Jangan Cepat Percaya Bahaya BPA, Teliti Antara Hoaks dan Bukti Ilmiah
Ilustrasi - Masyarakat diimbau tak langsung percaya isu BPA dalam air minum galon isi ulang-istockphoto-
JAKARTA, DISWAY.ID -- Di tengah kekhawatiran publik tentang kesehatan, satu istilah kembali mencuat dan beredar cepat di media sosial adalah Bisphenol A (BPA).
Zat ini disebut-sebut sebagai "racun tersembunyi" dalam galon guna ulang berbahan polikarbonat (PC). BPA dituduh memicu autisme, kanker, gangguan hormon, hingga kemandulan.
Namun di antara riuh klaim dan ketakutan, terdapat satu pertanyaan mendasar jarang diajukan dengan jernih yakni apa yang benar-benar didukung bukti ilmiah, dan apa yang sekadar asumsi?
BACA JUGA:Bahaya BPA Mengintai Pengguna Ganula, Ancam 111 Juta Konsumen
Sejauh ini, sudah ada tiga penelitian berbeda di Indonesia yang dilakukan oleh Universitas Sumatera Utara (USU), Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Islam Makassar (UIM). Ketiga penelitian ini tidak mendapati migrasi BPA dari galon ke dalam air baik bagi kemasan yang terpapar matahari ataupun tidak.
"Meskipun galon didistribusikan pada siang hari, migrasi BPA ke dalam air minum tidak akan terjadi apabila suhu tidak mencapai 159 derajat Celcius. Sementara itu, suhu tertinggi yang tercatat di Indonesia hanya mencapai 38,5 derajat Celcius," kata Ketua Tim Peneliti Prof. Dr. Juliati Tarigan.
Guru Besar Kimia Organik, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) USU ini melanjutkan, penelitian dilakukan tidak hanya untuk memastikan keamanan penggunaan galon polikarbonat. Dia mengatakan, penelitian juga sekaligus meluruskan kesesatan informasi terkait migrasi BPA dari galon ke dalam air minum.
Hasil penelitian serupa juga didapati UIM dan ITB. Ketua Program Studi Studi Kimia UIM, Endah Dwijayanti menjelaskan penelitian ini didorong oleh maraknya pemberitaan yang menyebutkan bahwa galon guna ulang mungkin mengalami migrasi BPA yang melebihi ambang batas aman. Pemberitaan tersebut telah membuat resah dan gaduh di masyarakat.
BACA JUGA:Isu BPA Disebut Bukan Dilatari Persaingan Usaha, Warga Meragu
Penelitian berjudul 'Analisis Bisphenol-A dan Di-ethylhexyl Phthalates dalam air galon yang beredar di Kota Makassar' ini telah diterbitkan di Food Scientia, Journal of Food Science and Technology, Universitas Terbuka pada Juni 2023 lalu.
Mantan kepala laboratorium teknologi polimer dan membran ITB, Akhmad Zainal Abidin mengatakan, penelitian ini menunjukkan semua air minum yang diuji terbukti aman untuk dikonsumsi masyarakat. Dia melanjutkan, air minum yang ada juga telah sesuai dengan standar serta regulasi yang ditetapkan oleh pemerintah dan juga standar internasional.
"Dari penelitian yang kami lakukan, kami tidak mendeteksi (non-detected/ND) BPA di semua sampel AMDK yang diuji," kata Akhmad Zainal.
BACA JUGA:Ratusan Kader Nasdem Geruduk kantor TEMPO, Protes Karikatur Surya Paloh!
Ahli polimer lulusan University of Applied Science Darmstadt di Jerman, Oka Tan menjelaskan bahwa galon guna ulang PC memiliki ketahanan lebih baik dibanding yang sekali pakai. Itu sebabnya, produk makanan dan minuman pada negara beriklim tropis lebih cocok menggunakan kemasan galon guna ulang dibanding galon sekali pakai.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: