Dapat Apa
--
Menarik mana membahas soal Prabowo yang akan melaksanakan Pasal 33 UUD 1945 atau rujak Ambon?
Bagi pembaca Disway seperti Mbak Yani rujak Ambon lebih punya kenangan tersendiri. Maka cukuplah dua kali menulis soal arah baru ekonomi di bawah Presiden Prabowo (Disway 21dan 22 Mei 2026).
Padahal sebenarnya saya masih ingin terus menulis soal yang amat penting bagi Indonesia itu. Setidaknya tentang bagaimana Presiden Prabowo berusaha menghibur sektor swasta Indonesia setelah pidato dar-der-dor yang dianggap kurang menyenangkan pihak swasta.
Di podium DPR itu Presiden Prabowo memuji dua perusahaan besar Indonesia. Maksudnya: ada juga perusahaan yang bisa menjadi sangat besar tanpa menguras sumber daya alam Indonesia. Dua perusahaan itu telah membawa nama harum Indonesia di luar negeri.
Pujian pertama untuk Mayora dengan produk Kopiko-nya. Kopiko dikenal di puluhan negara. Sampai muncul di drama Korea. Lalu Kopiko sempat dianggap produk Korea.
Presiden lantas memuji Mayora. "Saya tahu itu karena presidennya suka minum kopi," ujar Presiden Prabowo di mimbar DPR 20 Mei lalu.
Rupanya Presiden Prabowo perlu mengangkat nama Kopiko agar imbang dengan Kapal Api. Sewaktu berpidato di Jepang Presiden memuji kopi Kapal Api tanpa menyebut Kopiko. Skor Kapal Api dan Kopiko kini 1-1.
Produk lain yang juga dipuji di pidato bersejarah di DPR itu adalah Indomie. Indomie begitu dikenal di dunia, termasuk di Eropa. "Sampai orang Eropa mengira Indomie itu produk Eropa," ujar presiden.
Di awal pidato Presiden Prabowo sangat dar-der-dor pada perusahaan swasta, utamanya perusahaan sawit dan batu bara. Di akhir pidato suasana jadi penuh gerrr oleh penyebutan Kopiko dan Indomie itu.
Bagi pembaca seperti Mbak Yani, tetap bahasan rujak Ambon lebih menarik. Dia sampai menulis dua komentar. Dikirim ke saya. Saya selalu membaca tulisan mbak Yani, sejak tulisannyi masih ''sulit dipahami'', sampai tulisannyi bagus seperti sekarang.
Untuk melihat kemajuan Mbak Yani dalam menulis saya sertakan dua tulisan di bawah ini:
Rujak Ambon
Tulisan di Disway dengan judul Rujak Ambon tentu menarik bagi pembaca wanita. Hampir semua wanita menyukai rujak, maka ulasan mengenai rujak Ambon merupakan bagian yang paling ditunggu-tunggu. Bumbu rujaknya yang tanpa terasi, manis gula aren asal Sulawesi, rasa asam sepat yang berasal dari parutan buah pala, taburan kacang tanah goreng yang melimpah, lengkap sudah.
Sayangnya tidak diakhiri dengan kesimpulan: enak. Padahal sambil kemecer pembaca sudah membayangkan enaknya makan rujak Ambon di tempat asalnya – Ambon. Maklumi saja lah, penulis rujak Ambon itu bukan ahlinya rujak, apalagi tidak disebutkan berapa butir cabai sebagai unsur terpenting dari bumbu rujak: asam-manis-pedas.
Saya pun teringat kepada seorang Oma Ambon bernama Margaretha Latulette. Biasa disapa dengan sebutan Oma Itha. Beliau berasal dari Pulau Buano meskipun sekarang menetap di kota Ambon. Mengenal beliau ketika kami sama-sama mengantar cucu sekolah. Sambil menunggu jam belajar selesai, kami mengobrol tentang banyak hal, utamanya tentang makanan khas, tradisi, dan budaya Maluku.
Dari Oma Itha, saya menjadi tahu, adanya kisah persaudaraan 3 negeri (kampung) 1 gandong di Maluku "Buano Oma Ullath". Negeri Buano di pulau Buano, negeri Oma di Pulau Haruku, dan negeri Ullath di pulau Saparua. Pela dan gandong, prinsip hidup yang terus ditanamkan di tanah Maluku, dan ungkapan sagu salempeng patah dua, yang bermakna persaudaraan yang erat, prinsip untuk saling berbagi, senasib sepenanggungan, juga saya ketahui dari Oma Itha.
