Masuk Istana

Masuk Istana

--

Rumah pembuangan Bung Hatta lebih terpelihara. Sedikit. Ada seorang wanita muda, berkerudung tua, menjadi penjaga rumah itu. Dia juga pemandu wisata –meski banyak tidak tahu ketika ditanya detail peristiwa. Terlihat tidak ada sedikit pun minat pada sejarah rumah itu, apalagi untuk mendalaminya.


--

Wanita itu pegawai negeri. Pun suaminyi yang tugasnya juga di rumah Bung Hatta. Masih ada beberapa benda berharga sejarah di situ: meja kerja Bung Hatta, tempat tidur, mesin tik, dan bangku-bangku sekolah model zaman dulu: tempat duduknya menyatu dengan mejanya yang berlaci yang di permukaan meja ada cekungan untuk tempat pensil dan botol tinta.


--


--

Bung Hatta memang mengajar anak-anak Banda di kelas-kelas yang terletak di belakang rumahnya. Ada lima kelas berjajar di halaman belakang rumah itu. Lalu ada sumur tua yang bermulut lebar-bundar yang tidak pernah lagi dipakai.

Pun bekas bangunan dapurnya: kosong.

Saya ingat bekas rumah Zhou Enlai di kecamatan Huai An di pedalaman Tiongkok (Disway 14 Maret 2026:Zhou BK ). Benda-bendanya terawat. Yang hilang dibikinkan imitasinya. Yang terlihat mati dihidup-hidupkan. Pemandunya wanita muda setara dengan sarjana strata dua sejarah.

Tapi ini memang Banda. Yang kalau mau ke ibu kota kabupaten pun harus menyeberangi laut yang rawan gelombang.

Yang amat saya khawatirkan bukan hanya rumah-rumah pembuangan itu. Masih ada dua bangunan yang istimewa: Istana Mini dan Benteng Banda.

Istana Mini itu –begitu sebutan resminya– memang sangat mirip dengan Istana Merdeka Jakarta. Ups...orang Banda tidak akan rela dengan kalimat itu. Mereka bilang Istana Negara Jakarta lah yang mirip Istana Mini Banda.


--

Istana Mini dibangun sebagai pengganti istana lama yang hancur di tahun 1816. Berarti selemot-lemotnya proses pembangunan istana pengganti masih akan tetap lebih tua dari Istana Merdeka.

Halamannya pun mirip yang Jakarta. Meski tidak terpelihara tapi tidak rusak. Kalau di seberang Istana Merdeka ada lapangan monas, di depan Istana Mini ada taman lebih luas: taman pepohonan yang tersambung ke laut. Kalau sama-sama berdiri di teras istana, pemandangan di depan Istana Mini lebih indah.


--

Tidak ada yang menggunakan Istana Mini ini. Kosong. Siapa saja bisa masuk istana. Kapan saja.

Saya dua kali ke Istana Mini. Waktu pertama datang, di sore hari, saya sulit memotret: ada penduduk yang bakar sampah dengan asap tebal masuk halaman istana.

Besoknya, sebelum matahari terbit saya ke sana lagi: pasti tukang bakar sampahnya masih dibakar mimpi. Memotret menjelang matahari terbit adalah momen terbaik.

Doa saya: penduduk Banda tidak dilanda kemiskinan. Istana ini, meski tidak terpelihara tapi tidak diduduki bangunan liar.

Pun Benteng Banda. Tidak terawat tapi utuh. Menjelang magrib adalah waktu terbaik naik ke atas benteng. Indah sekali. Inilah lokasi tertinggi di pulau Banda Kecil. Dari atas benteng bisa melihat semua laut di sekeliling Banda. Pulau Gunung Api bisa seperti di pelupuk mata.

Dibanding benteng mana pun di Indonesia, Benteng Banda adalah benteng terbaik yang masih ada. Utuh. Indah. Rasanya saya ingin tiap senja ke benteng ini: membaca buku atau menulis untuk Disway.

Sesekali di salah satu kamar lantai bawah benteng ini saya bisa menyanyi tanpa rasa malu: suara cempreng saya bisa berubah menjadi sedikit bulat oleh gema dinding-dinding tebal tuanya.

