JAKARTA, DISWAY.ID - Kenaikan harga plastik yang terjadi belakangan ini tak hanya berdampak pada biaya produksi, tetapi juga mengubah wajah tekanan ekonomi di tingkat konsumen.
Di rak-rak penjualan, perubahan hadir lebih halus.
Terlihat ukuran produk mengecil tanpa diikuti penurunan harga.
Fenomena ini dikenal sebagai shrinkflation, inflasi tersembunyi yang diam-diam menggerus daya beli masyarakat.
Pengamat ekonomi dari Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, menilai shrinkflation merupakan bentuk inflasi yang bekerja secara senyap dan kerap luput dari perhatian masyarakat.
Menurutnya, banyak orang mengira tekanan ekonomi hanya terjadi ketika harga barang naik secara terang-terangan. Padahal, beban hidup juga dapat meningkat ketika ukuran produk diperkecil sementara harga tetap dipertahankan.
"Banyak konsumen melihat label harga yang sama lalu merasa keadaan masih aman. Padahal nilai riil yang mereka terima sebenarnya sudah menurun," kata Syafruddin saat dihubungi disway.id pada Sabtu, 11 April 2026.
BACA JUGA:Cerita Kenaikan Harga Plastik yang Pelan Tapi Terasa, Keluhan dari Dapur hingga Dunia Usaha
Ia menjelaskan, kondisi tersebut membuat jumlah uang yang dimiliki masyarakat tidak lagi mampu membeli barang dalam kuantitas yang sama seperti sebelumnya.
"Shrinkflation adalah bentuk inflasi tersembunyi yang bergerak pelan, tetapi dampaknya nyata dalam kehidupan rumah tangga," katanya.
Syafruddin menilai praktik shrinkflation menjadi berbahaya karena memanfaatkan persepsi publik.
Sebab, konsumen umumnya lebih cepat menyadari kenaikan harga dibanding perubahan berat, volume, atau jumlah isi produk.
Situasi ini kemudian dimanfaatkan produsen untuk menjaga harga nominal tetap terlihat stabil di mata konsumen.
"Strategi tersebut mungkin menguntungkan dari sisi pemasaran, tetapi bagi masyarakat hasil akhirnya tetap merugikan," ucap Syafruddin.