Ketika Dampak Menjadi Mantra Baru

Kamis 23-04-2026,07:31 WIB
Oleh: Prof Dr Ahmad Sihabudin Msi

Dalam logika ini, sebuah kegiatan lebih berdampak jika viral daripada jika bermakna. Ini bukan sekadar sindiran. Ini adalah realitas baru: kebenaran semakin ditentukan oleh visibilitas.

Dan universitas, yang seharusnya menjadi benteng rasionalitas, justru ikut larut dalam arus itu.

Dampak atau Kepatuhan?

Pertanyaan yang seharusnya kita ajukan bukanlah: “Apakah kampus sudah berdampak?” Melainkan: “Dampak menurut siapa?” Karena ketika definisi dampak ditentukan sepihak oleh kekuasaan, maka yang dihasilkan bukan lagi kreativitas akademik, melainkan kepatuhan administratif.

Universitas menjadi sibuk memenuhi indikator, bukan memahami realitas. Dosen menjadi sibuk melaporkan, bukan merenungkan.

Mahasiswa menjadi sibuk menghasilkan output, bukan bertanya. Dan dalam situasi seperti ini, mungkin kita perlu mengingat sesuatu yang sederhana namun sering dilupakan:

Tidak semua yang berdampak itu penting, dan tidak semua yang penting bisa dipaksa berdampak. Namun jika ada satu dampak yang benar-benar nyata dari semua ini, maka itu adalah kesadaran kolektif, meskipun setengah sinis, bahwa universitas sedang berada di persimpangan: antara menjadi ruang kebebasan berpikir, atau sekadar menjadi instrumen kebijakan yang pandai terlihat berguna.

Dan seperti biasa, pilihan itu akan ditentukan… bukan oleh mereka yang berpikir paling dalam, tetapi oleh mereka yang paling mampu menyusun laporan dampak tepat waktu.

By Prof Dr Ahmad Sihabudin M.Si- Guru Besar Komunikasi Lintas Budaya FISIP Untirta

 

 
Kategori :