Oma yang baik hati ini, ditinggal sang suami di usia 35 tahun. Berpulang dan tidak ditemukan jasadnya. Saat itu bertepatan dengan kerusuhan besar yang sedang terjadi di Maluku. Oma Itha tetap sendiri, membesarkan kedua anaknyi hingga kini telah menjadi Oma bagi keempat cucunyi. Entah mengapa, di perjumpaan pertama, kami bisa langsung akrab. Mungkin karena kami seumuran, juga sesama pensiunan. Bedanya beliau mantan PNS, tiap bulan masih terima transfer-an, he he.
Kunjungannyi ke Depok, karena diminta oleh putranyi agar bisa merayakan Natal bersama sang Mama. Maka di tahun baru yang lalu, Oma Itha sudah pulang ke Ambon. Tinggal kembali bersama Ibundanyi yang sudah berusia 88 tahun dan adik laki-lakinyi yang memerlukan pendampingan dari Oma Itha akibat sakit serius yang dideritanya.
Setelah kepulangan Oma Itha ke Ambon, saya tidak merasa sepi, masih ada Oma-Oma lainnya yang saya sebut dengan julukan Oma super, Oma hebat, Oma keren. Mendengarkan cerita mereka, membuat waktu menunggu tidak terasa jenuh.
Meskipun sudah terpisah jarak dengan Oma Itha, kami tetap berteman. Via Facebook, beliau selalu membagikan aktivitasnyi sehari-hari, mendampingi sang Mama sekaligus merawat sang adik.
Tidak sampai hati rasanya jika harus melanjutkan komunikasi dengan membahas topik makanan dan kesenangan memasak. Cukuplah dengan menekan tombol atau atau sebaris kalimat dukungan untuk setiap aktivitas yang dibagikannyi di FB-nyi.
Tentang buah pala dan kenari, saya juga punya kenangan. Semasa kecil di desa dulu, saya dan teman-teman biasanya mencari buah kenari yang jatuh. Pohon tinggi besar yang tumbuh di tepi sungai itu membuat buah yang berjatuhan lebih banyak ke sungai. Seru saat berusaha memecah biji kenari. Rasa sakit di jari akibat tertumbuk batu ketika berusaha memecahkan bagian kulit yang keras, pulih seketika saat biji kenari yang gurih renyah itu berhasil dikeluarkan dari "cangkangnya". Wajar saja harga kacang kenari jauh lebih mahal dibandingkan dengan kacang mede jika dipakai sebagai topping kue brownies.
Buah pala juga unik. Beda asal, beda pula cara memanfaatkannya. Ketika dulu saya di Manado, daging buah pala biasa dijadikan manisan. Teksturnya renyah karena cara pembuatannya direndam di air gula selama berhari-hari. Ada juga yang ditambahkan cabai untuk jenis manisan pala rasa pedas. Biji pala dijual terpisah, pun kulit tipis yang melapisi biji pala itu juga dimanfaatkan, dikeringkan dan dijual tersendiri, namanya fuly. Ini banyak dibeli orang sebagai oleh-oleh khas Manado.
Sedangkan buah pala yang biasa ditemukan di Bogor, berbentuk manisan kering, diberi warna hijau dan bertabur gula putih. Es buah pala yang segar, disandingkan dengan semangkuk soto kuning yang khas itu, merupakan paduan kuliner yang hanya bisa ditemukan di Suryakencana di kota Bogor. Yummy.
Nama Des Alwi disebut dalam tulisan Disway hari ini, membuat saya perlu mengenang kembali jasa mendiang. Bukan jasa yang diberikan kepada saya tetapi kepada pimpinan saya ketika saya masih bekerja di Jawa Pos dulu –Bapak Dahlan Iskan. Tidak banyak orang yang tahu, bahkan mungkin tidak percaya, namun kenyataan itulah yang saya alami.
Suatu ketika di tahun 2005, saya mendapat tugas yang cukup "mendebarkan", mengurus visa Inggris atas nama Bapak Dahlan Iskan.
Mendebarkan karena instruksi tersebut saya terima kurang dari 3 hari kerja, waktu minimal yang dibutuhkan untuk pengurusan visa pada umumnya. Maka seseorang dari Travel agen yang sudah berpengalaman mengurus visa, saya minta untuk mendampingi saya. Hari itu, Kamis, saya sudah berada di sebuah Biro di Plaza Abda Jl. Jend. Sudirman, Jakarta untuk menyerahkan form permohonan visa yang sudah ditandatangani oleh Bapak Dahlan Iskan.