Pindah ruangan gemanya berbeda. Dari satu ruangan ke ruang lainnya suara saya bisa berganti dari Broery Pesulima ke Changcuters ke Gombloh dan Little Richard.(Dahlan Iskan)

Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 24 Mei 2026: Dapat Apa

Bahtiar HS

Syed @Taufik Hidayat, 

Cerita visa, saya pernah kehabisan masa bisa (expired) di Malaysia. Pernah dpt visa kerja 1 tahun. Pas mau jatuh tempo, kerjaan blm selesai. Dan gak sempat ngurus perpanjangan. Jadilah saya pendatang ilegal bbrp hari atau lbh dari seminggu di KL. 

Selama sekian hari itu slintutan dan menghindar dari polis2 KL. Lalu sembunyi2 naik kerete ngurus perpanjangan visa dibersamai teman Malay ke kantor imigresien di Putrajaya. Alhamdulillah legal lagi untuk beberapa hari lagi utk keperluan kepulangan saya ke Surabaya. 

Kalau ditanyai di pintu imigresien, bahkan dibawa ke bilik khusus krn dicurigai pendatang / pekerja gelap mah sudah bbrp kali wkwkw. Dalam 2 tahun sebelum covid sy ke KL hari Senin pagi dan balik ke Surabaya Jumat tiap 2 pekan sekali. Setahun dg visa kerja. Setelah expired, dg Visa pendatang on arrival. Yg terakhir itu yg sering "ketangkep". Tinggal pinter2nya kita nyari alasan utk bisa lolos. :)) 

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

OMA ITHA 

DAN NEGARA 

YANG HILANG..

Di antara Kopiko, Indomie, dan Pasal 33, justru tokoh paling kuat di tulisan itu adalah Oma Itha.

Perempuan biasa. Tidak pidato di DPR. Tidak punya holding. Tidak bicara hilirisasi. Tapi diam-diam sedang menjalankan Indonesia yang sesungguhnya: merawat ibu tua, menjaga adik sakit, membesarkan anak, lalu tetap tersenyum.

Negeri ini memang sering ditopang orang-orang seperti itu. Sunyi. Tidak masuk breaking news. Tapi kalau mereka menyerah, negara bisa ikut goyah.

Saya jadi teringat: ekonomi terbesar Indonesia sebenarnya mungkin bukan APBN. Tapi “ekonomi kasih sayang”. Nenek menjaga cucu gratis. Tetangga membantu tetangga. Saudara menopang saudara. Semua tanpa invoice dan tanpa tanda tangan notaris.

Di Maluku ada istilah pela gandong. Persaudaraan yang tidak diukur untung rugi. Barangkali itu yang mulai mahal hari ini.

Karena zaman sekarang terlalu banyak hubungan memakai rumus: “Saya dapat apa?” Bahkan kadang silaturahmi pun seperti proposal proyek.

Tulisan Pak Dahlan terasa hangat justru karena mengingatkan: Indonesia belum habis selama masih ada Oma Itha. Orang-orang yang menjaga hidup tetap manusiawi di tengah dunia yang makin transaksional.

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

DAPAT APA, 

INDONESIA?

Kalimat paling jujur zaman ini mungkin memang: “Saya dapat apa?” Bahkan rasa nasionalisme pun kadang harus lewat QRIS dulu.

Maka menarik ketika Pak Dahlan mengaitkan Pasal 33 dengan ekosistem hari ini. Dulu orang rela berkorban demi republik. Sekarang, jangankan berkorban. Parkir motor saja kadang masih tanya: “Gratis nggak?”

Tetapi saya justru optimistis. Indonesia belum kehabisan orang baik. Masih banyak yang bekerja tidak melulu menghitung untung pribadi. Guru di pelosok. Petani yang tetap menanam saat harga jatuh. Pegawai yang tidak semua minta “uang rokok”, padahal tidak merokok.

Masalahnya, sistem sering membuat idealisme cepat masuk UGD. Orang jujur malah dianggap kurang “fleksibel”. Yang lurus kadang kalah cepat dengan yang licin. Akhirnya banyak orang memilih aman: “Saya dapat apa?”

Karena itu Pasal 33 tidak cukup dibacakan. Ia harus dibuat terasa menguntungkan bagi rakyat banyak. Kalau rakyat merasa ikut memiliki negara, mereka akan ikut menjaga.

Sebab nasionalisme paling awet bukan lahir dari pidato. Tapi dari perasaan: negara ini memang rumah saya. Bukan kos-kosan tahunan.

