Migrasi BPA dari galon PC ke air terjadi apabila kemasan terkena panas mulai 70 derajat celcius.
Dia memastikan migrasi BPA dari kemasan ke air tidak akan terjadi meskipun galon didistribusikan pada siang hari apabila suhu tidak mencapai 70 derajat.
"Kecuali nanti suhu kita di dunia pada siang hari sampai 70 derajat, nah itu ya lain persoalan. Tapi sampai saat ini kan di Indonesia cuma 40 derajat, itu sudah maksimum," kata Oka Tan.
Pakar teknologi plastik ini melanjutkan, artinya BPA hanya akan bermigrasi dalam jumlah signifikan jika terjadi pemanasan ekstrem yang jauh melampaui suhu lingkungan biasa.
Sementara, penelitian internasional memang membahas potensi dampak BPA terhadap sistem endokrin. Namun banyak penelitian bersifat observasional atau berbasis hewan, dan regulator menetapkan ambang paparan aman berdasarkan evaluasi risiko.
BACA JUGA:Penghargaan SPPA 2025 Tegaskan Peran Strategis bank bjb di Pasar Sekunder
Lagipula tidak ada satupun penelitian internasional dilakukan spesifik membahas migrasi BPA dari galon air, semua meneliti dampak BPA yang berdiri sendiri sebagai zat kimia. Hal ini juga yang membuat heran Pakar Teknologi Pangan, Hermawan Seftiono.
Di Indonesia, tidak ada data epidemiologi yang menunjukkan lonjakan penyakit tertentu akibat mengonsumsi air dari galon PC selama lebih dari lima dekade penggunaannya. Jika klaim dampak kesehatan masif benar, secara logika epidemiologis akan terlihat pola yang konsisten dalam data kesehatan publik.
"Belum ada juga kasus di Indonesia dan di luar negeri juga terkena penyakit dari kandungan BPA ini," kata Hermawan Seftiono.
Hermawan menjelaskan bahwa galon dan BPA merupakan dua produk yang berbeda. Anggota Perhimpunan Ahli Teknologi Pangan Indonesia (PATPI) ini melanjutkan, BPA merupakan senyawa pembentuk galon polikarbonat dan memang zat berbahaya apabila berdiri sendiri.
Namun, sambung dia, reaksi polimerisasi antara BPA dengan fosgen (karbonil diklorida) menjadi senyawa polikarbonat menghilangkan bahaya yang dimiliki BPA. Keamanan penggunaan galon guna ulang juga sudah dijamin oleh pemerintah dan BPOM melalui berbagai regulasi ketat.
Kepala Program Studi Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Trilogi ini mengungkapkan, konsentrasi BPA paling tinggi sebenarnya ada di kemasan makanan kaleng dan bukan pada galon PC. Sayangnya, kebenaran inipun luput dari sorotan sehingga isu BPA di Indonesia hanya fokus pada galon PC.
Selain kaleng, penelitian bahaya BPA di luar negeri juga fokus pada botol bayi. Penggunaan senyawa BPA botol bayi juga sudah dilarang mengingat botol susu bayi biasa dipanaskan sebelum dipakai sehingga memicu migrasi BPA.
"Meskipun ada banyak fokus pada beberapa produk yang mengandung BPA, seperti botol susu bayi atau kaleng makanan, tetapi tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa mengonsumsi air dari galon polikarbonat berbahaya," kata Hermawan.