Ternyata, nama yang bersangkutan, yang tertulis sebagai pemohon visa yang harus menghadap, tidak bisa diwakilkan. Saya segera menelepon ke atasan saya di Surabaya, Ibu Nany Widjaja. Beliau mengatakan: "Bapak sedang di Jakarta, hubungi saja". Dengan sedikit rasa takut namun saya beranikan diri menghubungi nomor beliau dan mendapat jawaban: "saya sedang di Ancol, cukup tidak waktunya jika saya ke sana sekarang?" "Cukup," jawab saya meyakinkan. Setibanya di tempat, bertepatan dengan pemberitahuan dari petugas yang mengatakan," pelayanan ditutup sementara, waktunya istirahat".
Saya berusaha memohon dengan alasan bahwa saya sudah sejak pagi di sini, tetap tidak bisa. Puji Tuhan, beliau tidak marah, kebetulan ada bagian dari form aplikasi yang belum diisi dan harus dilengkapi. Beliau berkata "kita cari meja", maka meja resto Rice Bowl yang ada di gedung tersebut yang kami manfaatkan. Tentu bukan sekadar untuk menulis tapi beliau juga memesan salah satu pilihan menu yang tersedia di meja, mie ayam dan orange juice. Beliau juga bertanya menu apa yang saya pilih, saya menjawab, "sama".
Tidak mungkin saya memilih menu yang berbeda apalagi menu yang lebih mahal dari pesanan seorang yang mengajak makan, tidak sopan rasanya. Lebih tidak sopan, ternyata saya tidak mampu menghabiskan porsi mie ayam dan orange juice saya. Beliau bertanya, "mengapa tidak dihabiskan?" Tentu saja saya merasa canggung, gugup, tidak pernah terpikirkan harus makan satu meja dengan seorang pimpinan. Tapi bukan itu jawaban saya, melainkan, "masih kenyang". Saat hendak menulis di form aplikasi yang belum lengkap tadi, terlihat beliau menelepon putrinya –Mbak Isna lalu menelepon juga menantunya –Mbak Ivo untuk menanyakan suatu istilah "pengundang" dalam bahasa Inggris. Ketika tiba waktunya membayar, saya sengaja menjauh dari meja kasir sambil bersiaga jika mungkin dibutuhkan, sebab biasanya beliau tidak membawa uang. Ternyata membawa, he he.
Setelah waktu pelayanan dibuka kembali, kami mendapat urutan pertama yang dipanggil, beliau maju ke depan, beberapa saat kemudian beliau menoleh ke arah saya sambil bertanya, "bawa uang?" Tentu dari kantor sudah saya siapkan biaya yang diperlukan untuk pengurusan visa. Tiga hari kerja ke depan adalah hari Senin. Sedangkan hari Minggu, seharusnya beliau berangkat ke Inggris agar bisa mengikuti acara di hari Senin yang rencananya dihadiri juga oleh menteri keuangan kala itu.
Saya terus memantau alur proses pengajuan visa tersebut melalui aplikasi online yang tersedia. Plong rasanya ketika hari berikutnya, Jumat, pada layar tertera bahwa paspor sudah berada di Kedutaan Inggris. Siang harinya saya dikabari bahwa Bapak Dahlan Iskan membatalkan rencana keberangkatannya ke Inggris karena harus segera ke Singapura. Kondisi kesehatan beliau yang mengharuskannya ke Singapura sesegera mungkin.
Upaya pun dilakukan untuk mengeluarkan paspor yang sedang diproses di Kedutaan Inggris. Pertama, saya menghubungi Ibu Nany Widjaja, berusaha mendapatkan bantuan. Beliau memberikan nomor HP mendiang Bapak Djoko Susilo –mantan duta besar Swiss, yang pernah menjadi wartawan, juga koresponden Jawa Pos di Amerika dan di Inggris.
Saya pun mengikuti saran Ibu Nany, menghubungi Bapak Djoko Susilo yang kemudian mendiang menyarankan agar saya menghubungi Bapak Des Alwi disertai nomor HP yang bisa saya dihubungi. Tidak menunggu lama, saya segera menelepon mendiang Bapak Des Alwi. Mungkin karena beliau sudah lebih dulu dihubungi oleh Bapak Djoko Susilo, maka ketika saya menelepon, sebelum saya selesai bicara, beliau langsung berkata: "bilang saja Pak dirjen sudah setuju". Suaranya berat penuh kharisma. "Clue" sudah didapat, tinggal berpacu dengan waktu.
Hari itu Jumat, jam operasional terbatas. Rekan kerja saya, Pak Ghofir, dengan RX King-nya seakan lupa bahwa ada yang memboceng di belakangnya. Palang perlintasan kereta api yang hampir menutup pun diterjangnya, whooosh.. Di belakang kami KRL jurusan Tanah Abang- Maja melesat dengan cepatnya. Puji Tuhan.
