Iming-iming Marketing Kripto, 6 Calon PMI Nyaris Kerja sebagai Admin Scam di Laos

Jumat 10-04-2026,15:38 WIB
Reporter : Candra Pratama
Editor : Khomsurijal W

JAKARTA, DISWAY.ID- Polres Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) menggagalkan upaya pengiriman enam Calon Pekerja Migran Indonesia (CPMI) non prosedural yang diduga akan dijadikan admin scam di Laos.

Tak hanya itu, polisi juga membongkar jaringan perekrut yang beroperasi lintas daerah dengan modus tawaran kerja sebagai marketing kripto.

Kasatreskrim Polres Bandara Soekarno Hatta Kompol Yandri Mono mengatakan, jaringan perekrut dan pengiriman calon admin scammin ini dilakukan oleh dua tersangka yaitu NS dan Y.

"Tersangka NS sudah berhasil kami tangkap, sementara Y sudah kami tetapkan sebagai DPO," kata Yandri, Jumat, 10 April 2026.

BACA JUGA:Restorative Justice Rismon Sianipar di Kasus Ijazah Jokowi Masih Berproses

Yandri menjelaskan, pengungkapan kasus bermula pada Rabu, 1 Oktober 2025 sekitar pukul 10.30 WIB, saat petugas Satuan Reskrim menerima informasi terkait keberangkatan enam CPMI non prosedural melalui Terminal 2 Keberangkatan Internasional Bandara Soekarno-Hatta.

Menindaklanjuti informasi tersebut, petugas langsung melakukan pengumpulan bahan keterangan (pulbaket) dan patroli di area terminal. 

Hasilnya, ditemukan enam CPMI berinisial SAR, RANDM, ASF, TFY, A, dan SY yang hendak berangkat menggunakan pesawat Scoot TR 269 rute Jakarta-Singapura pada 1 Oktober 2025 pukul 12.30 WIB.

Lalu melanjutkan penerbangan Scoot TR 350 rute Singapura-Vientiane, Laos pada 2 Oktober 2025.

Dari hasil pemeriksaan, kata Yandri,  keenam CPMI tersebut diketahui berangkat secara non prosedural dan dijanjikan bekerja sebagai admin scamming di Laos. 

Mereka direkrut melalui grup WhatsApp bernama "LAOS LAST" yang dibuat oleh pelaku berinisial Y dan NS.

BACA JUGA:Penampakan Tumpukan Uang Rp 11,4 Triliun di Kejagung, Diserahkan Langsung ke Presiden?

Yandri menambahkan, pengembangan kasus dilakukan hingga akhirnya pada 24 Januari 2026, polisi berhasil menangkap tersangka NS di Palembang. Dari hasil pemeriksaan, NS mengaku mengenal pelaku utama Y sejak 2023.

Kepada polisi NS mengatakan, pada September 2025, Ia dihubungi Y  untuk mencarikan calon pekerja dengan iming-iming pekerjaan sebagai marketing kripto di Laos. 

"NS kemudian bertugas mengumpulkan dokumen seperti KTP, KK, akta lahir, dan ijazah untuk pembuatan paspor," papar Yandri.

Kategori :