bahwa penyesuaian harga energi dalam kondisi tertentu merupakan bagian dari respons kebijakan yang wajar, selama diikuti dengan kompensasi yang tepat sasaran," pungkasnya.