Sesampai di tujuan, sesuai prosedur, saya serahkan selembar kertas yang tertera tanggal pengambilan di hari Senin, sambil mengucapkan, "Pak Dirjen sudah setuju". Kami diminta menunggu, tidak lama kemudian petugas menyerahkan paspor, lengkap dengan visa Inggris yang ternyata sudah disetujui. Ajaib. Seketika, dalam hati saya berucap, terima kasih kepada Bapak Des Alwi, sang pemberi "kalimat sakti" tersebut.
***
Dar Der Dor
Saya sendiri menunggu munculnya tulisan ahli yang mampu mengulas apakah Pasal 33 UUD 1945 masih bisa diterapkan di ekosistem yang serba kapitalis dan liberal seperti sekarang ini.
Saya percaya pasal 33 UUD 1945 itu bisa sukses dilaksanakan manakala ekosistemnya masih sama dengan saat pasal itu dirumuskan: yakni ekosistem di mana semua orang rela berkorban untuk negara. Tanpa pamrih. Padahal ekosistem yang ada sekarang serba seperti ini: "saya dapat apa". (Dahlan Iskan)
Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 23 Mei 2026: Cinta Alwi
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
CINTA YANG TIDAK PULANG.. Banda itu seperti halaman belakang republik. Indah. Penting. Tapi sering diingat hanya saat upacara sejarah. Setelah itu dilupakan lagi. Seperti mantan yang rajin kirim “selamat pagi”, tapi tidak pernah diajak menikah. Tulisan ini bukan sekadar kisah Des Alwi. Ini alarm sunyi: betapa Indonesia dibangun oleh orang-orang yang mencintai negeri tanpa gaduh di podcast dan TikTok. Anak kecil Banda umur delapan tahun, diasuh Bung Hatta dan Sjahrir, lalu ikut menjaga radio gelap yang mengubah arah republik. Hari ini, anak umur delapan tahun sibuk menjaga streak Snapchat. Yang paling menyentuh justru perempuan tua penjaga rumah pengasingan itu. Tidak digaji. Tidak diurus. Tapi tetap tinggal. Seolah sejarah Indonesia memang dijaga oleh orang-orang sepi. Bukan oleh negara yang ramai pidato. Ironisnya, Banda dulu diperebutkan dunia karena pala. Sekarang pala masih ada. Laut masih biru. Tapi yang hilang adalah rasa pentingnya. Des Alwi mungkin sudah wafat. Tapi cintanya belum. Yang mulai wafat justru ingatan kita pada Banda.
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
RUMAH TUA YANG LEBIH SETIA DARI NEGARA.. Bagian paling menohok dari tulisan ini bukan Bung Hatta. Bukan Sjahrir. Bukan pula drama radio gelap. Tapi rumah tua itu. Kusam. Sepi. Tidak terawat. Padahal di situlah sebagian akal republik pernah diasah. Kita ini memang aneh. Sangat rajin membangun gapura “Selamat Datang”. Tapi sering malas merawat ingatan. Akhirnya sejarah dibiarkan bocor pelan-pelan lewat atap rumah tua. Lalu muncul perempuan renta penjaga rumah itu. Tidak digaji. Tidak mengeluh. Tetap tinggal di sana karena pesan Des Alwi. Di titik itu, saya merasa nasionalisme kadang justru hidup di kantong orang kecil. Bukan di baliho besar yang penuh foto tersenyum. Des Alwi rupanya paham satu hal penting: bangsa tanpa memori akan mudah dibelokkan. Maka ia merawat rumah-rumah pengasingan itu seperti orang menjaga album keluarga. Ironisnya, rumah Bung Sjahrir kini tampak seperti republik yang sedang lupa diri. Sibuk mengejar proyek masa depan, tapi lalai mengecat dinding masa lalu. Padahal bangsa besar bukan hanya yang punya ibu kota megah. Tapi juga yang tahu cara menghormati sunyi sejarahnya sendiri.
Kalender Bagus
Betapa ikhlasnya para pejuang dahulu, dari bapack2 sampai para pemuda. Yakin saya, ga ada gaji sepeserpun untuk apa yang mereka kerjakan. Saya yakin, orang seperti mereka masih banyak saat ini. Saya yakin, penulis artikel di atas salah satunya. Hanya saja orang ikhlas biasanya punya kecenderungan berdiri behind the scence. konon katanya agar kualitas ikhlasnya tetap terjaga. Saya yakin presiden kita kali ini juga sama ikhlasnya dengan mereka-mereka yang dibuang ke Banda tempo doeloe itoe.
