JAKARTA, DISWAY.ID-- Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla menanggapi terkait polemik ceramahnya di masjid Universitas Gadjah Mada yang dituding sebagai penistaan agama.
Alih-alih langsung membantah, JK pun mengingatkan kembali publik pada konflik berdarah di Poso dan Ambon yang pernah ia tangani secara langsung.
BACA JUGA:Tegas, Kemdiktisaintek Tak Toleransi Kekerasan di Lingkungan Kampus
JK bahkan memutar ulang video dokumentasi konflik tersebut untuk memberikan gambaran situasi saat itu.
"7.000 orang meninggal, emangnya karena apa? 7.000! Yang Anda lihat fotonya tadi tiga atau empat yang kelihatan," katanya kepada awak media, Sabtu 18 April 2026.
JK menyebut konflik di Poso dan Ambon sebagai salah satu tragedi paling kejam dalam sejarah Indonesia modern.
BACA JUGA:Kunjungan ke Makassar, Gus Ipul: Siswa Sekolah Rakyat Lebih Percaya Diri dan Berprestasi
"Inilah konflik yang paling kejam mungkin setelah Gerakan 30 September 1965," ucapnya.
Menurutnya, apa yang disampaikan dalam ceramah di UGM bukanlah soal doktrin agama, melainkan realitas di lapangan saat konflik terjadi.
"Saya tidak bicara tentang dogma agama, saya tidak bicara tentang ideologi agama. Saya bicara tentang kenapa mereka saling membunuh," tegasnya.
Dijelaskannya, bahwa dalam konflik tersebut, kedua pihak sama-sama merasa berjuang atas nama agama.
BACA JUGA:TMII Rayakan 51 Tahun, Pelestarian Budaya Berdampak ke Masyarakat dan UMKM
"Islam menganggap dia berjuang agama, Kristen menganggap dia berjuang untuk agama. Terjadilah perang besar-besaran," jelasnya.
Namun, ia menegaskan bahwa keyakinan tersebut keliru dan tidak sesuai dengan ajaran agama mana pun.
"Tidak ada ajaran agama yang mengatakan saling membunuh saudaranya. Itu bukan syahid," lanjutnya.