Edi Sampana

Mendengar dismorning pagi ini, saya kefikiran, kenapa ahli lingkungan yang ada di banyak universitas tidak banyak bersuara tentang perusakan hutan di papua (dengan alasan pembangunan). Menonton pesta babi, kita disadarkan atau baru ngeh bahwa saat ini sedang dilakukan perusakan hutan yang sangat besar di papua. Lebih sering, kita ada perhatian pada papua kalau ada penyerangan KKB pada penduduk atau TNI Polri. Tidak kebanyang ... ada 2000 ekscavator milik H isam bekerja bersamaan di papua sekarang. 

Juve Zhang

Tender PLT Sampah yg gelombang kesatu semua inpestor Tiongkok.... sekarang inpestor Jepang Korea Perancis Singapura mulai berani ikut tender tahap kedua..,.. mirip PLTU dulu hanya Inpestor Tiongkok berani ikutan tender.... belakangan Jepang Korea ikutan….

Taufik Hidayat

Tulisan hari ini atau kemaren membahas Des Alwi, Rujak Ambon dan Visa Inggris atau minjam paspor. Wah jadi ingat dengan seorang Alwi kenalan saya yang kebetulan berasal dari pulau Madura. teman saya selalu bilang dia lulusan S1 di ITS dan S2 di ITB. Tapi ketika ditanya lebih lanjut, ITB di Madura adalah Institut Teknologi Bangkalan dan ITS nya adalah Institut Teknologi Sumenep. Lalu soal cerita bikin visa Inggris koq jadi miris punya paspor hijau. Sering yah paspor ditahan lama lama di kedutaan sementara saat itu harus jalan ke negara lain. Saya ingat pernah ditahan 30 hari untuk bikin visa Belgia , padahal tujuan utama ke Luxembourg . Tapi mau ke Singapura juga , yah untung masih bisa pinjam paspor . tapi kadang Eropa alias Schengen memang lucu , mau ke Latvia, bikin visa di Jerman . Karena seringnya diwakilkan ? Tapi tiket dan terbang pun bisa suka suka kita kemana dulu. Bisa aja mau ke Roga karena ak ada penerbangan langsung kita harus mendarat pertama di Helsinki .

Sulaspin

"Saya dapat apa". Ungkapan yang begitu menngelitik. Dari lingkungan terkecil sampai yg lebih luas, semua bicara : Saya dapat apa. Mulai RT, RW, Desa/Kelurahan. Kab/Kota, propinsi termasuk lingkup negara. Pun dunia. Bahkan di lingkungan keluarga pun, ada yang membicarakan : Saya dapat apa. Dunia telah berubah sedemikian cepat dan drastis. Nilai-nilai telah banyak berubah. Bergeser. Inilah urgensinya belajar sejarah. Prinsip dan nilai yang baik perlu dirawat. Dijaga. Apalagi jika prisip dan nilai itu ada dikonstitusi. Contohnya pasal 33. Harus dilaksanakan. Perlu ditegakkan secara murni dan kosekuen. Karena, itu amanat konstitusi. Mungkin sekali tempo, perlu merenung dan menghayati kembali konsep ekonominya Prof Mubiyarto. Mungkin bisa memberikan pencerahan, bagaimana sebenarnya mengimplemetasikan pasal 33. Rasanya kita sudah terlalu lama meninggalkan pasal 33. Tanpa terasa. Disengaja ataupun tidak. Tanpa merasa bersalah. Kita hapy dan enjoy dengan dunia yang serba kapitalis. Jangan sekali2 lupa dengan sejarah. Jas Merah. Jangan Melupakan sejarah.

Thamrin Dahlan YPTD

Dapat apa

Dapat apa apa

Dapat apa ya

Dapat apa kira kira

Dapat apa sih

Dapat apa kah

Dapat apa dong

Dapat apa kah

Dapat apa kita

Dapat apa ....... perusuh

Lekas Jaya

Tulisan Abah sangat tajam membedah kontras antara industri ekstraktif (sawit/batu bara) dengan manufaktur (value creation seperti Kopiko/Indomie). Teguran Presiden adalah sinyal pergeseran paradigma: kita harus lepas dari ketergantungan pengerukan alam yang minim inovasi dan rawan oligarki.

Terkait pertanyaan esensial Abah: Bisakah Pasal 33 UUD 45 hidup di era pragmatis "saya dapat apa?"

Jawabannya BISA, namun tafsir operasionalnya harus berevolusi. Kita tak bisa lagi bersandar pada patriotisme pengusaha.