Beny Arifin
Maka kita bisa membayangkan betapa besarnya raksasa pemain sawit dan batu bara. Prabowo tahu permainannya, tahu pemainnya, dan tahu pula bahwa ia sulit memberantasnya. Bahkan dengan jabatan presidennya sekalipun. Maka ditempuhlah jalan lain, memutar. Atau kalau pinjam istilah teori makan bubur, dari pinggirnya dulu. Maka dipidatokan dulu, dicatat dulu lewat Danantara. Apakah akan berhasil ? Wallahualam. Toh bangsa ini sudah biasa lihat program pemerintah tidak berjalan seperti yang direncanakan.
DeniK
Des Alwi wafat Mati juga sejarah Banda ,
siti asiyah
Saat masih smp ( 1986 - 1989 ) keinginan besar melihat Jakarta. Uangsaku sekolah yang tak seberapa dihemat, hanya ke kantin saat ada mapel olahraga. Harapannya ada studytour ke Jakarta, uang tabungan bisa untuk membayarnya. Tapi adanya studytour ke Jogyakarta, ke Jakarta gak kesampaian. Saat sma ( 1989 -1992 ) terpukau cerita hingga ingin sekali liha pulau Bali. Samasebangun saat smp, uangsaku dihemat bila ada opsi studytour ke Bali bisa ikut, tapi studytournya ke Semarang. Setelah 1996 ketrima kerja, gaji total 88.200 rupiah.Alhamdulillah bisa kredit motor.Dari Kediri bisa motoran ke Ngawi, lain waktu ke Bojonegoro, bikin trip ke Jember bisa melintasi Malang, Lumajang, dst.Tulungagung dan Blitar....seterusnya kota dan kabupaten sekitar. Jakarta dan Bali ?? Bisa didatangi dengan ikut arisan Ziaroh Wali. Naik bus besar berombongan. Sampai suatu ketika saat sampai di Makam Sunan Gunungjati jadi termenung meratapi diri. Lha iyo, katanya kita negeri kaya raya subur makmur, tapi cuman katanya.Kebanyakan saya dan tetangga gak pernah mampu untuk menyinggahi barang setegukan kopi dimana itu Lampung, Palembang, dan seterusnya sampai Aceh dan Medan.Apalagi Kalimantan, Sulawesi, Maluku sampai nun jauh Papua.Untunglah abis subuh ada waktu baca CHDI.Bisa jalan - jalan ngikut pak Dahlan bukan hanya ke tempat jauh negeri sendiri namun sampai ke hampir semua benua....Terimaksih Bah, karena kini saya tak perlu berhemat lagi.Bisa foya - foya mulai pagi.............................
mario handoko
selamat siang bp em ha. jadi teringat awak akan janjinya. membiayai embege tanpa apbn. cukup dengan mengejar potensi pajak 300 ton yg hilang di industri sawit.
Em Ha
Kala pertama menginjakkan kaki di Banda. Abah bingung siapa pemilik Banda. Setengah abad usia saya sekarang. Bingung siapa pemilik Indonesia. Sudah tahu ada perusahaan yang curang. Tapi masih aja sungkan. Padahal skalanya besar. Skala VOC. Praktik VOC dicopypaste zaman now. Saya tidak memilih pasangan 'Tua-Bocah' ini. Tapi setelah terpilih. Berbuatlah untuk Indonesia. Akhiri keserakahan membabibuta mereka. Fair aja. Berusaha boleh, ambil untung boleh, tapi anak ayam mati di lumbung padi tak boleh terjadi lagi. Silih berganti mereka masuk Majalah Forbes. Terkaya seNusantara. Terkaya seAsia. Jet pribadi hilir mudik Singapura - Sumatera - Kalimantan. Tengok sekeliling tambang mereka. Teliti sempadan kebun sawit mereka. Miskin tak tertata. Seperti foto yang dipotret Abah di Banda itu. Jalanan bopeng bopeng. Gedung sejarah tak terawat. Miris berbanding terbalik kemewahan mereka. Indoneaia milik siapa? Pak Prabowo.. tunjukkan Bapak bisa.
Ahmed Nurjubaedi
Aku belum pernah ke Banda// Yang ku baca dari sejarah dari ruang kelas SD hingga kuliah/ Hanya nama-nama pahlawan/ Dan deret tanggal tahun lahir gugur ke haribaan/ Hingga kutemukan di sudut Gramedia/ Terselip di Gunung Agung/ Kisah dan gores tangan Bung Syahrir dan Bung Hatta/ Dan dada ini bergemuruh karenanya// Syahrir, Bung-ku, kau pergi diantar sunyi/ Ditelikung oleh rasa takut penguasa/ Karibmu sendiri// Hatta, Bung-ku, adakah yang sama lurus dengan engkau?/ Yang rela memberi contoh baik, bukan hanya petatah-petitih?/ *Hujan air mata dari pelosok negeri/ *Saat kau tinggal pergi.... // Aku belum pernah ke Banda// *lirik lagu Iwan Fals yg menggambarkan suasana saat Bung Hatta berpulang.
