Rupiah Anjlok ke Rp17.100 per Dolar AS, Airlangga Angkat Bicara

Rabu 08-04-2026,07:13 WIB
Reporter : Anisha Aprilia
Editor : Subroto Dwi Nugroho

JAKARTA, DISWAY.ID -- Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali melemah dan sempat menembus level Rp17.100 per US$ pada Selasa, 7 April 2026.

Menanggapi kondisi ini, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan bahwa tekanan tidak hanya terjadi pada rupiah, tetapi juga dialami berbagai mata uang global.

“Itu bukan hanya rupiah, berbagai currency lain kan demikian,” kata Airlangga di kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa sore, 7 April 2026.

BACA JUGA:Prakiraan Cuaca Jakarta Terkini Rabu, 8 April 2026: BMKG Prediksi Jaksel Diguyur Hujan Deras!

BACA JUGA:Dari Perjuangan ke Harapan: Kisah Inspiratif Ibu Anastasya yang Tak Pernah Menyerah

Diketahui, tekanan terhadap rupiah sudah terlihat sejak sesi perdagangan siang hingga sore hari. Bahkan, pelemahan sempat menyentuh 75 poin sebelum akhirnya ditutup di kisaran Rp17.100 per US$.

Berdasarkan Yahoo Finance, rupiah berada di level Rp17.090 per US$ atau melemah 58 poin.

Sementara kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) mencatat rupiah di posisi Rp17.092 per US$, turun 55 poin dari hari sebelumnya.

Pernyataan tersebut mengindikasikan bahwa pelemahan rupiah merupakan bagian dari tekanan global terhadap mata uang negara berkembang, seiring meningkatnya ketidakpastian ekonomi dunia, termasuk dampak konflik geopolitik dan pergerakan suku bunga global.

Di tengah kondisi ini, pasar kini menanti langkah lanjutan otoritas ekonomi, termasuk Bank Indonesia dan pemerintah, dalam menjaga stabilitas nilai tukar serta meredam gejolak yang berpotensi berdampak pada inflasi dan daya beli masyarakat.

BACA JUGA:Masjid Ramah Pemudik 2026 Diserbu 3,5 Juta Orang, Kemenag: Naik 122 Persen dari Tahun Lalu

BACA JUGA:WIKA Rugi Rp1,8 Triliun karena Proyek Whoosh, Bakal Ditarik dari Bisnis Perkeretaapian

Tekanan terhadap rupiah juga menjadi sinyal penting bahwa dinamika global masih menjadi faktor dominan dalam pergerakan pasar domestik.

Tanpa intervensi dan strategi yang tepat, volatilitas nilai tukar berisiko terus berlanjut dalam jangka pendek.

Kategori :