Di ekosistem kapitalis, "dikuasai negara" (Pasal 33) harus berwujud penegakan hukum absolut. Biarkan pengusaha mengejar laba (menjawab dapat apa), namun negara hadir sebagai wasit tanpa kompromi lewat pajak kuat, hilirisasi ketat, dan royalti adil demi rakyat. Jika ekosistemnya pragmatis, Pasal 33 harus dipaksa lewat regulasi, bukan lagi imbauan moral.

DeniK

Harus pergi ke Papua agar tahu kondisi real di lapangan bukan sumber sepihak .

mario handoko

selamat pagi bp jo, bp jz, bp mul, bp lp.

"menhan sebut pembentukan 750 batalyon baru untuk tekan kriminalitas."

demikian berita di antaranews.com.

sementara polisi, yg seharusnya bertugas untuk menjaga keamanan. sedang sibuk menanam jagung. pemerintah malah menambah tentara untuk menekan kriminalitas. jika gaji seorang tentara, seperti yg disebut di berita. 6 juta per bulan. dan 750 batalyon adalah kira2 750 ribu tentara.

berarti per bulan dibutuhkan anggaran 4.5 ton untuk biaya gaji. belum biaya sempak, biaya seragam dan biaya operasional lain lain.

uangnya dari mana?

kalo menurut bp jz, print aja. sedangkan menurut bp em ha, minta kerelaan para pelaku usaha.

amsyongg tenan

Bahtiar HS

Baca CHD hari ini dari awal sampai akhir saya belum menemukan kaitan satu-satunya gambar yang ditemplekkan di situ dengan isinya. Rujak Ambon? Mana? Kalau nggak menulis "Rujak Ambon" kita nggak tahu kalo itu warung orang jual Rujak Ambon karena tidak ada tanda-tanda Rujak Ambon di gambar itu. 

Lalu ada dua perempuan dalam gambar itu. Yg satu pastinya si penjual rujak. Kalau itu memang warung jual Rujak Ambon. Lha yg satu, yg you-can-see-an dan menghadap kamera itu sapa? Kok ya difoto pas dia menghadap kamera? Ada apa? 

Jadi judul CHD kali mestinya "Ada Apa", bukan "Dapat Apa" :)) 

Maka saya nobatkan CHD hari ini sebagai CHD dengan gambar paling GJB. Gak Jelas Blas. (Dan ini komen saya yg paling GJB juga hahaha) 

mario handoko

selamat pagi bp em ha.

"saya dapat apa?" / 

"pokoknya ada" / 

Achmad Faisol

"saya dapat apa?" atau juga lazim dikatakan "what's in it for me? (WIIFM)" adalah hal wajar...

yang tidak wajar adalah jika sudah dapat yang sesuai aturan masih juga ingin yang menyimpang...

lebih parah lagi kalau yang menyimpang itu dibuatkan aturan supaya tampak wajar yang oleh pak mahfud md disebut autocratic legalis; hakikatnya korupsi tetapi ga bisa dihukum karena sesuai aturan…

Supriandi Pky

Abah tolong bahas Persib dong yg juara liga 3 tahun berturut turut, walau Abah adalah seorang bonek, tapi Abah sebagai wartawan harus nulis tentang Persib.

Juve Zhang

Menkeu Pak Pur:" enam bulan lagi orang susah makin berkurang"...."berkutang" mungkin itu maksud beliau......

Nimas Mumtazah

Selamat siang Pak Jo..

Beberapa hari ini tulisan abah nadanya galau..

Ada kekhawatiran. Tak hendak menebak macam cenayang.. 

Foto pembukanya CHDI hari ini keren, Rujak cantik. Emak² seluruh negeri menjadikannya makanan favorite. Jenisnya beragam.

Rujak cingur, rujak ulek, rujak manis, rujak soto. yg lebih ekstrim rujak setan.

Jelang tarwiyah dan arofah.

Sementara sy hindari nonton video "khitobah". Efek kejutnya luar biasa.

Kujang Amburadul

Tulisan Abah hari ahad ini panjang. Ada 1.787 kata (plus judul).

Dikurangi tulisan Mbak Yani 635 (Rujak Ambon) + 768 (Des Alwi) = 1.403 kata.

Sehingga tulisan Abah aslinya hanya 384 kata sudah. Segitu aja.

Yang bahkan tak ada kompil satupun.

Isi tulisan Mbak Yani masih membahas tentang Banda, Ambon, Rujak dan si pemelihara sejarah Des Alwi. 