Irary Sadar
Bahkan ada yang rela ikut mendaftar seleksi kandidat calon presiden dari Partai Mercy Itu. Hehehe...
Bahtiar HS
Pak @Eko Darwiyanto, "Saya lahir 17 November 1927. Ibu saya Halijah, ayah saya Abubakar. Ayah keturunan Ternate-Palembang, tetapi bagi masyarakat Banda, garis keturunan ibulah yang lebih penting." Itu disampaikan Des Alwi dlm otobiografinya "Des Alwi: Dari Banda Naira Menjadi Indonesia". Ayah Des Alwi, Abubakar, merupakan keturunan dari keluarga Kesultanan Palembang yang dibuang oleh kolonial Belanda ke Ternate, lalu keturunannya berpindah dan menetap di Banda Neira. Kakek yg dimaksud adalah Sultan Ahmad Najamuddin II, adik dari Sultan Mahmud Badaruddin II yg pahlawan nasional itu. Banyak orang salah mengira bhw krn nama belakangnya "Abubakar" (atau tertulis Des Alwi bin Abubakar), ia otomatis bagian dari klan Bin Abu Bakar dari trah Ba'alawi (keturunan Arab Hadhramaut/ Habib). Kenyataannya, nama Abubakar pada ayah Des Alwi adl nama personal (nama diri), bukan nama marga komunitas Arab (Fam). Oleh krn itu, namanya tidak tercantum dlm buku induk silsilah Alawiyyin di Indonesia. Sangat mungkin beliau bukan Ba'alawi meski namanya mengandung "Alwi".
Bahtiar HS
Kisah Des Alwi (1} Yg mungkin jarang diketahui Setelah proklamasi kemerdekaan, Sutan Sjahrir dikirim sebagai delegasi Indonesia untuk berdiplomasi di Eropa. Sjahrir ingin Des Alwi ikut agar bisa bersekolah di luar negeri. Tp karena Indonesia belum memiliki paspor dan izin resmi yg diakui penuh, Des Alwi diselundupkan ke dalam pesawat militer Inggris (RAF) yg lepas landas dari Jakarta. Ia lantas bersembunyi di ruang bagasi pesawat yg dingin demi bisa tembus ke Singapura, sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan utk belajar teknik telekomunikasi di London.
Bahtiar HS
Kisah Des Alwi (2} Yg mungkin jarang diketahui Indonesia terlibat konfrontasi "Ganyang Malaysia" di era Bung Karno dg negeri Malaysia. Namun, Des Alwi yang saat itu berada di luar negeri bertindak sebagai diplomat rahasia (back-channel diplomat). Bersama Ali Moertopo dan Benny Moerdani, Des Alwi melakukan pertemuan2 rahasia di Kuala Lumpur dan Bangkok utk meredakan ketegangan. Des Alwi jg punya kedekatan pribadi dg Perdana Menteri Malaysia pertama, Tunku Abdul Rahman. Tunku Abdul Rahman merupakan temannya saat kuliah di London. Apa yg dilakukan Des Alwi menjadi kunci utama mencairnya hubungan diplomatik antara Indonesia dan Malaysia tanpa pertumpahan darah yang lebih besar.
Bahtiar HS
Kisah Des Alwi (3) Yg mungkin jarang diketahui Sbg Sineas, Des Alwi adalah salah satu sineas pertama Indonesia yg menyadari pentingnya seluloid sbg perekam sejarah. Ia merekam momen2 krusial bangsa, trmsk Pertempuran Surabaya 10 November 1945, suasana Jakarta pasca-kemerdekaan, hingga aktivitas para syuhada bangsa. Tanpa kamera penjelajah milik Des Alwi, Indonesia mungkin kehilangan banyak bukti visual otentik mengenai masa-masa awal revolusi fisik kemerdekaan kita.
Bahtiar HS
Kisah Des Alwi (4) Yg mungkin jarang diketahui Meskipun memiliki jaringan politik yang sangat luas di era Orde Baru dan berteman dekat dengan para petinggi negara, Des Alwi secara konsisten menolak jabatan politik formal seperti menteri atau duta besar. Ia memilih pulang dan mendedikasikan sisa hidupnya untuk membangun tanah kelahirannya: Banda. Hingga beliau wafat pda 2010.
