Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menilai bahwa walaupun fenomena ini didorong oleh inflasi masif harga pangan dan bahan baku, shrinkflation berpotensi untuk menipu konsumen sendiri.
Dalam hal ini, Ketua Pengurus Harian YLKI Niti Emiliana menuturkan bahwa fenomena ini bisa dibilang sebagai inflasi yang tidak terlihat jelas oleh konsumen secara akurat, bahkan pada indeks fluktuasi harga jika pemantauan hanya dilakukan pada harga label, bukan harga per unit (misal: harga per gram atau per mililiter).
"Ini bisa dianggap sebagai teknik desain kemasan untuk manipulasi visual dan teknik marketing yang menipu konsumen. Kemasan yang besar dengan gambar makanan yang tidak sesuai dengan ukuran bisa dianggap sebagai melanggar hak konsumen atas informasi yg benar, jelas, dan jujur," tutur Niti ketika dihubungi oleh Disway.
BACA JUGA:Pedagang Kaki Lima Resah! Harga Plastik Terus Naik Imbas Konflik Israel-AS dan Iran
Lebih lanjut, Niti juga menambahkan bahwa kelompok menengah ke bawah juga berpotensi untuk menjadi sektor paling terdampak fenomena shrinkflation ini sendiri.
"Kelompok konsumen menengah ke bawah yang lebih banyak terdampak karena memiliki anggaran ketat sehingga kehilangan nilai riil dari uang yang mereka belanjakan," tegas Niti.
Dalam menghadapi fenomena shrinkflation ini, Niti menghimbau agar konsumen dapat lebih teliti dan cerdas membaca label pada kemasan dan harga yang tertera.
Selain itu, dirinya juga menyampaikan bahwa YLKI juga mendorong produsen untuk lebih transparan jika ada perubahan ukuran produk sebagai bentuk tanggung jawab sosial perusahaan.
"YLKI mendorong ritel untuk dapat mencantumkan untuk mencantumkan harga per unit (misal: Rp/kg atau Rp/liter) di label rak, sehingga konsumen bisa membandingkan mana yang lebih murah meskipun ukurannya berbeda," ucap Niti."
Sorotan terhadap praktik shrinkflation dan perlindungan konsumen ini turut mempertegas urgensi kehadiran negara.
Pemerintah pun mulai menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk merespons kenaikan harga plastik yang menjadi salah satu pemicu utama tekanan tersebut.
BACA JUGA:Harga Plastik Naik, Pedagang Akui Stok Pasokan Mulai Langka di Pasaran
Langkah ini difokuskan untuk menjaga pasokan bahan baku sekaligus meredam tekanan harga di tingkat industri.
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan sejumlah langkah itu yaitu mencari sumber alternatif menjajaki pasokan bahan baku plastik dari negara-negara di luar kawasan Timur Tengah untuk mengurangi ketergantungan wilayah.
“Industri sedang aktif menjajaki pasokan nafta dari negara-negara di luar kawasan Timur Tengah untuk mengurangi ketergantungan wilayah,” kata Agus.
Selain itu, optimalisasi penggunaan LPG juga dilakukan sebagai bahan baku penyangga dalam proses produksi.