Sedangkan tulisan Abah, masih penasaran untuk terus membahas UUD psl 33 yang nasibnya seperti kata koordinasi dan kolaborasi yang kerap diucapkan dalam setiap pidato dan arahan namun dalam pelaksanaannya selalu “zonk” itu.

Tapi apa boleh buat, memaksakan membahas juga kecapean sendiri, sebagaimana para perusuh yang menggebu-gebu dengan segala argumentasi dan arahan buat pemerintah agar bergerak sesuai keinginan rakyat, yang sebenarnya itu adalah “keluhan” kita semua.

Dan kita juga semua perusuh cape.

Alhamdulillah, di awal dipaksa untuk nggeremeng bahas UUD psl 33, diredam dengan dua tulisan tentang Banda, walau dipaksa lagi ditutup dengan UUD psl 33 lagi.

CHDI hari ini gak jelas blas, tujuannya apa?

Ya… biarlah keluhan kita terbang bersama angin, sampai akhirnya kita gak lagi bertanya ke pemerintah, “eh elu tu maunya apa?”, tapi bertanya kepada rumput yang bergoyang.

Tabik.

MZ ARIFIN UMAR ZAIN

Rujak tingkepan, untuk syukuran hamil 7 bulan, saya suka.

Dulu suka juga rujak buah. Kini lebih suka ĺòttekan. Buah diiris dg sambal, lebih terasa buah nya. Ada juga rujak sentuh, ndiko ngalor, kulo ngidul.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Komentar: 81

  • yea aina
    yea aina
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Samsul Hadi M
    Samsul Hadi M
  • Liáng - βιολί ζήτα
    Liáng - βιολί ζήτα
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Wilwa
    Wilwa
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • Irary Sadar
      Irary Sadar
  • Re Hanno
    Re Hanno
    • Irary Sadar
      Irary Sadar
  • Ibnu Shonnan
    Ibnu Shonnan
    • Lègég Sunda
      Lègég Sunda
  • mario handoko
    mario handoko
    • Kujang Amburadul
      Kujang Amburadul
    • Jokosp Sp
      Jokosp Sp
  • DeniK
    DeniK
  • DeniK
    DeniK
  • Jo Neka
    Jo Neka
  • Macca Madinah
    Macca Madinah
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Wilwa
    Wilwa
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Bahtiar HS
    Bahtiar HS
    • Bahtiar HS
      Bahtiar HS
  • Kalender Bagus
    Kalender Bagus
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Lekas Jaya
    Lekas Jaya
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Bahtiar HS
    Bahtiar HS
  • Her P
    Her P
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • dabudiarto71
    dabudiarto71
  • Jo Neka
    Jo Neka
    • dabudiarto71
      dabudiarto71
  • sigit
    sigit
  • heru pujihastono
    heru pujihastono
  • Achmad Faisol
    Achmad Faisol
    • Achmad Faisol
      Achmad Faisol
    • Irary Sadar
      Irary Sadar
  • Tiga Pelita Berlian
    Tiga Pelita Berlian
  • MULIYANTO KRISTA
    MULIYANTO KRISTA
    • Jo Neka
      Jo Neka
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
  • riansyah harun
    riansyah harun
  • alasroban
    alasroban
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Edi Sampana
    Edi Sampana
  • Sugi
    Sugi
  • my Ando
    my Ando
  • Taufik Hidayat
    Taufik Hidayat
  • Sri Wasono Widodo
    Sri Wasono Widodo
  • rid kc
    rid kc
  • Thamrin Dahlan YPTD
    Thamrin Dahlan YPTD
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Maman Lagi
    Maman Lagi
  • MULIYANTO KRISTA
    MULIYANTO KRISTA
  • MULIYANTO KRISTA
    MULIYANTO KRISTA
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • Maman Lagi
      Maman Lagi
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • MULIYANTO KRISTA
    MULIYANTO KRISTA
  • bitrik sulaiman
    bitrik sulaiman
  • MULIYANTO KRISTA
    MULIYANTO KRISTA
  • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
    MZ ARIFIN UMAR ZAIN
    • Lekas Jaya
      Lekas Jaya
    • Lekas Jaya
      Lekas Jaya
  • MULIYANTO KRISTA
    MULIYANTO KRISTA
    • bitrik sulaiman
      bitrik sulaiman
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • Maman Lagi
      Maman Lagi
    • Maman Lagi
      Maman Lagi