Irary Sadar
Foto-foto Abah bengitu menarik. Seolah membawa kita ke zaman Sutan Syahrir 'dibuang'. Hidup dirumah sederhana, tanpa listrik, mungkin. Hanya Lampu tempel atau petromak. Perabot antik. Meja kursi yang berkelas, dizamannya, dengan tempat tidur model Eropa yang ada kelambunya. Tempat tidur berkelambu, mengingatkan tempat tidur kami waktu kecil-kecil dulu. Ada cerita - tidak begitu menarik. Waktu saya kecil dahulu, saya pernah tidur disaat kelambu ditempat tidur kami terbakar. Saya yang masih kecil itu -mungkin berumur 4 tahun- tidak merasakan apa-apa. Tapi dari cerita orang tua, untung api tidak membesar dan cepat dipadamkan. Hanya membakar sedikit rambut saya. Rupanya kelambu itu bukan terbakar, tapi dibakar. Dan pelakunya adalah kakak perempuan saya yang berumur 5 tahun. Setelah ditanya kenapa dilakukan itu. Jawabnya, dia ingin tahu apakah kelambu bisa terbakar? Hehe, dasar anak-anak. Kembali ke foto-foto Abah tadi, kita patut berterima kasih kepada Bapak Des Alwi atas jas-jasa beliau menjaga bukti dan tempat penting ini sehingga Abah bisa menghasikan gambar-gambar yang penuh sejarah dan dapat saya nikmati. Terima Kasih Pak Des Alwi...
Runner
Saya kok tercekat terharu baca percakapan : “”Siapa yang menugaskan ibu tinggal dinsini ?” “Bapak Des Alwi, almarhum”. Ibu itu tidak digaji, tentu terbatas dayanya memelihara rumah dan peristiwa sejarah di rumah itu. Eh….. kita kan punya kementerian kebudayaan ?
Er Gham 2
Penunjukkan seorang bule sebagai nakhoda DSI, sepertinya sebagai sinyal bahwa saat ini sulit mencari orang yang bisa dipercaya. Negara ini sedang krisis orang jujur. Banyak sih yang pintar, tapi sayangnya brengsek juga akhirnya.
yea aina
Bung Karno dan Sutan Sjahrir Imitasi. Menjelang proklamasi 45, sejarah mencatat masing-masing sikap tokoh pergerakan terhadap proses kemerdekaan. Tokoh senior seperti Bung Karno, pilih menunggu janji politik Jepang: hadiah kemerdekaan Indonesia. Tokoh muda, seperti Sutan Sjahrir menolak jabatan presiden, karena merasa terlalu muda. Umurnya baru 35 tahun, apalagi pamannya bukan ketua MK. Di era sekarang, beberapa politikus ada yang "diposisikan" atau menjiplak kebiasaan tokoh kemerdekaan dulu. Mungkin hanya kebetulan, sejarah berulang tapi beda. Peniru gaya Bung Karno, pilih menunggu janji politik dari penguasa sebelumnya: Warisan jabatan. Yang masih bocah, ups... muda. Dielu-elukan sebagai Sjahrir jaman now, tanpa penolakan sedikitpun, ketika didapuk menjadi orang nomer dua. Setiap masa ada orang-orang yang tidak sama, integritasnya. Ojo dibandingke.
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
PERAHU DAYUNG KE POKA.. Tahun 70-an sampai awal 80-an, perjalanan kuliah di FE Universitas Pattimura adalah pelajaran tersendiri. Kampus di Poka. Dari rumah naik angkot ke Galala. Dari situ menyeberang teluk dengan perahu dayung. Kadang memakai layar kecil memanfaatkan angin. Tidak ada mesin meraung. Yang terdengar hanya bunyi dayung membelah air. Pelan. Teratur. Sesekali diselingi tawa mahasiswa yang uang sakunya sama tipisnya dengan buku catatan kuliah. Kalau dosen hadir, kuliah berjalan. Kalau dosen berhalangan, ya tidak kecewa-kecewa amat. Sebab perjalanan pulang-pergi itu sendiri sudah terasa seperti hadiah. Teluk Ambon pagi hari punya cahaya yang lembut. Air laut berkilat. Bukit-bukit diam memandang. Sekarang semua lebih mudah. Ada Jembatan Merah Putih. Ada ferry. Mobil melaju cepat. Kota terasa dekat. Tapi hati manusia sering tidak modern. Yang dikenang justru perahu kayu kecil itu. Yang bergerak perlahan mengikuti angin. Sebab di masa itu, perjalanan tidak hanya mengantar tubuh ke kampus. Tapi juga mengantar kenangan ke masa tua.
heru santoso
Nyadran Gembrung Saya sengaja datang ke punden agak awal, sebelum pamong desa hadir. Alunan puji-pujian sudah mengumandang. Syair yang dibaca ayat-ayat Qur'an. Nadanya suluk Jawa. Alat musiknya semacam hadrah berdiameter lebih satu meter. Disebutnya gembrung. Dipukul lembut dengan telapak tangan dalam nada lambat seirama lantunan puji-pujian. Event nyadran bersih desa ini dilakukan setiap tahun di desa saya: Belotan. Demikian juga di desa-desa lain sekitar Tegalarum kampung kelahiran Pak Dahlan Iskan. Tidak ada perdebatan maupun pertentangan syar'i di kampung. Sementara perdebatan saling silang tentang rapatnya shof, atau tegaknya telunjuk saat atakhiat, atau celana batas mata kaki terjadi di komplek-komplek kota sana. Pak Kades pidato awal setelah acara pembukaan. Dilanjutkan Mbah Modin memimpin do'a berkah bumi: bersyukur atas hasil bumi yang cukup untuk hidup sederhana di desa. Sementara hasil bumi hutan sawit dan batubara Kalimantan sampai Papua yang melimpah pun masih membuat mereka haus. Dan mesti ditilep dengan under invoice dan transfer pricing.
Liam Then
Maksud saya, mengglorifikasi masa lalu itu percuma. Tiongkok bisa maju, bikan karena mereka sibuk membahas bagaimana Kota Terlarang Tian An Men bisa mereka jaga tetap berdiri. Mereka juga tidak sibuk bicara bagaimana Tembok Besar mereka bisa awet berdiri sampai sekarang. Tapi mereka sibuk, bangun sesuatu yang lebih besar daripada yang pernah dicapai oleh para pendahulu bangsa mereka. Semangat disini harus ada. Kadang kita terlalu sentimental. Sedihnya, itu di sini, kalau sudah sampai sekelas mantan menteri BUMN ternyata pilih topik membahas masa lalu, ketika banyak proyek masa depan penting sedang berlangsung di masa kini. Kita jadi bisa raba, tingkat kegentingan situasinya. Ini cuma sok-sokan psikologi profiling tulisan Pak DI saja. 2 hari turut-turut topik penting nasional, tiba-tiba meluncur ke topik historis. Ini tentu bukan kebetulan. Dan jujur, saya pakai istilah diatas juga cuma sok-sokan intelek, aslinya saya cuma bisa ketemu kata itu , karena tak sanggup temukan kosa kata lain yang lebih tepat, kwkwkwkkw.
Liam Then
Pak DI kayaknya capek memikirkan masa depan RI. Sehingga hari ini, pilih bahas , nostalgia masa lalu. Tapi sialnya, masa lalu kita juga biasa-biasa saja .
nico gunawan huang
Buruk muka cermin dipecah . rasanya sudah semakin banyak cermin yang pecah
Johannes Kitono
Sutan Syahrir. Des Alwi adalah legenda Banda. Gaya dan tutur bahasanya jelas. Lahir dan dimakamkan di Banda. Biarpun Des Alwi anak angkat Bung Hatta dan Sutan Syahrir. Tapi idolanya adalah Dr Tjiptomangun Kusumo. Beliau lebih pantas jadi Presiden dari pada Bung Karno, kata om Des sapaan akrabnya. Kisah cinta Sutan Syahrir dan Maria Duzhateau terjadi sebelum beliau dibuang ke Banda. Capres pilihan anak muda itu menolak jadi Presiden Pertama NKRI. Dengan alasan masih muda,usia 35 tahun. Tentu hal seperti ini tidak mungkin terjadi saat ini. Sutan Syahrir pacaran sama Maria ketika masih kuliah di Belanda.Beliau tinggal dirumah Siti Sjahrizal kakaknya yang kawin dengan Dr Djauhari. Sutan Syahrir yang sudah kasmaran nekad membawa Maria ke Indonesia. Dan mereka menikah di Mesjib Medan bulan April 1932. Tapi sebulan kemudian yaitu Mei dibatalkan kolonial Belanda dan Maria dideportasi ke Holland. Ternyata legal status Maria belum cerai resmi dari Salomon Tas, suaminya. Maria kirim surat ke Ratu Wihelmina mohon supaya Sutan Syahrir diizinkan ke Holland untuk sekolah. Permohonan ditolak. Kemudian Maria nikah dengan Soetan Syahsyam, adik kandung Sutan Syahrir yang tinggal di Holland. Dari tahun 1931 - 1940 ada 287 surat Sutan Syahrir dan Maria. Tadinya surat surat tsb mau dibakar Maria untuk melindungi Sutan Syahrir. Tapi diterbitkan tahun 1945 dengan judul Indonesische Overpeinzinger dengan nama Sjahrazad. Semoga Semuanya Hidup Berbahagia.
Muchammad Lutfi Asyari
Di Indonesia ada rumus singkat tapi jelas yaitu Aturan itu bisa diatur.Kalau tidak bisa diatur ya diawur.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber:
Komentar: 76
Silahkan login untuk berkomentar